BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan di bidang kesehatan dapat dipengaruhi oleh peranserta
masyarakat serta tokoh masyarakat termasuk kader posyandu yang merupakan ujung
tombak dalam pelaksanaan program kesehatan. Salah satu persyaratan umum yang
dapat dipertimbangkan kader
yaitu harus dapat baca, tulis, berbahasa Indonesia dan secara fisik dapat
melaksanakan tugas-tugasnya di posyandu serta sanggup bekerja dengan sukarela
dan mendapat kepercayaan dari masyarakat.
Peran kader pada hari buka posyandu sangat besar
karena lancar tidaknya kegiatan posyandu ditentukan oleh sejauhmana kemampuan
dan peranserta kader untuk melaksanakan fungsinya serta membangun kerjasama
yang baik sesama kader, maupun terhadap
pembina dan kelompok sasaran posyandu yakni bayi, balita, ibu hamil dan
pasangan usia subur.
Mengingat begitu strategisnya keberadaan kader
posyandu maka untuk lebih mengoptimalkan dalam pemberian pelayanan, pemerintah
telah memprogramkan pelatihan kader posyandu
untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader (Bapenas 2009).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi
Sulawesi Selatan pada tahun 2008 jumlah posyandu sebanyak 8.717 yang tersebar
di 23 kabupaten/kota dengan jumlah kader sebanyak 40.092.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Makassar
tahun 2008 jumlah posyandu sebanyak 906 dengan jumlah kader 4.079.
Data dari Puskesmas
Tamamaung tahun 2011 jumlah posyandu 24 dari 3 kelurahan terdiri dari kelurahan
tamamaung, pandang, dan massale. Dengan jumlah kader sebanyak 449 orang, yang
terdiri dari 124 kader posy, 116 kader aktif dan 109 kader terlatih.
Kader posyandu merupakan kelompok yang paling sering
berintereaksi dengan masyarakat sehingga mempunyai kedudukan yang sangat
strategis dan sarana yang efektif dalam mengkomunikasikan
pesan-pesan yang berhubungan dengan masalah kesehatan baik di posyandu maupun
di lingkungan sekitarnya, untuk itu diperlukan pengetahuan dan sikap.
Berdasarkan
hal tersebut diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan antara pengetahuan
dan sikap dengan peran serta kader posyandu di wilayah Puskesmas Tamamaung Kota Makassar”.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian dan latar belakang tersebut diatas maka dapat dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut:
“Adakah hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan peran serta kader posyandu di
wilayah Puskesmas Tamamaung Kota Makassar”.
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Untuk
mengetahui hubungan antara pengetahuan dan Sikap dengan peran
serta kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Tamamaung tahun 2012.
2.
Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan peran serta kader posyandu.
b. Untuk
mengetahui hubungan antara sikap dengan
peran serta kader posyandu.
D. Manfaat Penelitian
1.
Bagi
instansi penelitian
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi Puskesmas sebagai
dasar pelaksanaan pembinaan kader Posyandu agar dalam memberikan pelatihan pada
kader lebih terarah dan berkualitas.
2.
Bagi
institusi pendidikan
Memberikan informasi mengenai hasil penelitian yang dilakukan
dan sebagai gambaran untuk pendidikan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panakkukang
Makassar.
3.
Bagi
peneliti
Untuk
memperoleh informasi ilmiah dan menambah pengetahuan peneliti tentang peran serta kader posyandu dalam pemberian pelayanan di posyandu
dan untuk memperoleh gelar sarjana keperawatan (S. Kep.).
Diharapkan
bisa menjadi bahan acuan atau referensi untuk penelitian selanjutnya.
Merupakan
pengalaman berharga bagi peneliti utamanya dalam memperluas wawasan dan
menambah pengetahuan khususnya mengenai peran serta kader dalam memberikan
pelayanan kesehatan di posyandu.
4.
Bagi Kader Posyandu
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan
dan evalusi dalam operasional kegiatan posyadu terkait pelayanan yang diberikan
oleh kader posyandu khususnya terkait
bagaimana sikap dalam memberikan pelayanan kesehatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum tentang Peranserta
Kader
Secara
umum istilah kader kesehatan atau kader posyandu adalah tenaga yang berasal
dari masyarakat, dipilih oleh masyarakat itu sendiri dan bekerja secara
sukarela untuk menjadi penyelenggara posyandu.
L.A
Gunawan memberikan batasan tentang kader kesehatan: “kader kesehatan dinamakan
juga sebagai promotor kesehatan Desa (promkes) adalah tenaga sukarela yang
dipilih oleh dan dari masyarakat yang bertugas untuk mengembangkan masyarakat”
(R.Falen dan R.Budi Dwi, 2010:43).
Kader
kesehatan dinamakan juga promotor kesehatan Desa (prokes) adalah tenaga
sukarela yang dipilih oleh dari masyarakat dan bertugas mengembangkan
masyarakat.
Direktorat
Bina Peran Serta Masyarakat Depkes RI memberikan batasan kader: “Kader adalah
warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat
bekerja secara sukarela”.
Kader
kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat
dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun
masyarakat, serta bekerja di tempat yang dekat dengan pemberian pelayanan
kesehatan. (Syafrudin, dan Hamidah, 2006)
Kader posyandu adalah
laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani
masalah-masalah kesehatan perorangan
maupun masyarakat serta untuk bekerja
dalam hubungan yang amat
dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2007).
Kader kesehatan atau
yang lebih umum disebut sebagai kader posyandu merupakan pembawa misi
pembangunan kesehatan ditingkat paling bawah. Kader ini adalah
kepanjangan tangan dari puskesmas atau Dinas Kesehatan kepada
masyarakat di wilayah kerjanya. Tenaga sukarelawan ini berasal dari masyarakat
yang peduli terhadap kesehatan warga sekitarnya. Sampai saat ini kader
kesehatan terkadang menjadi sumber rujukan bagi penanganan berbagai
masalah kesehatan dimasyarakat. (Depkes RI. 2000).
Peran serta kader
dalam penyelenggaraan posyandu
dengan pola lima
(5) meja (wahid iqbal M, 2009:54) adalah sebagai berikut:
1. Meja 1: Pendaftaran
Melakukan pendaftaran bayi, balita,
ibu hamil dan ibu usia subur yang hadir di Posyandu.
2. Meja 2: Penimbangan bayi dan balita
Melakukan penimbangan bayi dan balita kemudian mencatat hasil
penimbangan pada
secarik kertas.
3.
Meja 3: Pengisian Kartu menuju Sehat (KMS)
Memindahkan catatan hasil penimbangan bayi dari secarik kertas ke
dalam KMS.
4.
Meja
4: Penyuluhan perorangan
a.
Mengenai balita berdasarkan
penimbangan, berat badan yang naik atau tidak naik, diikuti dengan pemberian
makan tambahan, oralit dan vitamin dosis tinggi.
b.
Ibu hamil yang resiko tingi,
diikuti dengan pemberian zat gizi.
c.
Perempuan Usia Subur (PUS)
diminta untuk menjadi peserta Keluarga Berencana (KB) lestari, diikuti dengan
pemberian kondom, pil ulangan atau tablet busa
5. Meja 5: Pelayanan tenaga profesional
Pelayanan
sektor yang biasanya dilakukan oleh petugas kesehatan yang diantaranya dokter,
bidan, perawat, juru imunisasi dan sebagainya. Pelayanan yang diberikan meliputi
pemberian imunisasi, pil tambah darah, vitamin A dan obat-obatan lainnya,
pemeriksaan kesehatan dan pengobatan serta pelayanan kontrasepsi (Mubarak Ikbal Wahid, 2009:54).
Peran
lain kader diluar posyandu, yakni:
1.
Merencanakan kegiatan antara
lain: menyiapkan dan melaksanakan survei
mawas diri, membahas hasil survei, menentukan masalah dan kebutuhan masyarakat,
menentukan kegiatan penanggulangan masalah kegiatan bersama masyarakat membahas
pembagian tugas menurut jadwal kerja.
2.
Melakukan komunikasi, informasi
dan motivasi, alat peraga dan percontohan.
3.
Menggerakkan dan mendorong
masyarakat untuk gotong royong. Memberikan informasi mengenai kegiatan yang
akan dilaksanakan.
4.
Melakukan pencatatan yaitu KB
atau jumlah Perempuan Usia Subur (PUS), Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Imunisasi
dan gizi.
Tugas kader
setelah hari buka posyandu.
1.
Memindahkan catatan dalam KMS
ke dalam buku register atau buku bantu kader
- Mengevaluasi hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan dari posyandu yang akan datang.
- Melaksanakan penyuluhan kelompok (kelompok dasa wisma)
- Melakukan kunjungan rumah (penyuluhan perorangan) bagi sasaran posyandu yng bermasalah antara lain :
1.
Tidak berkunjung ke posyandu
karena sakit
2. Berat badan balita tetap Selama 2 bulan berturut turut
3. Tidak melaksanakan KB padahal sangat perlu
4. Anggota keluarga sering terkena penyakit menular
(Dinkes jawa timur, 2005).
Hal-hal yang boleh dilakukan kader dalam deteksi dini
tumbuh kembang anak / balita antara lain :
1.
Penimbangan berat badan
- Pengukuran tinggi badan
- Pengukuran lingkar kepala
- Pengukuran lingkar lengan
Adapun 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat
dikerjakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya dan tidak
boleh dilakukan kader, antara lain :
- Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui atau menemukan status gizi kurang atau buruk dan mikrosefali
- Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya dengar
- Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (Depkes RI, 2007).
B.
Tinjauan Umum tentang Pengetahuan Kader
Pengetahuan
merupakan hasil dari ‘’tahu‘’ dan hal ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan
terjadi melalui pancaindra
manusia, yakni indrea penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga
(S. Notoatmodjo, 2007:143)
Pengetahuan
adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek
melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan
sendirinya pada waktu pengindraan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut
sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. (Notoatmodjo, 2010:27).
Pengetahuan
adalah semua aktifitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan
dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memecahkan masalah dan merencanakan masa depan, atau semua
proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari,
mempehatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan
lingkungannya (Desmita, 2008).
Pengetahuan adalah satu konsep umum yang mencakup
semua bentuk pengenalan, termasuk didalamnya ialah mengamati, melihat,
memperhatikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, berpikir,
mempertimbangkan, menduga dan menilai (Kartini
K, 2008).
Pengetahuan
di peroleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Seorang anak
memperoleh pengetahuan bahwa api itu panas setelah memperoleh pengalaman,
tangan atau kakinya terkena api. Seorang ibu akan mengimunisasi anaknya setelah
melihat anak tetangganya kena penyakit polio sehingga cacat, karena anak
tetangganya tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio (S. Notoatmojdo,
2010:79).
Pengetahuan
kader tentang kesehatan khususnya pelayanan posyandu akan mempengaruhi perilaku
kader untuk berperan serta dan lebih tanggap untuk setiap permasalahan kesehatan yang terjadi.
Menurut
Poedjawijatna, pengetahuan merupakan tahap awal bagi seseorang untuk berbuat
sesuatu. Karena itu kalau dilihat manusia sebagai individu maka unsur yang
diperlukan agar ia dapat berbuat sesuatu adalah :
1.
Pengetahuan tentang apa yang
dilakukan
2.
Keyakinan atau kepercayaan
tentang manfaat dan kebenaran dari apa yang dilakukannya
3.
Saran yang diperlukan untuk
melakukan
4.
Dorongan atau motifasi untuk
berbuat yang dilandasi oleh kebutuhan yang dirasakan
Pengetahuan
merupakan tahap awal untuk seseorang berbuat sesuatu dan pengetahuan tentang
apa yang dilakukan untuk membuat seseorang mengetahui langkah selanjutnya yang harus diperbuat, seperti halnya seorang kader
posyandu yang harus mengetahui tugas yang diembannya sehingga dapat memberikan
pelayanan maksimal kepada masyarakat dalam mengelolah posyandu.
Pengetahuan
kesehatan akan berpengaruh sebagai hasil jangka menengah (intermidiat impact)
dari pendidikan kesehatan. (Notoatmodjo, 2007)
Menurut Soekidjo
Notoatmodjo, pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif
mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
1.
Tahu (know)
Tahu
diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari
seluruh bahan yang dipelajari atau ransangan yang diterima. Oleh karena itu,
tahu merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa
orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,
mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya
2.
Memahami (comprehension)
Memahami
diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek
yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek
yang dipelajari. (Soekidjo Notoatmodjo, 2007:145).
3.
Aplikasi (Application)
Aplikasi
diartikan apabila orang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan
atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.
Misalnya seseorang yang telah paham tentang proses perencanaan, ia harus dapat
membuat perencanaan, program kesehatan ditempat ia bekerja atau dimana saja,
orang yang telah paham metodologi penelitian, ia akan mudah membuat proposal
penelitian dimana saja, dan seterunya (S. Notoatmodjo, 2010:28).
4.
Analisis (analysis)
Analisa
adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam
komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan masih ada
kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilahat dari penggunaan
kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan,
memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5.
Sintesis (synthesis)
Sintesis
menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruahan yang baru, dengan kata lain
sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada. (Soekidjo Notoatmodjo, 2007:145).
6.
Evaluasi (evaluation)
Evaluasi
berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada
suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku
dimasyarakat. Misalanya seorang ibu dapat menilai atau menentukan seorang anak
menderita malnutrisi atau tidak, seorang dapat menilai manfaat ikut keluarga
berencana bagi keluarga, dan sebagainya. (Soekidjo
Notoatmodjo, 2010:28).
Peran
serta kader adalah mendidik masyarakat desa melalui penyuluhan, hal tersebut
menunjukkan bahwa kader mempunyai pengetahuan diatas rata-rata masyarakat
lainnya. Penyuluhan yang diberikan diharapkan sebagai sarana yang efektif untuk
meningkatkan pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat yang diharapkan akan
terjadinya peningkatan status kesehatan. Adapun tujuan yang diharapkan adalah:
1.
Mempunyai peran penting dalam meningkatkan
jumlah kunjungan di Posyandu.
2.
Agar masyarakat dapat
mengetahui cara hidup sehat. (www.unilever.com,2008)
C.
Tujuan Umum Tentang Sikap
Menurut
American Heritage Dictionary (AHD), sikap adalah cara berpikir atau merasakan
dalam kaitanya dengan sejumlah persoalan. Sedangkan menurut Myers (1996) dan
sarwono S. W. (2002), domain dari sikap
adalah Affective (perasaan), Behavior (Perilaku), dan cognitive (kesadaran)
yang disingkat menjadi ABC. Karena ketiga domain tersebut sangat erat kaitnya,
maka jika seseorang diketahui kognisinya, akan ketahuan juga kecendrungan
perilakunya (Sumijatun, 2011:39).
Secara
hangistoris, istilah sikap (attitude) digunakan pertama kali oleh Herbert
Spencer ditahun 1862 yang pada saat itu di artikan olehnya sebagai
status mental seseorang, di masa-masa awal itupulah penggunaan konsep sikap
sering dikaitkan dengan mengenai postur fisik atau posisi tubuh seseorang
(saifuddin Azwar, 2011:3).
Sikap
(attitude) adalah istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak senang atau
perasaan biasa-biasa saja (netral) dari seseorang terhadap sesuatu. “sesuatu”
itu bisa benda, kejadian , situasi, orang-orang atau kelompok. Kalau yang
timbul terhadap sesuatu itu adalah perasaan senang, maka disebut sikap positif,
sedangkan kalau perasaan tak senang, sikap negative. Kalau tidak timbul
perasaan apa-apa, berarti sikapnya netral (Sarlito W. Sarwono, 2012:201).
Menurut
Harrell Keith (2007), sikap terbentuk karena nilai orang akan mencondong pada
apa yang mereka pedulikan atau apa yang disukainya. Nilai membantu mengarahkan
tingkah laku dan memberikan dasar pada tindakan. Pembentukan sikap yang paling
efektif adalah melalui pengalaman sendiri, sebagai contoh, perawat di ruangan
anak yang selalu berbicara lembut menggunakan bahasa sederhana serta penuh
kasih sayang pada anak-anak, sehingga pada akhirnya perilaku ini akan terpupuk
dan membentuk sikap perawat yang disenangi kliennya (Sumijatun, 2011:40).
Sikap
merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu
stimulant atau objek. Setiap tindakan selalu diawali oleh proses yang cukup
kompleks. Sebagai titik awal penerimaan suatu stimulus, sementara dalam
individu terjadi dinamika berbagai psikofisik seperti kebutuhan, perasaan,
perhatian, dan pengambilan keputusan (Soekidjo Notoatmojdo, 2007:146).
Pengukuran
sikap menurut beberapa ahli, sikap dapat di ukur dengan menggunakan suatu alat yang dinamakan skala sikap
diantara banyak skala sikap yang dikenal, ada dua skala sikap yang cukup banyak
digunakan, yaitu skala sikap dari R. Likert (1932) dan L. L. Thurstone (1934).
Bentuk kedua skala itu hampir serupa, hanya proses pembuatan yang berbeda. Jika
pada pembuatan skala Likert, daftar rencana pernyataan-pernyataan yang akan di
jadikan pengukur di ujikan dahulu kepada sejumlah responden (orang percobaan)
yang cirri-cirinya mirip dengan sampel yang akan diselidiki (kalau responden dalam
penelitian nantinya adalah remaja, uji coba juga terhadap remaja), pada
pembuatan skala Thurstone rencana pernyaataan-pernyataan itu di ujikan kepada
sejumlah pakar yang mengetahui betul permasalahan yang sedang diselidiki (uji
coba kepada pakar remaja) (Salito W. Sarwon0, 2012:207).
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Secara langsung dapat dilakukan dengan menanyakan pendapat atau pertanyaan
seseorang/ responden terhadap suatu obyek, sedangkan secara tidak
langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan hipotesis kemudian
ditanyakan pendapat responden (http://tugas2kuliah.wordpress.com/2011/11/29).
Dari bermacam-macam pendapat tersebut
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa sikap itu merupakan pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau
situasi yang relatif, yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan
dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon dalam cara yang tertentu yang
dipilihnya.
Komponen pokok sikap menurut Alport (1954) sikap
itu terdiri dari 3 komponen pokok:
1. kepercayaan atau keyakinan, ide, dan
konsep terhadap objek, artinya bagaimana keyakinan, pendapat atau pemikiran
seseorang terhadap objek, sikap orang terhadap penyakit kusta misalnya,
berati bagaimana pendapat atau keyakinan orang tersebut terhadap penyakit
kusta.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi oarang
terhadap objek. Artinya bagaimana penilaian (terkandung didalamnya faktor
emosi) orang tersebut terhadap objek. Seperti contoh butir a berarti bagaimana
orang menilai terhadap penyakit kusta, apakah penyakit yang biasa saja atau
membahayakan.
3. Kecendrungan untuk bertindak (tend to
behave), artinya sikap adalah merupakan komponen yang mendahului tindakan atau
prilaku terbuka. Sikap adalah merupakan ancang-ancang untuk bertindak atau
perilaku terbuka (tindakan). Misalnya tentang contoh sikap terhadap penyakit
kusta diatas, adalah apa yang dilakukan seseorang bila dia menderita penyakit
kusta (S. Notoatmodjo, 2010:30)
Menurut
( Notoatmodjo. S, 2010:30 ) sikap
terdiri dari berbagai tingkatan yakni :
a. Menerima (receiving)
Menerima
diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus
yang diberikan (objek).
b. Merespon (responding)
Memberikan
jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang
diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk
menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang di berikan, terlepas dari
pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti bahwa orang menerima ide
tersebut.
c.
Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk
mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap
tingkat
tiga.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab
atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap
yang paling tinggi.
Menurut
( Azwar S, 2011: 23 ) dalam struktur sikap terdiri atas tiga komponen
yang saling menunjang yaitu :
a.
Komponen
kognitif yaitu komponen yang berisi kepercayaan seseorang mengenai
apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap.
b.
Komponen Afektif
Secara umum,
komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun pengertian perasaan pribadi
seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap.
c.
Komponen
Konatif
Komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana bersikap atau
kecenderungan bersikap yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek
sikap yang dihadapinya. Pengertian kecenderungan bersikap menunjukkan bahwa
komponen konatif meliputi bentuk sikap yang tidak hanya dapat dilihat secara
langsung saja, akan tetapi meliputi pula bentuk-bentuk sikap yang berupa
pernyataan atau perkataan yang diucapkan oleh seseorang.
Menurut
( Sarlito W. Sarwono, 2012: 203) ciri-ciri sikap itu terdiri dari:
a.
Sikap bukan bakat atau dibawa
sejak lahir melainkan dipelajari dan dibentuk melalui pengalaman-penglaman.
Sifat ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenetis seperti lapar,
haus, kebutuhan akan istirahat.
b.
Sikap dipelajari, maka sikap dapat
berubah-ubah sesuai dengan keadaan lingkungan individu yang bersangkutan pada
saat-saat dan tempat yang berbeda-beda. Dalam sikap tersangkut juga factor
motifasi dan perasaan.
c. Sikap tidak hanya berdiri satu macam saja, melainkan bermacam-macam,
sesuai dengan banyaknya objek yang dapat menjadi perhatian orang yang
bersangkutan.
Menurut
Eagly dan Chaiken (1993) dalam sarwono S.W. (2002), sebagian besar pakar
psikologi sosial berpendapat bahwa sikap terbentuk dari pengalaman melalui
proses belajar. Pandangan tersebut mempunyai dampak terapan, yaitu menyusun
berbagai upaya seperti adanya penyuluhan, pendidikan, pelatihan, komunikasi
(Sumijatun, 2011:40).
Menurut
( Azwar.
S, 2011:30 )
faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi,
kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau
lembaga pendidikan dan lembaga agama serta faktor emosi dalam diri individu. Berikut ini akan diuraikan peranan masing-masing faktor
dalam membentuk sikap manusia.
a.
Apa
yang telah dan sedang dialami seseorang ikut membentuk dan mempengaruhi
penghayatan seseorang terhadap stimulus. Tanggapan akan menjadi salah satu
dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan,
seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis.
b.
Pengaruh
orang lain yang dianggap penting.
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu komponen yang ikut
mempengaruhi sikap. Pada umumnya individu cenderung memiliki sikap yang
konformis atau searah dengan sikap yang dianggap penting. Kecenderungan ini
antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk menghindari konflik dengan orang
yang dianggap penting tersebut.
c.
Pengaruh
kebudayaan
Kebudayaan dimana seseorang hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan sikap seseorang.
d.
Media Massa
Media massa sebagai sarana komunikasi yang berupa televisi, radio, surat
kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan
kepercayaan dan opini seseorang. Dalam penyampaian
informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pesan-pesan yang berisi
sugesti dan tugas yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru
mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap
terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi
tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu
hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
e.
Lembaga pendidikan dan agama
Lembaga pendidikan
serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan
sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam
diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang
boleh dan yang tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari pusat
keagamaan serta ajaran-ajarannya.
f.
Pengaruh faktor emosional
Tidak semua bentuk
sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang,
kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi
yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara
dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula
merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama.
Menurut
(Sarlito W. Sarwono, 2012:203) sikap dapat berbentuk atau berubah melalui empat
macam cara:
a.
Adopsi yaitu kejadian-kejadian
atau peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus menerus, lama
kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri individu dan mempengaruhi
terbentuknya suatu sikap.
b.
Diferensiasi yaitu dengan
berkembangnya integensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan bertambahnya
usia, maka ada hal-hal yang tadinya di anggap sejenis, sekarang dipandang
tersendiri dipandang dari sejenisnya.
c.
Integrasi yaitu pembentukan
sikap disini terjadi secara bertahap melalui dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan suatu hal tertentu
sehingga akhirnya terbentuk sikap mengenai hal tersebut.
d.
Trauma yaitu pengalaman yang
tiba-tiba, mengejutkan, yang meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang
bersangkutan. Pengalaman yang traumatis dapat juga menyebabkan terbentuknya
sikap.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi terbentuknya sikap menurut (Sarlito W. Sarwono, 2012:205)
antara lain:
a.
Faktor internal (factor dalam)
yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri orang yang bersangkutan, seperti
factor pilihan. Kita tidak dapat menangkap seluruh rangsangan dari luar melalui
persepsi kita, oleh karena itu kita harus memilih rangsangan-rangsangan mana
yang kita dekati dan mana yang harus di jauhi.
b.
Faktor
eksteren (Faktor luar) selain faktor-faktor yang terdapat dalam diri sendiri,
maka pembentukan sikap ditentukan pula oleh faktor-faktor yang berada di luar,
yaitu :
1.
Sifat
objek, sikap itu sendiri, bagus, atau jelek dan sebagainya.
2.
Kewibawaan
: orang yang mengemukakan suatu sikap: gambar presiden sedang mengimunisasi
bayi di pasang besar-besar di berbagai tempat yang strategis agar masyarakat
terdorong untuk mengimunisasi anak-anak Balita mereka.
3.
Sifat
orang-orang atau kelompok yang mendukung sikap tersebut. Islam versi
Muhammadiyah dan nahdatul Ulama, dengan banyak program sosial, pendidikan,
terbukti telah menarik sejutaan umat sejak berdirinya pada awal abad ke-20,
sampai hari ini.
4.
Media
komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan sikap: di era teknologi sekarang,
penggunaan multimedia sangat lebih efektif, ketimbang hanya menggunakan
media-media tradisional, apalagi hanya dari mulut ke mulut.
5.
Situasi
pada saat sikap itu dibentuk: ketika indonesia sedang dilanda krisis hampir
semua pendukung Gus Dur untuk menjadi presiden, tetapi Gus Dur justru
menimbulkan makin banyak krisis, maka orang pun lebih memilih orang lain untuk
jadi presiden.
Perubahan sikap dapat terbagi menjadi dua bagian antara
lain :
a.
Perubahan
sikap yang secara tidak langsung atau tidak sengaja diberikan, yaitu dengan
memberikan situasi yang memungkinkan dapat mengubah atau membentuk sikap yang
baru yang memungkinkan dapat menimbulkan perubahan atau pembentukan sikap yang
dikehendaki.
b.
Perubahan
Sikap yang langsung
Hubungan secara
langsung ini dapat dengan sengaja diberikan, misal adanya komunikator yang
dengan sengaja memberikan sesuatu dengan tujuan untuk membentuk atau mengubah
sesuatu sikap tertentu, dalam arti adanya hubungan yang langsung antara
komunikator, yang ingin mengubah atau membentuk sikap dengan komunikan, ingin
menjadi sasaran yang ingin diubah atau dibentuk sikapnya (http://tugas2kuliah.wordpress.com/2011/11/29).
Menurut
( Azwar S, 2011: 87 ) salah satu aspek yang sangat penting guna memahami sikap
manusia adalah masalah pengungkapan (assessment) atau pengukuran (measurement)
sikap. Oleh karena itu,
masalah pengukuran sikap akan mendapatkan perhatian khusus dalam pembahasan.
Sikap merupakan respon evaluatif yang dapat berbentuk positif maupun negatif.
Hal ini berarti bahwa dalam sikap terkandung adanya preverensi atau rasa suka
tak suka terhadap sesuatu sebagai objek sikap. (Azwar. S, 2011:87).
Pengukuran dan sikap, idealnya, harus mencakup
semua dimensi itu antara lain:
Sikap mempunyai arah, artinya sikap terpilih pada
dua arah kesetujuan yaitu apakah setuju atau tidak setuju, apakah mendukung
atau tidak mendukung, apakah memihak atau tidak memihak pada sesuatu, atau
seseorang sebagai objek.
Sikap memiliki intensitas artinya kedalaman atau
kekuatan sikap terhadap sesuatu belum
tentu sama walaupun arahnya mungkin tidak berbeda.
Sikap juga memiliki keluasan, maksudnya adalah
kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap suatu objek sikap dapat mengenai hanya
aspek yang sedikit dan sangat spesifik serta dapat pula mencakup banyak aspek
yang ada pada objek sikap.
Sikap juga memiliki konsistensi maksudnya adalah
kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemukakan dengan responnya terhadap
objek sikap (Azwar, S, 2011:88).
Pengungkapan sikap dalam bentuk self report
merupakan metode yang dianggap paling baik. Hal ini dilakukan dengan
menggunakan daftar pernyataan-pernyataan yang harus dijawab oleh individu dan
disebut sebagai skala sikap.
Skala sikap (attitude scale) yaitu berupa
kumpulan pernyataan-pernyataan mengenai suatu obyek sikap. Respon subyek pada
setiap pernyataan itu kemudian dapat disimpulkan mengenai arah dan intensitas
sikap seseorang. Salah satu sifat skala sikap adalah isi pernyataannya yang
dapat berupa pernyataan langsung yang jelas tujuan ukurnya bagi responden.
Walaupun responden dapat mengetahui bahwa skala tersebut bertujuan mengukur
sikap namun pernyataan tidak langsung ini biasanya tersamar dan mempunyai sifat
proyektif. Respon individu terhadap stimulus (pernyataan-pernyataan) sikap yang berupa jawaban setuju atau tidak setuju
itulah yang menjadi indikator sikap seseorang. Respon tampak yang dapat diamati
langsung dari jawaban yang diberikan seseorang merupakan bukti satu-satunya
yang kita peroleh dan itulah yang menjadi dasar untuk menyimpulkan sikap
seseorang atau sikap sekelompok orang (Azwar, S, 2011:59).
D. Kerangka Konsep dan Hipotesis
Independen Dependen
|
Pengetahuan
|
|
Sikap
|
|
Peran Serta Kader Posyandu
|
|
|
: Variabel Independen
yang diteliti
|
|
1.
Hipotesa Nol (Ho)
a. Tidak ada
hubungan antara pengetahuan dengan peran
serta kader posyandu.
b.
Tidak ada hubungan antara Sikap dengan peran serta kader posyandu.
2.
Hipotesa Alternatif (Ha)
a. Ada hubungan antara pengetahuan dengan peran serta kader posyandu.
b.
Ada hubungan antara sikap
dengan peran serta kader posyandu.
BAB III
METODE
PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan adalah desain penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan
pendekatan “Cross Sectional“. Dimana data yang menyangkut variable independen
dan dependen diteliti dalam waktu yang bersamaan kemudian diolah dan dilakukan
dengan analisis.
Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi melalui
kuesioner pada kader posyandu yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas
Tamamaung Kota Makassar. Sampelnya ditentukan berdasarkan pengambilan sampel
dengan rumus perkiraan besar sampel kemudian dilakukan analisis untuk mencari
ada tidaknya hubungan pengetahuan dan sikap
dengan peranserta kader posyandu.
B. Populasi
dan Sampel
1.
Populasi
Populasi adalah
wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya (Sugiyono, 2011:117).
Populasi merupakan Keseluruhan kelompok individu objek yang diminati peneliti (Nursalam,2008).
Populasi
merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan
diteliti. Bukan hanya objek atau subjek yang dipelajari saja tetapi seluruh
karakteristik atau sifat yang dimilki subjek atau objek tersebut (A. aziz
Alimul Hidayat, 2008).
Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh kader posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tamamaung Kota Makassar.
2.
Sampel
Sampel adalah
bagian populasi yang akan diteliti atau sebagaian dari sejumlah karakteristik
yang dimiliki populasi. Dalam penelitian
keperawatan, criteria sampel merupakan criteria inklusi dan kriteria ekslusi,
dimana criteria itu menentukan dapat atau tidaknya sampel tersebut digunakan.
(A. aziz Alimul Hidayat, 2008).
Sample adalah bagian dari jumlah atau
karakteristik yang di miliki oleh populasi tersebut. (Sugiyono, 2011:118).
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan
obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2007).
Pada penelitian ini pengambilan sampel yang diambil dengan cara Random
Sampling. Dengan menggunakan rumus sampel : (Nursalam, 2008).
Keterangan :
n
: Besar sampel
N : Besar populasi
d : Tingkat kepercayaan/ketepatan yang
diinginkan
jadi jumlah sampel yang diambil dalam
penelitian ini adalah:
Pada penelitian ini jumlah
sampel yang diambil adalah 187 sampel, dimana sampel yang digunakan adalah
semua Kader posyandu yang aktif di wilayah Puskesmas Tamamaung Kecamatan
Panakukkang Makassar.
Sehingga
berdasarkan rumus tersebut maka jumlah
sampel yang akan diambil dari populasi adalah 187 orang. Namun tidak menutup
kemungkinan jumlah sampel tersebut akan berkurang sehubungan dengan kriteria
sampel yang diajukan oleh penulis. Adapun kriteria sampel yang dimaksud adalah:
a.
Kriteria inklusi
Kriteria inklusi
merupakan criteria dimana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang
memenuhi syarat sebagai sampel.
Pada
penelitian ini kriteria inklusinya adalah sebagai berikut :
1)
Kader aktif yang
mengikuti kegiatan lebih dari 8 kali dalam satu tahun.
2)
Bersedia diteliti dan
menandatangani inform concent.
b.
Kriteria eksklusi
Kriteria
eksklusi merupakan kriterian dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili
sample karena tidak memenuhi syarat sebagai sample penelitian yang menyebabkan
adalah hambatan etis, menolak menjadi responden atau berada pada suatu keadaan
yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian.
Kriteria Eksklusi adalah
karakteristik sampel yang tidak dapat dimasukkan atau layak untuk diteliti
yaitu :
1)
Kader Posyandu yang
tidak aktif.
2)
Tidak bersedia diteliti
C. Identifikasi Variabel
dan Definisi Operasional
1.
Identifikasi variabel
a.
Variabel Independen
Variabel
Independen ini merupakan variable yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya
variable dependen (tekait) (A. aziz Alimul H, 2008).
Variabel independen dalam
penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap.
b.
Variabel dependen
Variabel
dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel
bebas (Alimul, 2009).
Variabel dependen dalam penelitian ini
adalah peran serta kader.
2.
Definisi Operasional Variabel
a.
Peranserta
Yang dimaksud
peranserta dalam penelitian ini meliputi penimbangan, penyuluhan, pencatatan
laporan dan kegiatan lain selain di posyandu.
Kriteria objektif:
Baik : bila menjawab pertanyaan ≥ 5
Kurang : bila menjawab pertanyaan < 5
b.
Pengetahuan
Yang dimaksud
pengetahuan dalam penelitian ini adalah
pengetahuan kader tentang kegiatan, sasaran dan sistem penyelenggaraan
posyandu.
Kriteria objektif:
Tinggi : bila menjawab pertanyaan ≥ 5
Rendah : bila menjawab pertanyaan < 5
c.
Sikap
Yang dimaksud sikap
dalam penelitian ini adalah sikap dan tingkah laku kader dalam pelayanan di
posyandu.
Kriteria objektif:
Tinggi : bila menjawab pertanyaan ≥ 5
Rendah : bila menjawab pertanyaan < 5
D. Lokasi dan Waktu
Penelitian
Penelitian rencana
dilaksanakan di Puskesmas Tamamaung Kecamatan Panakukkang Makassar.
E. Instrumen Pengumpulan Data
Untuk
mendapatkan data atau informasi yang diinginkan,
instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner yang dibagikan kepada kader posyandu yang menjadi sampel dan sesuai dengan
kriteria yang ditentukan peneliti.
F. Pengolahan dan Analisa Data
1.
Pengolahan
data
a.
Penyuntingan data (editing)
Setelah
data terkumpul peneliti akan mengadakan seleksi dan editing yakni memeriksa sesuai dengan karakteristiknya dan
keseragaman data dari hasil kuesioner.
b.
Pengkodean (coding)
Untuk
memudahkan pengolahan data maka semua jawaban atau data diberi kode.
c.
Tabulasi (tabulation)
Mengelompokkan
data dalam bentuk tabel untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan
independen..
2. Analisa
Data
Analisa
data dimaksudkan untuk menilai masing-masing variabel dengan menggunakan
program komputer SPSS 15.0 for Windows
untuk uji statistik. Analisis hubungan variabel dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a.
Analisa univariat
Analisa
univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian, analisa ini
menghasilkan distribusi dan presentasi dari tiap variabel yang diteliti.
b.
Analisa bivariat
Analisa
bivariat dilakukan untuk melihat hubungan tiap-tiap variabel independen dan
dependen. dengan menggunakan uji statistik Chi-Square
dengan tingkat kemaknaan (α) : 0,005, uji statistic yang digunakan adalah
chi-square, dengan menggunakan jasa computer program SPSS, adapun rumusan
chi-square yang digunakan adalah :
Keterangan:
X² = chi kuadrat
Fo = frekuensi yang diobservasi dalam kategori
ke- 1
Fh = frekuensi yang diharapkan dibawah Ho dalam
kategori ke- 1
∑ = jumlah
G. Masalah Etika
Dalam etika penelitian keperawatan merupakan
masalah yang sangat penting dalam penelitian, karena akan berhubungan dengan
manusia secara langsung, etika yang perlu dan harus diperhatikan ( hidayat,
2009) meliputi:
1.
Informed Consent
Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden
penelitian dengan memberikan lembar perstujuan. Informed Consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan
dengan memberian lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan Informed Consent adalah agar subjek
bersedia maka mereka akan menandatangani lembar persetujuan dan jika responden
tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak responden.
2.
Anonimity ( tanpa nama )
Anonimity merupakan masalah etika dalam
penelitian keperawatan dengan cara tidak memberikan nama responden pada lembar
atau alat ukur, hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data.
3.
Confidentiality ( kerahasiaan )
Confidentiality merupakan
masalah etika dengan menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian, baik informasi
maupun masalah-masalah lainnya, semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin
kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan
pada hasil penelitian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di
Puskesmas Tamamaung Kota Makassar pada
tanggal ….. ………………….
Desain
penelitian ini menggunakan desain penelitian “deskriptif analitik” Cross-Sectional study. Jumlah populasi …………
orang, pengambilan sampel pada
penelitian ini menggunakan tehnik purposive
sampling sehingga didapatkan sampel ……….. responden. Instrumen pengumpulan
data menggunakan kuesioner untuk mengetahui “Apakah ada hubungan pengetahuan dan
sikap dengan peranserta kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Tammaung Kota
Makassar. Data yang terkumpul
selanjutnya di editing, koding, tabulasi dan dianalisis. Kemudian ditentukan
frekuensi dan persentasenya dalam bentuk tabel dan grafik kemudian dianalisis
sesuai variabel yang telah ditentukan. Hasil pengolahan data dari penelitian
ini sebagai berikut:
1. Analisis Univariat Variabel
Penelitian
a. Pengetahuan
Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Kader Posyandu di Wilayah Kerja
Puskesmas Karuwisi Kota Makassar
|
Pengetahuan
|
Frekuensi
|
Persentase %
|
|
Tinggi
|
74
|
87,1
|
|
Rendah
|
11
|
12,9
|
|
Jumlah
|
85
|
100
|
Sumber: Data Primer
Diagram 4.1
Distribusi
Responden Berdasarkan Pengetahuan Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas
Karuwisi Kota Makassar
Pada tabel dan diagram 4.1 menunjukkan
bahwa dari 85 responden yang terbanyak adalah responden yang mempunyai
pengetahuan tinggi yaitu 74 orang (87,1%) sedangkan responden yang mempunyai
pengetahuan rendah sebanyak 11 orang (12,9%).
b. Pendidikan
Tabel 4.2
Distribusi Responden
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas
Karuwisi Kota Makassar
|
Pendidikan
|
Jumlah
|
Persentase (%)
|
|
|
Tinggi
|
47
|
55,3
|
|
|
Rendah
|
38
|
44,7
|
|
|
85
|
100
|
Diagram 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kader Posyandu di
Wilayah Kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar
Pada tabel dan diagram 4.2 menunjukkan
bahwa dari 85 responden terdapat 47 orang (55,3%) yang mempunyai tingkat
pendidikan tinggi dan 38 orang (44,7%) yang mempunyai tingkat pendidikan
rendah.
2. Analisis Bivariat Hubungan
Variabel
a. Analisis hubungan tingkat
pengetahuan dengan peranserta kader posyandu
Tabel 4.3
Hubungan antara Tingkat
Pengetahuan dengan Peranserta
Kader
Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar
|
Pengetahuan
|
Peranserta
|
Jumlah
|
||||
|
Baik
|
Kurang
|
|||||
|
n
|
%
|
n
|
%
|
N
|
%
|
|
|
Tinggi
|
70
|
82,4
|
4
|
4,7
|
74
|
87.1
|
|
Rendah
|
7
|
8,2
|
4
|
4,7
|
11
|
12,9
|
|
Jumlah
|
77
|
90,6
|
8
|
9,4
|
85
|
100
|
Sumber: Data Primer
Pada tabel
4.3
menunjukkan bahwa dari 85 responden yang memiliki pengetahuan tinggi dan mempunyai peranserta baik sebanyak 70 orang (82,4%), sedangkan yang memiliki pengetahuan rendah mempunyai peranserta kurang sebanyak 4 orang (4,7%).
Hasil Analisis statistik dengan uji Chi-Square
menunjukkan bahwa nilai P=0,001
dan nilai α=0,05
yang berarti P < α
dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan antara pengetahuan dengan peran serta kader posyandu.
b. Analisis hubungan tingkat
pendidikan dengan peranserta kader posyandu
Tabel 4.4
Hubungan antara
Tingkat Pendidikan dengan
Peranserta Kader
Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar
|
Pendidikan
|
Peranserta
|
Jumlah
|
||||
|
Baik
|
Kurang
|
|||||
|
n
|
%
|
N
|
%
|
n
|
%
|
|
|
Tinggi
|
41
|
48,2
|
6
|
7,1
|
47
|
55,3
|
|
Rendah
|
36
|
42,4
|
2
|
2,4
|
38
|
44,7
|
|
Jumlah
|
77
|
90,6
|
8
|
9,4
|
85
|
100
|
Sumber: Data Primer
Pada tabel
4.4
menunjukkan bahwa dari 85 responden yang memiliki pendidikan tinggi dengan peranserta baik sebanyak 41 orang (48,2%) sedangkan yang memiliki pendidikan rendah dengan peranserta baik sebanyak 36 responden (42,4%).
Hasil Analisis statistik dengan uji Chi-Square
menunjukkan bahwa nilai P=0,239
dan nilai α=0,05
yang berarti P > α
dengan demikian Ho diterima
dan Ha ditolak
berarti tidak ada
hubungan antara tingkat pendidikan
dengan peran serta kader posyandu.
B.
Pembahasan
1. Pembahasan tentang Hubungan
antara pengetahuan dengan peranserta kader posyandu
Hasil
analisis univariat menunjukkan bahwa dari 85 responden yang terbanyak adalah responden yang mempunyai pengetahuan
tinggi yaitu 74 orang (87,1%) sedangkan responden yang mempunyai pengetahuan rendah
sebanyak 11 orang (12,9%), sehingga proporsi pengetahuan yang dimiliki oleh
kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar adalah tinggi.
Hasil
analisis bivariat menunjukkan bahwa dari 85 responden yang mempunyai
pengetahuan tinggi dengan peranserta baik sebanyak 70 orang (82,4%), responden yang mempunyai pengetahuan
tinggi dengan peranserta kurang sebanyak 4 orang (4,7%), responden yang mempunyai
tingkat pengetahuan rendah dengan peranserta baik sebanyak 7 orang (8,2%) dan
responden yang mempunyai tingkat pengetahuan rendah dengan peranserta kurang
sebanyak 4 orang (4,7%).
Dari
hasil uji statistik Chi-Square dengan menggunakan tabel 2x2
diperoleh nilai p=0,001 dengan α=0,05, berarti Ho ditolak dan Ha diterima, dengan demikian ada hubungan
antara pengetahuan dengan peranserta kader posyandu .
Hal ini didukung dari hasil penelitian
yang dilakukan oleh Siswanto (2002) di posyandu wilayah
kerja Puskesmas Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang menyatakan bahwa ada hubungan
bermakna antara pengetahuan dengan peranserta kader posyandu.
Hal ini didukung pula dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh Dolfy Achmadi (2006) di wilayah kerja Puskesmas
Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros yang menyatakan bahwa ada hubungan bermakna
antara pengetahuan dengan peranserta kader posyandu
Hasil
penelitian diatas
menunjukkan bahwa semakin tinggi pengetahuan kader posyandu semakin tinggi pula
peransertanya. Menurut asumsi
peneliti bahwa peranserta kader posyandu dipengaruhi oleh pengetahuan tentang
kesehatan khususnya pelayanan posyandu, semakin baik pengetahuan maka semakin
tinggi peransertanya di posyandu.
2. Pembahasan tentang Hubungan
antara pendidikan dengan peranserta kader posyandu.
Tingkat
pendidikan dapat memberikan pengaruh terhadap pemahaman tentang sebuah pengalaman dan rangsang yang
diberikan melalui belajar dan media lainnya dimana semakin tinggi pendidikan
seseorang, semakin tinggi pula tingkat keterampilan dalam hubungan
interpersonal serta semakin tinggi tingkat pendidikan yang dicapai seseorang,
maka besar keinginan untuk memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan.
Hasil
analisis univariat menunjukkan bahwa dari 85 responden terdapat 47 orang (55,3%) yang mempunyai tingkat
pendidikan tinggi dan 38 orang (44,7%) yang mempunyai tingkat pendidikan
rendah, sehingga proporsi tingkat pendidikan yang dimiliki oleh kader posyandu
di wilayah kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar adalah tinggi.
Hasil
analisis bivariat
menunjukkan bahwa dari 85 responden yang
mempunyai pendidikan tinggi dengan peranserta baik sebanyak 41 orang (48,2%),
kader posyandu yang mempunyai pendidikan tinggi dengan peranserta kurang
sebanyak 6 orang (7,1%), kader posyandu yang mempunyai pendidikan rendah dengan
peranserta baik sebanyak 36 orang (42,4%) dan kader posyandu yang mempunyai
pendidikan rendah dengan peranserta kurang sebanyak 2 orang (2,4%).
Dari
hasil uji statistik
dengan menggunakan tabel 2x2 yaitu uji Chi-Square
diperoleh nilai p=0,239 dengan α=0,05, dalam hal ini Ho diterima dan Ha
ditolak dengan demikian tidak ada hubungan antara pendidikan dengan peranserta
kader posyandu.
Hal
ini didukung hasil penelitian Elva Gusriyanti di wilayah kerja Puskesmas
Payakabung Kabupaten Ogan Ilir tahun 2009 yang menyatakan bahwa tidak ada
hubungan antara tingkat pendidikan dengan peranserta kader posyandu.
Hal
ini didukung pula hasil penelitian Umi Khalimah di wilayah kerja Puskesmas Sekaran Gunungpati
Semarang yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan
dengan peranserta kader posyandu.
Pada
penelitian diatas menunjukkan bahwa tingginya tingkat pendidikan tidak
berpengaruh terhadap peranserta kader posyandu walaupun tingkat pendidikan kader posyandu
rendah tetap mempunyai peranserta tinggi.
Dalam
hal ini peranserta dipengaruhi oleh kesadaran dan keinginan untuk ikut serta di dalam kegiatan sosial.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah
dilakukan di Puskesmas Tammaung Kota
Makassar mengenai hubungan antara
pengetahuan dan sikap dengan peran serta
kader posyandu, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Bahwa ada hubungan pengetahuan
dengan peranserta kader posyandu. Dan dari jumlah sample di Puskesmas Tamamaung
ditemukan …. () yang tingkat pengetahuannya masih tergolong kurang.
2. Bahwa Tidak ada hubungan antara
sikap dengan peranserta kader posyandu.
B.
Saran
1. Diharapkan kepada institusi
kesehatan khususnya Puskesmas Tammaung kota Makassar untuk meningkatkan kegiatan
pelatihan dan pembinaan kepada kader-kader posyandu terkait bagaimana proses
pelayanan kesehatan yang diterapkan di posyandu.
2. Diharapkan kepada peneliti
selanjutnya untuk meneliti lebih lanjut tentang hubungan pengetahuan dan sikap
dengan peranserta kader posyandu. Dan perlu adanya penelitian lanjut mengenai
factor lain yang berhubungan dengan peran serta kader dalam memberikan
pelayanan kesehatan diposyandu.
3. Diharapkan kepada kader posyandu
agar memperbanyak mengikuti kegiatan pelatihan dan pembinaan supaya lebih
mengoptimalkan system pelayanan kesehatan atau kegiatan di posyandu.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Saifuddin (2011). Sikap Manisia, Teori dan Pengukuranya. Ed 2, Pustaka Remaja, Yogyakarta.
-------------
(2006).
Pedoman Kerja Puskesmas, Kanwil DepKes Propinsi
Sulawesi Selatan, Makassar.
------------- (2007). Petunjuk teknis dan Modul
Pelatihan Penyuluhan Kesehatan masyarakat dan Rumah Sakit, Jakarta.
------------- (2008). Partisipasi masyarakat
dalam bidang kesehatan, Pusat penyuluhan kesehatan masyarakat, Jakarta.
Bangun, (2012). repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31612/pengertian-kader/Chapter%20II.pdf. Diakses 29 Mei 2012. Jam 22.15
DepKes RI. (2008). Modul Pelatihan Peningkatan
Peran serta masyarakat, Jakarta.
Dwi K, Budi R, Fallen R, (2010). “Catatan Kuliah”, Keperawatan Komunitas, Cetakan I, Nuha Medika,
Yogyakarta
Desmita. (2008). Psikologi
Perkembangan. Rosda, Jakarta.
Fitriyah, (2011). repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24608/hubungan-pengetahuan-dan- sikap./Chapter%20II.pdf. Diakses 29 mei 2012 jam 22. 35
Hidayat, Aziz alimul A. (2008). Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah, Edisi 2, Salemba
Medika, Jakarta.
Hadi, (2009). http://skripsi_fkm.blogspot.com./revitalisasi-Posyandu_25 html. Diakses 25 Mei 2012. Jam 08.00
Ismawati S. Cahyo, Dkk. (2010). Posyandu dan Desa Siaga, Panduan untuk
kader,dan Bidan, Cetakan I, Salemba Medika, Yogyakarta.
Kartono, Kartini. (2008). Kamus Lengkap Psikologi. Rajawali Pers, Surabaya.
Mubarak, Ikbal Wahid. dkk (2010). Ilmu Keperawatan Komunitas, Konsep dan Aplikasi. Jilid 2, Salemba Medika. Jakarta.
M. Zainal Abidin. http://masbied.com/2012/04/09/pengertian-pembinaan-menurut-psikologis.html.
Diakses 01 Juni 2012, jam 11.45
Mubarak, Ikbal Wahid. dkk (2009). Ilmu Keperawatan Komunitas, Konsep dan Aplikasi. Jilid 2, Salemba Medika. Jakarta.
Mubarak, Ikbal Wahid. (2012). Ilmu Kesehatan Masyarakat, Konsep dan Aplikasi, Salemba Medika.
Jakarta
Notoatmodjo, S. (2010). Ilmu
Perilaku Kesehatan,
Rineka Cipta, Jakarta.
Notoatmodjo, S. (2007). Ilmu
Kesehatan Masyarakat, Ilmu dan Seni, Rineka Cipta, Jakarta
Nursalam.
(2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan
Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
Nugroho (2008). jurnal.unimus.ac.id/index.php/FIKkeS/article/keaktifan-kader/221/227. PDF/Adobe Acrobat. Diakses 29
Mei 2012 jam 22.30
Puskesmas Tamamaung. (2012). Nama-nama Kader dan Jadwal Kegiatan Posyandu, Teratai, Makassar.
Rasdiyanah. (2011). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga dengan Kekambuhan pada Pasien
Stroke di RS. Khusus Daerah Propinsi Sulawesi Selatan.
Sumijatun.
(2011).
Membudayakan Etika Dalam Praktik Keperawatan, Salemba
Medika, Jakarta.
Sarwono, Sarlito W. (2012).
Pengantar Psikologi Umum, Rajawali
Pers, Jakarta.
Sugiyono, (2011). Metode
penelitian Pendidikan, kualitatif, dan kuantitas, Alvabeta, Jakarta.
http://www.google.
co.id/search/2008. Posyandu di Abad Modern
http://www.google.Posyandu
dan Revitalisasi.com/.2008.
http://www.slideshare.net/2011/11/26/pedoman-pelatihan-kader-posyandu. - Amerika
Serikat.
http://www.promosikesehatan.com/news.html
http://unilever.2008/.com
Lampiran 1
LEMBAR
PERMINTAAN MENJADI RESPONDEN
Kepada,-
Yth : …………………………..
Dengan Hormat,
Kami yang
bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan
STIKES Panakkukang Makassar, dengan:
Nama :
Zulkarnain
NIM :
08.01.050
Alamat :
Jl. Tidung Mariolo Lr. 5 Stpk. I
Akan mengadakan
penelitian dengan judul “Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap dengan
Peranserta Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Tammaung Kota Makassar”.
Penelitian ini
tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bagi ibu sebagai calon responden,
kerahasiaan semua informasi yang Ibu berikan merupakan tanggung jawab kami
untuk menjaganya. Jika Ibu bersedia ataupun menolak untuk menjadi
responden maka tidak ada ancaman bagi
Ibu ataupun keluarga. Jika selama menjadi responden Ibu merasa dirugikan maka
Ibu diperbolehkan untuk mengundurkan diri dan tidak berpartisipasi pada
penelitian ini.
Demikian surat
permintaan ini kami buat, jika Ibu telah menyetujui permintaan kami untuk
menjadi responden, maka kami sebagai peneliti sangat mengharapkan kesediaannya
untuk menandatangani lembar persetujuan untuk menjadi responden dan menjawab
segala pertanyaan yang kami berikan melalui kuesioner.
Atas perhatian
dan persetujuan dari Ibu kami mengucapkan terima kasih.
Peneliti
Zulkarnain
Lampiran 2
LEMBAR PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI
RESPONDEN
Saya yang bertanda
tangan di bawah ini menyatakan bersedia untuk turut
serta berpartisipasi dalam penelitian
yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan
STIKES Panakkukang Makassar, dengan:
Nama : Zulkarnain
Judul Penelitian :
Hubungan antara Pengetahuan
dan Sikapa denga Peranserta Kader
Posyandu di Wilayah
Kerja Puskesmas Tammaung Kota Makassar.
Saya berharap penelitian ini tidak akan mempunyai dampak negatif serta
merugikan bagi saya dan keluarga,
sehingga pertanyaan-pertanyaan yang saya jawab benar-benar dapat dirahasiakan .
Demikian lembar
persetujuan ini saya tanda tangani dan kiranya dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya.
|
|
Makassar,…………………..2012
Responden
(
)
|
Lampiran 3
KUESIONER
PENELITIAN
Petunjuk
1.
Jawablah pertanyaan dibawah ini
dengan memberikan tanda (X) pada tempat yang tersedia sesuai dengan pilihan
saudara
2.
Teliti sekali lagi agar tidak
ada pertanyaan yang terlewati atau jawaban yang salah
Hari/ Tanggal : ……………….
No. Responden : ………………. (diisi oleh petugas)
A. Identitas Umum
1.
Nama (inisial) : ……………………………………………….......
2.
Umur : ……………………………………………………
3.
Alamat : ……………………………………………………
B.
Tingkat Pendidikan
a.
SD/MI
b.
SLTP/MTs
c.
SLTA
d.
Perguruan tinggi
C. Pertanyaan Pengetahuan
1.
Kegiatan apa saja yang termasuk
dalam lima program posyandu?
a.
KIA, KB, Kesehatan usia lanjut
dan imunisasi
b.
Gizi, KIA,KB, Imunisasi dan
penanggulangan diare
c.
Gizi, Imunisasi, KB, Usila dan
kesehatan Jiwa
d.
Kesehatan usia lanjut dan
kesehatan jiwa
2.
Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan kader posyandu antara lain:
a.
Penimbangan bayi, balita dan
pencatatan hasil penimbangan
b.
Penyuluhan dan memberi rujukan
c.
Penyuluhan
d.
Semua benar
3.
Bagaimana cara/ sistem
penyelenggaraan posyandu
a.
Dilakukan dengan sistem 4 meja
b.
Dilakukan dengan sistem 2 meja
c.
Dilakukan dengan sistem 5 meja
d.
Dilakukan dengan sistem 3 meja
4.
Kegiatan apa saja yang
dilakukan di meja I
a.
Penimbangan balita
b.
Pendaftaran
c.
Pengisian KMS
d.
Penyuluhan
5.
Sasaran kegiatan/program
posyandu adalah?
a.
Ibu, bayi, balita dan gangguan
jiwa
b.
Ibu, bayi, balita dan anak
remaja
c.
Ibu, bayi, balita dan PUS
d.
Ibu, balita dan anak remaja
6.
Peran yang lain anda di luar
posyandu yakni:
a.
Melakukan pemberian imunisasi
pada bayi
b.
Melakukan pencatatan yaitu KB
atau Perempuan Usia Subur (PUS), Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), imunisasi dan
gizi
c.
Melakukan pemeriksaan kesehatan
dan pemberian obat pada pasien yang sakit
d.
Melakukan penelitian tentang
derajat kesehatan masyarakat
7.
Pemberian vitamin A dosis
tinggi dilaksanakan 2 kali setahun yakni pada bulan….
a.
Januari dan Agustus c. Februari dan Agustus
b.
Januari dan Februari d. Januari dan Desember
D. Pertanyaan Peranserta
kader
1.
Apakah anda memberitahu hari
dan jam buka posyandu pada ibu bayi/balita sebelum penyelenggaraan posyandu?
a.
Ya
b.
Tidak
2.
Apakah anda lama menjadi kader
posyandu?
a.
Ya
b.
Tidak
3.
Apakah anda melaksanakan sistem
5 meja pada kegiatan posyandu?
a.
Ya
b.
Tidak
4.
Selama menjadi kader posyandu,
apakah anda pernah tidak hadir dalam kegiatan posyandu (kecuali sakit)?
a.
Pernah
b.
Tidak pernah
5.
Bila anda mendapatkan anak
bayi/balita gizi buruk, apakah anda segera melaporkan kepada petugas kesehatan
setempat?
a.
Ya
b.
Tidak
6.
Apakah anda memberikan
penyuluhan berdasarkan hasil penimbangan berat badan bayi/balita naik dan
turun?
a.
Ya
b.
Tidak
7.
Apakah anda membuat laporan
hasil kegiatan posyandu setelah kegiatan posyandu selesai kepada petugas
kesehatan setempat?
a.
Ya
b.
Tidak
Lampiran 4
Master Tabel
Hubungan
Pengetahuan Dan Sikap Dengan Peranserta
Kader Posyandu Di Wilayah Puskesmas Tammaung Kota Makassar
|
No.
|
Initial Responden
|
Pendidikan
|
Pengetahuan
|
Peranserta
|
||||
|
1
|
HS
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
2
|
SL
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
3
|
JN
|
1
|
1
|
2
|
||||
|
4
|
HS
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
5
|
RL
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
6
|
MD
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
7
|
NH
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
8
|
KM
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
9
|
SA
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
10
|
RA
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
11
|
HJ
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
12
|
ST. A
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
13
|
DI
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
14
|
AS
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
15
|
NR
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
16
|
SK
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
17
|
RY
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
18
|
RB
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
19
|
EM
|
1
|
1
|
2
|
||||
|
20
|
DJ
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
21
|
HM
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
22
|
RM
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
23
|
NR
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
24
|
HM
|
1
|
1
|
2
|
||||
|
25
|
HJ
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
26
|
SL
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
27
|
HR
|
1
|
2
|
2
|
||||
|
28
|
SY
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
29
|
KM
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
No.
|
Initial Responden
|
Pendidikan
|
Pengetahuan
|
Peranserta
|
||||
|
30
|
RS
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
31
|
AT
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
32
|
MU
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
33
|
NL
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
34
|
EY
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
35
|
NI
|
1
|
1
|
2
|
||||
|
36
|
NB
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
37
|
RS
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
38
|
HS
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
39
|
LI
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
40
|
NR
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
41
|
MM
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
42
|
SD
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
43
|
HS
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
44
|
HR
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
45
|
RI
|
2
|
2
|
2
|
||||
|
46
|
MR
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
47
|
HN
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
48
|
RL
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
49
|
SL
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
50
|
MD
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
51
|
MN
|
1
|
2
|
2
|
||||
|
52
|
DI
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
53
|
RH
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
54
|
HA
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
55
|
DH
|
1
|
1
|
1
|
||||
|
56
|
HN
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
57
|
SR
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
58
|
MN
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
59
|
SA
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
60
|
AR
|
2
|
1
|
1
|
||||
|
No.
|
Initial Responden
|
Pendidikan
|
Pengetahuan
|
Peran serta
|
|
61
|
HS
|
2
|
1
|
1
|
|
62
|
NS
|
2
|
1
|
1
|
|
63
|
SM
|
2
|
2
|
1
|
|
64
|
JN
|
2
|
1
|
1
|
|
65
|
MN
|
1
|
1
|
1
|
|
66
|
SY
|
1
|
1
|
1
|
|
67
|
NM
|
2
|
1
|
1
|
|
68
|
BN
|
2
|
1
|
1
|
|
69
|
BU
|
2
|
1
|
1
|
|
70
|
RT
|
2
|
1
|
1
|
|
71
|
NY
|
2
|
1
|
1
|
|
72
|
EJ
|
2
|
1
|
1
|
|
73
|
KR
|
2
|
1
|
1
|
|
74
|
NA
|
2
|
1
|
1
|
|
75
|
DW
|
2
|
2
|
1
|
|
76
|
RH
|
2
|
1
|
1
|
|
77
|
TN
|
2
|
2
|
2
|
|
78
|
ER
|
2
|
2
|
2
|
|
79
|
RH
|
2
|
2
|
2
|
|
80
|
TI
|
1
|
1
|
1
|
|
81
|
KS
|
1
|
2
|
2
|
|
82
|
DH
|
2
|
2
|
2
|
|
83
|
ML
|
2
|
2
|
1
|
|
84
|
DL
|
2
|
1
|
1
|
|
85
|
UN
|
2
|
1
|
1
|
Keterangan:
Pengetahuan: Pendidikan: Peranserta:
1=Tinggi 1=
SLTA dan PT 1= Tinggi
2=Rendah 2=SD dan SLTP 2=
Rendah
Lampiran 5
Hasil Analisis SPSS 15.0 for Windows
Frequency Table
Statistics
|
|
Pengetahuan
|
Pendidikan
|
Peran Serta
|
|
|
N
|
Valid
|
85
|
85
|
85
|
|
|
Missing
|
0
|
0
|
0
|
|
Mean
|
1.13
|
1.45
|
1.09
|
|
|
Median
|
1.00
|
1.00
|
1.00
|
|
|
Mode
|
1
|
1
|
1
|
|
|
Sum
|
96
|
123
|
93
|
|
Crosstabs Pengetahuan
Crosstabs Pendidikan
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1.
IDENTITAS
Nama :
Zulkarnain
NIM :
0801050
Tempat/Tanggal Lahir :
Bima, 03 Pebruari 2012
Agama :
Islam
Suku/Bangsa :
Bima/Indonesia
Alamat :
Jl. Tidung Mariolo Lr. 5 Stpk I
2.
PENDIDIKAN
Tamat SD di SDN Inpres Lido Kecamatan Belo Kabupaten Bima
tahun 2001
Tamat SMP N 2 Ngali Belo Bima tahun 2005
Tamat SMA di MA Negeri 1 Kota Bima tahun 2008
Sementara menyelesaikan pendidikan pada program S1
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panakkukang Makassar tahun 2012-2013
Profesi ners STIKES Nani Hasanuddin Makassar