Selasa, 31 Desember 2013

askep hepatitis

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Hepatitis merupakan inflamasi dan cedera pada hepar, penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi atau oleh toksin termasuk alkohol dan dijumpai pada kanker hati. Hepatitis virus adalah istilah yang digunakan untuk infeksi hepar oleh virus, identifikasi virus penyakit dilakukan terus menerus, tetapi agen virus A, B, C, D, E, F dan G terhitung kira-kira 95% kasus dari hepatitis virus akut.
Penyakit hepatitis merupakan urutan pertama dari berbagai penyakit hati diseluruh dunia. Penyakit ini sangat berbahaya bagi kehidupan karena penykit hepatits ataupun gejala sisanya bertanggung jawab atas 1-2 juta kematian setiap tahunnya. (Aru, w sudoyo, 2006 : 429). Infeksi virus hepatitis bisa berkembang menjadi sirosis atau pengerasan hati bahkan kanker hati. Masalahnya, sebagian besar infeksi hepatitis tidak menimbulkan gejala dan baru terasa 10-30 tahun kemudian saat infeksi sudah parah. Pada saat itu gejala timbul, antara lain badan terasa panas, mual, muntah, mudah lelah, nyeri diperut kanan atas, setelah beberapa hari air seninya berwarna seperti teh tua, kemudian mata tampak kuning dan akhirnya seluruh kulit tubuh menjadi kuning. Pasien hepatitis biasanya baru sembuh dalam waktu satu bulan.
Menurut guru besar hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga ketua kelompok kerja Hepatitis Departemen Kesehatan, Alli Sulaiman, virus hepatitis menginfeksi sekitar 2 miliar orang didunia. Setiap tahun lebih dari 1.300.000 orang meninggal dunia akibat hepatitis beserta komplikasinya. Prevalensi di Indonesia sekitar 10-15 persen jumlah penduduk atau sekitar 18 juta jiwa. Dari jumlah yang terinfeksi, kurang dari 10 persen yang terdiagnosis dan diobati. Sebanyak 90 persen lain tidak menimbulkan gejala sehingga tidak terdiagnosis. Karena itu, pemeriksaan menjadi penting.
Insiden hepatitis yang terus meningkat semakin menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit ini menjadi penting karena mudah ditularkan, memiliki morbiditas yang tinggi dan menyebabkan penderitanya absen dari sekolah atau pekerjaan untuk waktu yang lama. 60-90% dari kasus-kasus hepatitis virus diperkirakan berlangsung tanpa dilaporkan. Keberadaan kasus-kasus subklinis, ketidakberhasilan untuk mengenali kasus-kasus yang ringan dan kesalahan diagnosis diperkirakan turut menjadi penyebab pelaporan yang kurang dari keadaan sebenarnya. (Brunner & Sudarth, 2001 : 1169)
Pada umumnya pasien yang menderita penyakit hepatitis ini mengalami Anoreksia atau penurunan nafsu makan dimana gejala ini diperkirakan terjadi akibat pelepasan toksin oleh hati yang rusak untuk melakukan detoksifikasi produk yang abnormal sehingga pasien ini haruslah mendapatkan nutrisi yang cukup agar dapat memproduksi enegi metabolik sehingga pasien tidak mudah lelah. Secara khusus terapi nutrisi yang didesain dapat diberikan melalui rute parenteral atau enteral bila penggunaan standar diet melalui rute oral tidak adekuat atau tidak mungkin untuk mencegah/memperbaiki malnutrisi protein-kalori. Nutrisi enteral lebih ditujukan pada pasien yang mempunyai fungsi GI tetapi tidak mampu mengkonsumsi masukan nasogastrik. Nutrisi parenteral dapat dipilih karena status perubahan metabolik atau bila abnormalitas mekanik atau fungsi dari saluran gastrointestinal mencegah pemberian makan enteral. Asam amino,karbohidrat, elemen renik, vitamin dan elektrolit dapat diinfuskan melalui vena sentral atau perifer. (Marilyn E. Doengoes, 1999: 758)
Pentingnya mengetahui penyebab hepatitis bagi pasien adalah apabila ada anggota keluarga menderita penyakit yang sama, supaya anggota keluarga dan pasien siap menghadapi resiko terburuk dari penyakit hepatitis beserta komplikasinya sehingga penderita mampu menyiapkan diri dengan pencegahan dan pengobatan yaitu: penyediaan makanan dan air bersih yang aman, sistem pembuangan sampah yang efektif, perhatikan higiene secara umum, mencuci tangan, pemakaian kateter, jarum suntik dan spuit sekali pakai serta selalu menjaga kondisi tubuh dengan sebaik-baiknya. Apabila hal ini tidak dilakukan dengan benar dan teratur berarti keluarga dan penderita harus siap menerima resiko komplikasi lainnya dan bahkan dapat menyebabkan kematian.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan memerlukan asuhan keperawatan yang tepat, disamping itu juga memerlukan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, sehingga akibat dan komplikasi dapat dihindari seperti memberi penjelasan tentang Hepatitis antara lain: penyebab, tanda dan gejala, pengobatan, perawatan, penularan dan akibat yang didapat kalau pengobatan tidak dilakukan.
B.     Tujuan
1.     Tujuan Umum
tujuan umum dari penulisan laporan seminar kasus ini,untuk mengetahuai gambaran umum tentang asuhan keperawatan dengan hepatitis dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan dan memperoleh pengalaman dalam penyusunan laporan seminar kasus.
2.     Tujuan Khusus
a.       Melakukan pengkajian pada pasien hepatitis
b.      Menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien hepatitis
c.       Menyusun rencana keperawatan pada pasien hepatitis
d.      Melakukan tindakan keperawatan pada pasien hepatitis
e.       Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien hepatitis
f.        Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pasien hepatitis
C.      Metode penulisan
metode yang digunakan dalam penulisan studi kasus ini adalah metode deskriftif yaitu suatu metode ilmiah yang menggambarkan tentang asuhan keperawatan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan pada pasien dengan hepatitis. Adapaun tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah:
1.      Wawancara
Yaitu suatu cara pengumpulan data dengan teknik tanya jawab dengan pasien dan keluarga dalam hal identitas, alasan dirawat, keluhan utama, riwayat penyakit tertentu dan data-data lain yang diperlukan.
2.      Observasi
Pengumpulan data dengan cara mengamati perubahan-perubahan yang terjadi pada pasien baik secara fisik maupun sikologis.
3.      Pemeriksaan fisik
Pengumpulan data dengan cara melakukan pemeriksaan dengan teknik inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi pada pasien guna mendapatkan data yang objektif tentang keadaan pasien secara umum maupun khusus.
4.      Studi dokumentasi
Pengumpulan data dengan cara menggunakan bukti-bukti tertulis antara lain catatan medis catatan perawat dan data penunjang antara lain hasil pemeriksaan labortaorium.
5.      Studi kepustakaan
Studi kepustakaan diperlukan untuk memudahkan dalam teknik pengumpulan data yang dapat digunakan sebagai referensi atau acuan dalam melakukan pengumpulan data.

D.     Sistematika penulisan
Untuk memudahkan dalam pemahaman laporan studi kasus ini, maka laporan studi kasus ini disusun dalam 4 BAB dengan Sub-sub yaitu:
a.       BAB I memuat tentang pendahuluan yang meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode dan sistematika penulisan.
b.      BAB II memuat tentang kajian teori.
c.       BAB III memuat tentang tinjauan kasus yang melipiti pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
d.      BAB IV merupakan bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran.






BAB II
PEMBAHASAN

A.     KONSEP MEDIS
1.     Pengertian
Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia.
Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001).
Hepatitis adalah peradangan pada hati atau infeksi pada hati (Elizabeth J. Corwin, 2001). Hepatitis ada yang akut dan ada juga yang kronik. Hepatitis akut adalah penyakit infeksi akut dengan gejala utama yang berhubungan erat dengan adanya nekrosis pada jaringan hati.
Hepatitis kronik adalah suatu sindrom klinis dan patologis yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi yang ditandai oleh berbagai tingkat peradangan dan nekrosis pada hati yang berlangsung terus-menerus tanpa penyembuhan dalam waktu palaing sedikit 6 bulan.
2.     Anatomi fisiologi
a.       Anatomi
Hati terletak dibelakang tulang – tulang iga (kosta) dalam rongga abdomen daerah kanan atas. Hati memiliki berat sekitar 1500 gr, dan dibagi menjadi empat lobus. Setiap lobus hati terbungkus oleh lapisan tipis jaringan ikat yang membentang ke dalam lobus itu sendiri dan membagi massa hati menjadi unit – unit yang lebih kecil, yang disebut lobulus (Smeltzer, Suzanne C, 2001).
Unit fungsional dasar hati adalah lobulus hati, yang berbentuk silindris dengan panjang beberapa milimeter dan berdiameter 0,8 sampai 2 milimeter. Hati manusia berisi 50.000 sampai 100.000 lobulus
Sirkulasi darah ke dalam dan ke luar hati sangat penting dalam penyelenggaraan fungsi hati. Darah yang mengalir ke dalam hati berasal dari dua sumber. Kurang lebih 75 % suplai darah datang dari vena porta yang mengalirkan darah yang kaya akan nutrien dari traktus gastrointestinal. Bagian lain suplai darah tersebut masuk ke dalam hati lewat arteri hepatika dan banyak mengandung oksigen. Cabang–cabang terminalis kedua pembuluh darah ini bersatu untuk membentuk capillary beds bersama yang merupakan sinusoid hepatik. Dengan demikian, sel–sel hati (hepatosit) akan terendam oleh campuran darah vena dan arterial. Sinusoid mengosongkan isinya ke dalam venule yang berada pada bagian tengah masing–masing lobulus hepatik dan dinamakan vena sentralis. Vena sentralis bersatu membentuk vena hepatika yang merupakan drainase vena dari hati dan akan mengalirkan isinya ke dalam vena kava inferior di dekat diafragma.
Disamping hepatosit, sel–sel fagositik yang termasuk dalam sistem retikuloendotelial juga terdapat dalam hati. Dalam hati, sel–sel ini dinamakan sel Kupffer. Fungsi utama sel Kupffer adalah memakan benda partikel (seperti bakteri) yang masuk ke dalam hati lewat darah portal.
Saluran empedu terkecil yang disebut kanalikulus terletak di antara lobulus hati. Kanalikulus menerima hasil sekresi dari hepatosit dan membawanya ke saluran empedu yang lebih besar yang akhirnya akan membentuk duktus hepatikus. Duktus hepatikus dari hati dan duktus sistikus dari kandung empedu bergabung untuk membentuk duktus koledokus (common bile duct) yang akan mengosongkan isinya ke dalam intestinum. Aliran empedu ke dalam intestinum dikendalikan oleh sfingter Oddi yang terletak pada tempat sambungan (junction) di mana duktus koledokus memasuki duodenum (Smeltzer, Susanne C, 2001)
b.      Fungsi Hati
Fungsi dasar hati dapat dibagi menjadi (1) fungsi vaskular untuk menyimpan dan menyaring darah, (2) fungsi metabolisme yang berhubungan dengan sebagian besar sistem metabolisme tubuh, dan (3) fungsi sekresi dan ekskresi yang berperan membentuk empedu yang mengalir melalui saluran empedu ke saluran pencernaan (Guyton, Arthur C, 1997).
a)     Fungsi sistem vaskular hepar
Kira-kira 1100 mililiter darah mengalir dari vena porta ke sinusoid hati setiap menit, dan tambahan sekitar 350 mililiter lagi mengalir ke sinusoid dari arteri hepatika, dengan total rata-rata 1450 ml/menit. Jumlah ini sekitar 29% dari sisa curah jantung., hampir satu pertiga dari aliran total darah tubuh.
b)     Volume darah normal hati 450 ml. bila tekanan tinggi didalam atrium kanan menyebabkan tekanan balik dalam hati, hati meluas dan oleh karena itu 0,5 sampai 1 liter cadangan darah kadang–kadang disimpan di dalam vena hepatika dan sinus hepatika, terutama pada gagal jantung. Sel Kupffer dapat membersihkan darah dengan sangat efisien sewaktu darah melewati sinus. Mungkin tidak lebih dari 1 persen bakteri yang masuk ke darah porta dari usus berhasil melewati hati ke dalam sirkulasi sistemik.
c)      Fungsi metabolik hati
1)     Metabolisme glukosa
Sesudah makan, glukosa diambil dari darah vena portal oleh hati dan diubah menjadi glikogen yang disimpan dalam hepatosit. Selanjutnya glikogen diubah kembali menjadi glukosa dan jika diperlukan dilepaskan ke dalam aliran darah untuk mempertahankan kadar glukosa yang normal. Glukosa tambahan dapat disintesis oleh hati lewat proses yang dinamakan glukoneogenesis. Untuk melaksanakan proses ini, hati menggunakan asam–asam amino hasil pemecahan protein atau laktat yang diproduksi oleh otot yang bekerja.
2)     Konversi amonia
Penggunaan asam-asam amino untuk glukoneogenesis akan membentuk amonia sebagai hasil sampingan. Hati mengubah amonia yang dihasilkan oleh proses metabolik ini menjadi ureum. Amonia yang diproduksi oleh bakteri dalam intestinum juga akan dikeluarkan dari dalam darah portal untuk sintesis ureum. Dengan cara ini, hati mengubah amonia yang merupakan toksin berbahaya menjadi ureum, yaitu senyawa yang dapat diekskresikan ke dalam urin.
3)     Metabolisme protein
Organ ini mensintesis hampir seluruh plasma protein (kecuali gammaglobulin), termasuk albumin, alfa dan beta globulin, fakto-faktor pembekuan darah, protein transport yang spesifik dan sebagian besar lipoprotein plasma. Vitamin K diperlukan oleh hati untuk mensintesis protrombin dan sebagian faktor pembekuan lainnya. Asam-asam amino berfungsi sebagai unsur pembangun bagi sintesis protein.
4)     Metabolisme lemak
Asam–asam lemak dapat dipecah untuk memproduksi energi dan badan keton (asam asetoasetat, asam beta hidroksibutirat serta aseton). Badan keton merupakan senyawa-senyawa kecil yang dapat masuk ke dalam aliran darah dan menjadi sumber energi bagi otot serta jaringan tubuh lainnya.
5)     Penyimpanan vitamin dan zat besi
Vitamin A, B12, D dan beberapa vitamin B-kompleks disimpan dengan jumlah yang besar dalam hati. Substansi tertentu, seperti besi dan tembaga juga disimpan dalam hati.
6)     Metabolisme obat
Banyak obat, seperti barbiturat dan amfetamin, dimetabolisasi oleh hati. Metabolisme umumnya menghilangkan aktivitas obat tersebut meskipun pada sebagian kasus, aktivasi obat dapat terjadi. Salah satu lintasan penting untuk metabolisme obat meliputi konjungasi (pengikatan) obat tersbut dengan sejumlah senyawa.
d)     Ekskresi bilirubin dalam empedu
Bila sel darah merah sudah habis masa hidupnya, rata-rata 120 hari, dan menjadi terlalu rapuh untuk bertahan lebih lama dalam sistem sirkulasi, membran selnya pecah dan hemoglobin yang lepas difagositosis oleh jaringan makrofak di seluruh tubuh. Disini, hemoglobin pertama kali dipecah menjadi globin dan heme, dan cincin heme dibuka untuk memberikan (1) besi bebas yang ditranspor ke dalam darah oleh tranferrin, dan (2) rantai lurus dari empat inti pirol yaitu substrat dari mana nantinya pigmen empedu akan dibentuk. Pigmen pertama yang dibentuk adalah biliverdin, tetapi ini dengan cepat direduksi menjadi bilirubin bebas, yang secara bertahap dilepaskan ke plasma. Bilirubin bebas dengan segera bergabung sangat kuat dengan albumin plasma dan ditranspor dalam kombinasi ini melalui darah dan cairan interstitial.
Dalam beberapa jam, bilirubin bebas diabsorbsi melalui membran sel hati. Sewaktu memasuki sel hati, bilirubin dilepaskan dari albumin plasma dan segera setelah itu kira-kira 80 persen dikonjugasi dengan asam glukoronat untuk membentuk bilirubin glukoronida, kira-kira 10 persen dengan sulfat membentuk bilirubin sulfat, dan akhirnya 10 persen berkonjugasi dengan berbagai zat lainnya. Dalam bentuk ini, bilirubin dikeluarkan melalui proses transpor aktif ke dalam kanalikuli empedu dan kemudian masuk ke usus (Smeltzer Suzanne C, 2001).

3.     Etiologi
Virus hepatitis :
1.      Virus hepatitis A (HVA)
2.      Virus hepatitis B (HBV)
3.      Virus hepatitis C (HCV)
4.      Virus hepatitis D (HDV)
5.      Virus hepatitis E (HEV)
6.      Bakteri
7.      Cedera toksik








Faktor-faktor penyabab hepatitis antara lain:
a.      Virus

Type A
Type B
Type C
Type D
Type E
Metode transmisi
Fekal-oral melalui orang lain
Parenteral seksual, perinatal
Parenteral jarang seksual, orang ke orang, perinatal
Parenteral perinatal, memerlukan koinfeksi dengan type B
Fekal-oral
Keparah-an
Tak ikterik dan asimto- matik
Parah
Menyebar luas, dapat berkem-bang sampai kronis
Peningkatan insiden kronis dan gagal hepar akut

Sama dengan D
Sumber virus
Darah, feces, saliva
Darah, saliva, semen, sekresi vagina
Terutama melalui darah
Melalui darah
Darah, feces, saliva

b.     Alkohol
Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis.
c.      Obat-obatan
Menyebabkan toksik untuk hati, sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut.

4.     Klasifikasi
a.       Hepatitis A
1.      Ditularkan melalui praktir oral-anal, makanan terkontaminasi, dan kerang.
2.      Periode inkubasi kira – kira 2 – 6 minggu, yang merupakan periode paling menular.
3.      Profilaksis: globulin imun sebelum dan setelah pemajanan memberikan imunitas pasif selama 2 – 3 bulan.
b.      Hepatitis B
1.     Ditularkan melalui darah dan produk darah melalui transfusi terkontaminasi dan kulit dan membran mukosa yang rusak melalui jarum terkontaminasi, koitus seksual, tato, kontak langsung dengan luka terbuka, atau melalui memegang alat dan bahan terkontaminasi.
2.     Periode inkubasi kira – kira 6 minggu sampai 6 bulan.
3.     Individu dipertimbangkan menular selama permukaan antigen tampak. Status karier atau hepatitis virus kronis (HBV) ada bila permukaan antigen masih dapat terdeteksi setelah enam bulan.
4.     Profilaksis : vaksin HBV sebelum pemajanan memberikan imunitas aktif. Untuk mempertahankan imunitas, vaksin harus diulang setelah satu bulan, enam bulan, dan tujuh tahun. Pemberian imunoglobulin hepatitis B (HBIG) memberi imunitas pasif pada individu tanpa vaksin yang terpajan virus.
c.       Hepatitis C
1)     Ditularkan melalui rute yang sama dengan HBV
2)     Periode inkubasi kira – kira 2 minggu sampai 6 bulan.
3)     Profilaksis : Globulin imun sebelum dan setelah pemajanan memberikan imunitas pasif untuk 2 – 3 bulan.
4)     Diyakini penyebab dari hepatitis pascatransfusi.
d.      Hepatitis D
Varian lain dari bentuk hepatitis B virus, sering terlihat pada pengguna obat IV (Hollinger dalam Engram, Barbara, 1998). Ini menyebabkan laju mortalitas tinggi.l virus hepatitis delta untuk tetap ada, hepatitis virus B juga pasti ada. bentuk varian dari hepatitis virus ini ditularkan dalam cara yang sama seperti hepatitis B dan mempunyai karakteristik serupa. Jadi profilaksis digunakan untuk hepatitis B juga efektif untuk baik hepatitis C dan hepatitis delta.
e.       Hepatitis E
Virus hepatitis E, yang merupakan jenis virus hepatitis terbaru yang teridentifikasi, dianggap ditularkan melalui jalur fekal-oral. Masa inkubasi hepatitis E bervariasi dan diperkirakan berkisar dari 15 hingga 65 hari. Awitan dan gejalanya serupa dengan yang terdapat pada tipe hepatitis virus yang lain. (Brunner et al, 2001).

5.     Patofisiologi.
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional darah dari hepar disebut lobule karena memiliki suplai darah sendiri. Seiring dengan berkembangnya inflamasi pada hepar. Pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang rusak dibuang dari tubuh oleh respon imune digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya sebagian besar oleh pasien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal (Hudak dan Gallo, 1994, Keperawatan Kritis Volume II, EGC, Jakarta).
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai darah sendiri. Sering dengan berkembangnya inflamasi pada hepar, pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian besar pasien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal.
Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu badan dan peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut kuadran kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati.
Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka terjadi kesukaran pengangkutan billirubin tersebut didalam hati. Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi. Akibatnya billirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu belum mengalami konjugasi (bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin direk). Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran dalam pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin.
Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat (abolis). Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat dieksresi ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan gatal-gatal pada ikterus.
6.     Tanda Dan Gejala
1.       Masa tunas
Virus A                          :    15-45 hari (rata-rata 25 hari)
Virus B                          :    40-180 hari (rata-rata 75 hari)
Virus non A dan non B    :    15-150 hari (rata-rata 50 hari)
2.       Fase Pre Ikterik
Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi virus berlangsung sekitar 2-7 hari. Nafsu makan menurun (pertama kali timbul), nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu hati) dirasakan sakit. Seluruh badan pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu badan meningkat sekitar 39oC berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok pada hepatitis virus B.
3.       Fase Ikterik
Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan disertai dengan bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera yang terus meningkat pada minggu I, kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-14 hari. Kadang-kadang disertai gatal-gatal pasa seluruh badan, rasa lesu dan lekas capai dirasakan selama 1-2 minggu.
4.       Fase penyembuhan
Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu hati, disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine tampak normal, penderita mulai merasa segar kembali, namun lemas dan lekas capai.
7.     Pencegahan
a.       Hepatitis A mempunyai jalur penularan fekal-oral; sanitasi yang jelek. Kontak antar manusia. Dibawa oleh air dan makanan.
b.      Hepatitis B ditularkan melalui jalur parenteral; atau lewat kontak dengan karier atau penderita infeksi akut; kontak seksual dan oral-oral, penularan perinatal dari ibu kepada bayinya. Ancaman kesehatan kerja yang penting bagi petugas kesehatan.
c.       Hepatitis C ditularkan melalui transfusi darah dari produk darah; terkena darah yang terkontaminasi lewat peralatan atau parafenalia obat.
d.      Hepatitis D. penularan sama seperti HBV, antigen permukaan HBV diperlukan untuk replikasi; pola penularan serupa dengan pola penularan hepatitis B.
e.       Hepatitis E ditularkan melalui jalur fekal-oral; kontak antar manusia dimungkinkan meskipun resikonya rendah.
Karena terbatasnya pengobatan hepatitis, maka penekanan lebih diarahkan pada pencegahan diataranya sebagai berikut :
a.       Kini tersedia globulin imun HBV tertinggi (HBIG) dan vaksin untuk pencegahan dan pengobatan HBV, utamanya bagi petugas yang terlibat dalam kontak resiko tinggi misalnya pada hemodialisis, transfusi tukar dan terapi parenteral perlu sangat hati-hati dalam menangani peralatan parenteral tersebut.
b.      Hindari kontak langsung dengan barang yang terkontaminasi virus hepatitis akut.
c.       Pelihara personal hygiene dan lingkungan.
d.      Gunakan alat-alat disposible untuk suntik.
Alat-alat yang terkontaminasi disterilkan.

8.     Penatalaksanaan
Tirah baring selama stadium akut dan diet yang akseptabel serta bergizi merupakan bagian dari pengobatan dan asuhan keperawatan. Selama periode anoreksia, pasien harus makan sedikit-sedikit tapi sering dan jika diperlukan, disertai dengan infus glukosa. Karena pasien sering menolak makan, kreativitas dan bujukan yang persisten namun dilakukan dengan halus mungkin diperlukan untuk merangsang selera makan pasien. Jumlah makanan dan cairan yang optimal diperlukan untuk menghadapi penurunan berat badan dan kesembuhan yang lambat. Namun demikian, banyak pasien telah pulih selera makannya bahkan sebelum fase ikterik sehingga tidak perlu diingatkan untuk mempertahankan diet yang baik.
9.     Komplikasi
Komplikasi hepatitis virus yang paling sering dijumpai adalah perjalanan penyakit yang memanjang hingga 4 sampai 8 bulan. Keadaan ini dikenal sebagai hepatitis kronis persisten. Sekitar 5 % dari pasien hepatitis virus akan mengalami kekambuhan setelah serangan awal yang dapat dihubungkan dengan alkohol atau aktivitas fisik yang berlebihan. Setelah hepatitis virus akut sejumlah kecil pasien akan mengalami hepatitis agresif atau kronik aktif dimana terjadi kerusakan hati seperti digerogoti (piece meal) dan perkembangan sirosis. Akhirnya satu komplikasi lanjut dari hepatitis yang cukup bermakna adalah perkembangan karsinoma hepatoseluler.
10.Pemeriksaan Diagnostik
1.      Laboratorium
a.       Pemeriksaan pigmen
-      Urobilirubin direk
-      Bilirubun serum total
-      Bilirubin urine
-      Urobilinogen urine
-      Urobilinogen feses
b.      Pemeriksaan protein
-      Protein totel serum
-      Albumin serum
-      Globulin serum
-      Hbsag
c.       Waktu protombin
Respon waktu protombin terhadap vitamin K
d.      Pemeriksaan serum transferase dan transaminase
-      AST atau SGOT
-      ALT atau SGPT
-      LDH
-      Amonia serum
2.       Radiologi
-      foto rontgen abdomen
-      pemindahan hati denagn preparat technetium, emas, atau rose bengal yang berlabel radioaktif
-      kolestogram dan kalangiogram
-      arteriografi pembuluh darah seliaka
3.      Pemeriksaan tambahan
-      laparoskopi
-      biopsi hati

B.     KONSEP KEPERAWATAN

1.     Pengkajian
Tahap pengkajian dari proses keperawatan merupakan proses dinamis yang terorganisir yang meliputi tiga aktivitas dasar : mengumpulkan data, menyortir dan mengatur data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data dalam format yang dapat dibuka kembali. Dengan menggunakan beberapa teknik, anda berfokus pada pendapatan profil pasien yang akan memungkinkan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien dan diagnosa yang cocok, merencanakan masalah, mengimplementasikan intervensi dan mengevaluasi hasil. Profil ini disebut data-data pasien.
Data dasar pasien memberikan suatu pengertian tentang status kesehatan pasien yang menyeluruh. Data tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati.
Data dasar pengkajian pasien hepatitis :
a.       Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise umum.
b.      Sirkulasi
Tanda : Bradikardi (hiperbilirubinemia berat). Ikterik pada sklera, kulit dan membran mukosa.
c.       Eliminasi
Gejala : Urine gelap, diare/konstipasi : faeces warna tanah liat,adanya/ berulangnya hemodialisa.
d.      Makanan dan cairan
Gejala : Hilang nafsu makan (anoreksia, penurunan berat badan atau meningkat (oedema), mual/muntah.
e.      Neurosensori
Tanda : Peka rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriktis.
f.        Nyeri/kenyamanan
Gejala : Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas, artralgia, mialgia, sakit kepala, gatal (pruritus).
Tanda : Otot tegang, gelisah.
g.      Pernafasan
Tanda : Tidak minat/enggan merokok (perokok).
h.      Keamanan
Gejala : Adanya transfusi darah/produk darah.
Tanda : Demam
Urtikaria, lesi makula papular, eritema tak beraturan eksaserbasi jerawat.
Angioma jaring-jaring, eritema palmar, ginekomastia (kadang-kadang ada pada hepatitis alkoholik).
i.        Seksualitas
Gejala : Pola hidup/perilaku meningkatkan resiko terpanjang (contoh : homoseksual aktif/biseksual pada wanita).

2.     Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinik mengenai respons individu, keluarga, dan komunitas terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar untuk pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang merupakan tanggung jawab perawat (Doenges, Marilynn E, 1998).
Diagnosa keperawatan yang lazim timbul pada penderita hepatitis (Doenges, Marilynn E, 1999) adalah sebagai berikut :
a.       Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum ; penurunan kekuatan/ketahanan : nyeri.
b.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik : anoreksia, mual/muntah, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan : penurunan peristaltik (refleks viseral), empedu tertahan.
c.       Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ketiga (acites), gangguan proses pembekuan.
d.      Harga diri rendah situasional berhubungan dengan Gejala : Jengkel /marah , terkurung / isolasi, sakit lama /periode penyembuhan.
e.       Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat (contoh leukopenia, penekanan respon inflamasi) dan depresi imun, malnutrisi, kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pada patogen.
f.        Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan zat kimia, akumulasi garam empedu dalam jaringan.
g.       Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi, tidak mengenal sumber informasi.

3.     Perencanaan
Perencanaan adalah proses yang terdiri dari dua bagian; pertama identifikasi tujuan dan hasil yang diinginkan dari pasien untuk memperbaiki masalah kesehatan atau kebutuhan yang telah dikaji, dan kedua, pemilihan intervensi keperawatan yang tepat untuk membantu pasien dalam mencapai hasil yang diinginkan.
Perencanaan berdasarkan diagnosa keperawatan yang lazim pada hepatitis sebagai berikut:
a.      Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum ; penurunan kekuatan/ketahanan : nyeri.
Tujuan :
-          Menyatakan pemahaman situasi/faktor resiko dan program pengobatan individu.
Kriteria :
-          Menunjukkan teknik/perilaku kemampuan kembali melakukan aktivitas.
-          Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.
Intervensi :
1.      Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung.
Rasional :
Meningkatkan istirahat dan ketenangan, menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan.
2.      Ubah posisi dengan sering, perawatan kulit yang baik.
Rasional :
Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.
3.      Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.
Rasional :
Memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa gangguan.
4.      Tingkatkan aktivitas sesuai intoleransi, bantu melakukan rentang gerak sedikit pasif/aktif.
Rasional:
5.      Tirah baring yang lama dapat menurunkan kemampuan, ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas.
6.      Berikan aktivitas hiburan yang tepat contoh menonton TV, membaca, mendengarkan radio.
Rasional :
Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan koping.
7.      Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati.
Rasional :
8.      Menunjukkan kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit, memerlukan istirahat lanjut, mengganti program terapi.
9.      Awasi kadar enzim hati.
Rasional :
Membantu menentukan kadar aktivitas yang tepat, sebagai peningkatan prematur pada potensial resiko berulang.
b.     Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik : anoreksia, mual/muntah, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan : penurunan peristaltik (refleks viseral), empedu tertahan.
Tujuan:
Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan/mempertahankan berat badan yang sesuai.
Kriteria :
Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi.
Intervensi:
1.      Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makanan sedikit tapi sering dalam frekuensi sering dan tawarkan makanan pagi paling besar.
Rasional :
Makanan banyak sulit mengatur bila pasien anoreksia. Anoreksia juga paling buruk selama siang hari, membuat masukan makanan yang sulit pada sore hari.
2.      Berikan perawatan mulut sebelum makan.
Rasional :
Menghilangkan rasa tidak enak, meningkatkan nafsu makan.
2.      Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
Rasional :
3.      Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan.
4.     Dorongan pemasukan sari jeruk, minuman karbohidrat dan permen berat sepanjang hari.
Rasional :
Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna, toleran bila makanan lain tidak.
5.     Berikan obat sesuai indikasi : Vit. B Comp, tambahan diet lain sesuai indikasi.
Rasional :
Memperoleh kekurangan dan membantu proses penyembuhan.
6.     Konsul pada ahli diet. Dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan pasien dengan pemasukan lemak dan protein sesuai toleransi.
Rasional :
Berguna dalam membuat program diet memenuhi kebutuhan individu. Metabolisme lemak bervariasi tergantung pada produksi pengeluaran empedu dan perlunya pembatasan masukan lemak bila terjadi diare. Bila toleransi pemasukan normal atau lebih protein akan membantu regenerasi hati. Pembatasan protein diindikasikan pada penyakit berat karena akumulasi produk akhir protein dapat mencetuskan hepati ensefalopati.
7.     Berikan tambahan makanan/nutrisi dukungan total bila dibutuhkan.
Rasional :
Mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan kalori bila tanda kekurangan terjadi/gejala memanjang.
c.      Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ketiga (acites), gangguan proses pembekuan.
Tujuan:
Mempertahankan hidrasi adekuat.
Kriteria :
-          Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit normal, masukan dan keluaran seimbang.
Tindakan keperawatan
1.      Awasi masukan dan haluaran, bandingkan dengan berat badan harian, catat kehilangan melalui usus, contoh muntah dan diare.
Rasional :
Memberikan informasi tentang kebutuhan pengganti/efek terapi.
2.      Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
Rasional :
Indikator volume sirkulasi/perifer.
3.      Periksa acites atau pembentukan oedema, ukur lingkar abdomen sesuai indikasi.
Rasional :
Menerangkan kemungkingan perdarahan ke dalam jaringan.
4.      Biarkan pasien menggunakan lap katun/spon dan pembersih mulut untuk sikat gigi.
Rasional :
Menghindari trauma dan perdarahan gusi.
5.      Awasi nilai laboratorium, contoh Hb/Ht, Na + albumin dan waktu pembekuan.
Rasional :
Menunjukkan hidrasi dan mengidentifikasi retensi natrium/kadar protein yang dapat menimbulkan pembentukan oedema.
6.      Berikan cairan IV, elektrolit.
Rasional :
Memberikan cairan dan penggantian elektrolit.
8.     Protein hidrolisat : vitamin K
Rasional :
Memperbaiki kekurangan albumin/protein dapat membantu mengembalikan cairan dari jaringan ke sistem sirkulasi, mencegah masalah koagulasi.
d.     Harga diri rendah situasional berhubungan dengan gejala : Jengkel/ marah, terkurung/isolasi, sakit lama/periode penyembuhan.
Tujuan :
Mengidentifikasi perasaan dan metode untuk koping terhadap persepsi negatif.
Kriteria :
-          Menyatakan penerimaan diri dan lamanya penyembuhan/ kebutuhan isolasi.
-          Mengakui diri sebagai orang tua yang berguna.
Tindakan keperawatan
1.      Kontrak dengan pasien mengenai waktu untuk mendengar.
Rasional :
Penyediaan waktu meningkatkan hubungan saling percaya.
2.      Dorong diskusi perasaan/masalah
Rasional :
Kesempatan untuk mengekspresikan perasaan memungkinkan pasien untuk merasa lebih mengontrol situasi. Pengungkapan menurunkan cemas dan depresi memudahkan perilaku koping positif.
3.      Hindari membuat penilaian moral tentang pola hidup.
Rasional :
Pasien merasa marah/kesal dan menyalahkan diri : penilaian dari orang lain akan merusak harga diri lebih lanjut.
4.      Diskusikan harapan penyembuhan.
Rasional :
Periode penyembuhan mungkin lama/potensial stres keluarga/situasi dan memerlukan perencanaan, dukungan dan evaluasi.
5.      Kaji efek penyakit pada faktor ekonomi pasien/orang terdekat.
Rasional :
Masalah finansial dapat terjadi karena kehilangan peran fungsi pasien pada keluarga/penyembuhan lama.
6.      Tawarkan aktivitas senggang berdasarkan tingkat energi.
Rasional :
Memampukan pasien untuk menggungkan waktu dan energi pada cara konstruktif yang meningkatkan harga diri dan meminimalkan cemas dan depresi.
7.      Anjurkan pasien menggunakan warna merah terang atau biru/hitam daripada kuning atau hijau.
Rasional :
Meningkatkan penampilan, karena kulit kuning diperjelas oleh warna kuning/hijau. Ikterik biasanya memuncak dalam 1 – 2 minggu kemudian secara bertahap membaik lebih dari 2 – 4 minggu.
8.      Buat rujukan yang tepat untuk membantu, sesuai kebutuhan, contoh perencanaan pulang, pelayanan masyarakat dan atau lembaga komunitas lain.
Rasional :
Dapat memudahkan pemecahan masalah dan membantu melibatkan individu untuk mengatasi masalah.
e.      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat (contoh leukopenia, penekanan respon inflamasi) dan depresi imun, malnutrisi, kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pada patogen.
Tujuan :
Menyatakan pemahaman penyebab individu/faktor resiko.
Kriteria :
Menunjukkan tekhnik; melakukan perubahan pola hidup untuk menghindari infeksi ulang/transmisi ke orang lain.
Intervensi :
1.      Lakukan teknik isolasi untuk infeksi enterik dan pernafasan sesuai kebijakan rumah sakit; termasuk cuci tangan efektif.
Rasional :
Mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain. Melalui cuci tangan yang efektif dalam mencegah transmisi virus hepatitis.
2.      Awasi/batasi pengunjung sesuai indikasi.
Rasional :
Pasien terpajan terhadap proses infeksi (khususnya respiratorium) potensial resiko komplikasi sekunder).
3.      Jelaskan prosedur isolasi kepada pasien dan keluarga.
Rasional :
Pamahaman alasan untuk perlindungan diri mereka sendiri dan orang lain dapat mengurangi perasaan isolasi dan stigma.
4.      Berikan informasi tentang adalah pemberian vaksin hepatitis.
Rasional :
Efektif dalam mencegah hepatitis virus pada orang lain yang terpajan, tergantung tipe hepatitis dan periode inkubasi.
5.      Berikan obat sesuai indikasi : Obat antivirus : vidaralun, Interferon, Antibiotik.
Rasional :
Obat antivirus berguna pada pengobatan hepatitis aktif kronis, interferon efektif pada pengobatan penyakit hati sehubungan dengan HCV dan antibiotik pengobatan hepatitis bakterial, atau untuk mencegah/membatasi infeksi sekunder.
f.        Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan zat kimia, akumulasi garam empedu dalam jaringan.
Tujuan:
Menunjukkan jaringan kulit utuh, bebas ekskoriasi.
Kriteria :
Melaporkan tidak ada/penurunan pruritus/lecet.
Tindakan keperawatan
1.      Gunakan air mandi dingin dan soda kue atau mandi kanji. Hindari sabun mandi alkali.
Rasional :
Mencegah kulit kering berlebihan. Memberikan penghilangan gatal.
2.      Anjurkan untuk menggunakan buku-buku jari untuk menggaruk rasa gatal, pertahankan kuku pendek.
Rasional :
Menurunkan resiko cedera kulit.
3.      Beri massage pada waktu tidur.
Rasional :
Bermanfaat dalam meningkatkan tidur dengan menurunkan iritasi kulit.
4.      Hindari komentar tentang penampilan pasien.
Rasional :
Menimbulkan stres psikologik sehubungan dengan perubahan kulit.
5.      Berikan obat sesuai indikasi; antihistamin contoh : metdilazin, difenhidramin.
Rasional :
Menghilangkan gatal, catatan : gunakan terus-menerus pada
penyakit hepatik hebat.
g.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi ditandai dengan :
Data subyektif : Pernyataan yang salah konsepsi.
Data obyektif : Meminta informasi dan tidak akurat mengikuti instruksi.
Tujuan
Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan.
Kriteria :
-          Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala penyakit dan hubungan dan gejala dengan faktor penyebab.
-          Melakukan perubahan perilaku dan berpatisipasi pada pengobatan.
Tindakan keperawatan
1.      Kaji tingkat pemahaman proses penyakit, harapan/prognosis, kemungkinan pilihan pengobatan.
Rasional :
Mengidentifikasi area kekurangan/salah informasi dan memberikan kesempatan untuk memberikan informasi tambahan yang sesuai keperluan.
2.      Berikan informasi khusus tentang pencegahan/penularan penyakit.
Rasional :
Kebutuhan/rekomendasi akan bervariasi karena hepatitis dan situasi individu.
3.      Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas pengalih.
Rasional :
Aktivitas yang dapat dinikmati akan dapat membantu menghindari pemusatan pada penyembuhan panjang.
4.      Diskusikan pembatasan donatur darah.
Rasional :
Mencegah penyebaran penyakit. Kebanyakan undang-undang negara bagian menerima donor darah yang mempunyai riwayat berbagai tipe hepatitis.
5.      Tekankan pentingnya mengevaluasi pemeriksaan fisik dan evaluasi laboratorium.
Rasional :
Proses penyakit dapat memakai waktu berbulan-bulan untuk membaik. Bila gejala ada lebih lama dari enam bulan. Biopsi hati diperlukan untuk memastikan adanya hepatitis kronis.
6.      Kaji ulang perlunya menghindari alkohol selama 6 – 12 bulan minuman atau lebih lama sesuai toleransi individu.
Rasional :
Meningkatkan iritasi hepatik dan mempengaruhi pemulihan.















DAFTAR PUSTAKA


Doenges, Marilynn E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, ; alih bahasa, I Made Kariasa ; editor, Monica Ester, Edisi 3, EGC ; Jakarta.

Doenges, Marilynn E, 1998, Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan, alih bahasa, I Made Kariasa ; editor, setiawan. Edisi 2, EGC; Jakarta.

Ester,  Monica. 2002 . Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Guyton, Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, ; editor, Irawati Setiawan, Edisi 9, EGC; Jakarta.

Smeltzer, Suzanne C, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, ; alih bahasa,

Tjokronegoro, Arjatmo, 1998 Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Ketiga, Balai Penerbit FKUI; Jakarta.

Inayah, Iin. 2004. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Pencernaan. Jakarta: Salemba Medika.

Oswari, 2006. Penyakit Dan Cara Penanggulangannya. Jakarta: Gaya Baru
Mansjoer, Arief, Dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Medikal Bedah Brunner &Suddarth, Edisi 8, Vol 2. Jakarta : EGC








ASUHAN KEPERAWATAN PADA Nn “K”
DIRUANGAN PERAWATAN DEWASA
RSUD SALEWANGAN MAROS
Tanggal Masuk RS     :  18 Oktober 2013
Tanggal pengkajian   :  18 Oktober 2013
Nomor Register            :        15 49 79
Diangnosa Medis         :         Hepatitis

A.     BIODATA
a.       Identitas Pasien
Nama                                   :    Nn “K”
Jenis kelamin                      :    Perempuan
Umur                                   :    23 tahun
Agama                                 :    Islam
Suku/bangsa                      :    Bugis Makassar/Indonesia
Pendidikan                          :    SMA
Pekerjaan                            :    Mahasiswa
Nomor askes                      :    -
Penghasilan                        :    -
Alamat                                 :    Tompo-Bulu-Maros
b.      Identitas Penanggung
Nama                                   :    Tn “J”
Jenis kelamin                      :    Laki-laki
Umur                                   :    47 tahun
Agama                                 :    Islam
Suku/bangsa                      :    Bugis Makassar/Indonesia
Pendidikan                          :    Perguan tinggi
Pekerjaan                            :    Swasta 
Nomor askes                      :    -
Penghasilan                        :    -
Hubungan dgn Pasien       :    Ayah Pasien
Alamat                                 :    Tompo-Bulu-Maros

B.     RIWAYAT KESEHATAN
a.       Riwayat kesehatan sekarang
1.      Keluhan Utama : Nyeri pada abdomen sebelah kanan kuadran atas
2.      Riwayat keluhan utama:
a)     Faktor pencetus/penyebab: Virus hepatitis
b)     Sifat Keluhan : Nyeri hilang timbul
c)      Lokasi Keluhan : Abdomen kanan atas
d)     Mulai dan lamanya keluhan : Keluhan dirasakan 5 hari sebelum Masuk RS  disertai dengan mual dan muntah.
3.      Apakah Keluhan bertambah / berkurang pada saat tertentu / memperberat atau meringankan keluhan: Keluhan semakin bertambah pada saat dikaji, mulai berkurang setelah di anjurkan untuk melakukan relaksasi napas dalam dan nyeri hilang timbul pada saat bernapas panjang.
4.      Hal-hal yang memperberat atau meringankan keluhan : Nyeri dirasakan pada saat banyak beraktifitas dan nyeri hilang pada saat beristrahat.
5.      Keluhan lain yang menyertai : Mual muntah, sakit kepala dan pusing.
6.      Pertolongan/obat-obat yang  yang pernah diperoleh: belum pernah mendapatkan pertolongan sebelum masuk RS.

b.      Riwayat kesehatan masa lalu
1.      Apakah Pernah menderitaa penyakit yang sama/lain ?: Tidak pernah, dan pasien sebelumnya pernah menderita gastritis sejak 1 tahun yang lalu.
2.      Apakah pernah di rawat di Rumah Sakit ?: tidak pernah
3.      Apakah pernah menderita alergi ? : tidak pernah
4.      Kebiasaan :
-          Merokok : tidak pernah
-          Minum Alkohol : tidak pernah
-          Minum kopi : Pernah
-          Obat-obatan : Obat sakit kepala dan perut
c.       Riwayat kesehatan Keluarga
(Genogram 3 generasi)

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?














Keterangan :


                :   Laki –laki                                         :  Garis Keturunan
                :   Perempuan                                      :  Garis Perkawinan
      X        :   Meninggal                                        : Garis Tinggal serumah
      ?        :   Umur tidak diketahui                   :   pasien
Kesimpulan :
G1 : Nenek dan kakek pasien sidah meninggal akarena faktor usia
G2 : Ayah dan ibu Pasien Masih hidup dan mereka tidak pernah memeiliki riwayat penyakit seperti yang di alami oleh anaknya
G3 : Pasien Anak ke 6 dari 7 bersaudara, saudara-saudaranya yang lain tidak pernah menderita penyakit seperti yang dialami pasien.

C.             PEMERIKSAAN FISIK

1.      Keadaan umum : Lemah
2.      Kesadaran : Compos mentis
3.      Tanda-tanda vital : TD = 100/60 mmHg, (tensi meter) N= 80 x/menit (radialis) S= 36,5 cC, (aksila) dan P = 20  x/Menit (inspirasi pada hidung)
4.      Berat badan : 40 Kg
5.      Tinggi Badan : 150 cm
6.      Kepala
Inspeksi :
Keadaan rambut & Hygiene kepala: Bersih
a.       Warna rambut : Hitam
b.      Penyebaran : merata
c.       Mudah rontok : tidak
d.      Kebersihan rambut : bersih
Palpasi :
Benjolan : tidak ada 
7.      Muka
Inspeksi :
a.       Simetris/ tidak : Simetris
b.      Bentuk wajah : Oval
c.       Gerakan abnormal : tidak ada gerakan abnormal pada muka
d.      Ekspresi wajah : meringis dan sedih
Palpasi:
Nyeri tekan : tidak terdapat nyeri tekan
8.      Mata
Inspeksi
a.       Palpebra : tidak ada odema dan radang
b.      Sclera : icterus
c.       Konjungtifa : tidak ada radang dan anemis
d.      Pupil : miosis. Ada reaksi pupil terhadap cahaya pupil mengecil.
e.       Posisi mata : simetris
f.        Gerakan bola mata: dapat bergerak kesegala arah
g.       Penutupan kelopak mata: dapat menutup dengan rapat
h.      Keadaan bulu mata : melengkung keatas
i.         Keadaan Visus : 6/6
j.         Penglihatan : dapat melihat dengan normal
Palpasi
Tekanan bola mata : terdapat tekanan pada saat di raba dengan kedua ibu jari.
9.      Hidung dan sinus
Inspeksi
a.       Posisi hidung : Simetris kanan/kiri
b.      Bentuk hidung : mancung
c.       Keadaan septum : lurus
d.       Secret/cairan : tidak terdapat cairan atau secret
10.  Telinga
Inspeksi
a.       Posisi telinga : simetris kanan/kiri
b.      Ukuran/bentuk : sama besar
c.        Aurikel : tidak ada jaringan parut dan padat.
d.      Lubang telinga : tidak ada polip
e.       Pemakaian alat bantu : tidak  memakai alat bantu pendengaran
Pemeriksaan uji pendengaran
a.       Uji pendegaran : uji bisikan dan detik jam dapat mendengar
b.      Uji Rinner : tidak dilakukan
c.       Wibber : Tidak dilakukan
d.      Swabach: klien dapat mendengar sama seperti penguji
Pemeriksaan vestibuler : tidak dilakukan
11.  Mulut
Inspeksi
a.       Keadaan Gigi : masih lengkap (32)
-          Karang gigi : tidak ada
-          Pemakaian gigi palsu : tidak ada
b.      Gusi : tidak meradang dan gusi merah
c.       Lidah : bersih
d.      Bibir :
-          Sianosis /pucat/tidak: tidak
-          Basah/kering/pecah: kering
-          Mulut : tidak berbau
-          Kemampuan bicara : dapat berbicara dengan jelas
12.  Tenggorokan
a.       Warna mukosa : merah
b.      Nyeri tekan : tidak ada
c.       Nyeri menelan : tidak ada
13.  Leher
Inspeksi
Kelenjar tiroid : tidak membesar
Palpasi
a.       Kelenjar tiroid : tidak teraba
b.      Kaku kuduk : tidak ada
c.       Kelenjar limfe : tidak membesar
14.  Toraks dan pernapasan
a.       Bentuk dada : normochest
b.      Irama pernapasan : teratut
c.       Pengembangan diwaktu pernapasan : dada mengembang sesuai irama pernapasan
d.      Tipe pernapasan : pernapasan dada
Palpasi
a.       Vokal fremitus : kanan lebih tinggi dari pada kiri
b.      Massa/ nyeri : tidak ada nyeri tekan
Auskultasi
a.       Suara napas : Vesikuler
b.      Suara tambahan : tidak ada
Perkusi
Redup/pekak/hipersonor/tympani: resonan
15.  Jantung
Palpasi
Ictus cordis : teraba pada ICS 5 midclavikula kiri
Perkusi
Pekak pada area jantung
Tidak ada pembesaran jantung
Auskultasi
a.       BJ 1 : Murni pada ICS 4 – 5 sisi dada kiri
b.      BJ 2 : Murni pada ICS 2
c.       Tidak ada bunyi jantung tambahan
16.  Abdomen
Inspeksi
a.       Bentuk rerut : permukaan perut nampak datar
b.      Tidak ada luka maupun bekas luka operasi
Palpasi
a.       Hepar : tidak terdapat pembesaran pada hepar
b.      Lien : tidak ada pemebesaran
c.       Nyeri tekan : nyeri pada kuadran  kanan atas
Auskultasi
Peristaltik usus 8 x / menit
Perkusi
a.       Tympani : pada daerah lambung
b.      Redup : pada deerah hepar
17.  Genetalia dan anus : Tidak di kaji
18.  Ekstremitas
Ekstremitas atas
a.       Motorik
-          Pergerakan kanan/kiri       : Sesuai rentang gerak sendi
-          Pergerakan abnormal        : Tidal ada
-          Tonus otot kanan/kiri        : Baik
-          Koordinasi gerak                : Mengikuti perintah
b.      Refleks
-          Biseps kanan/kiri               : Fleksi pada ketukan
-          Triceps kanan/kiri              : Ekstensi pada ketukan
c.       Sensori
-          Nyeri : Dapat merasak nyeri saat diberi stimulus
-          Rangsang suhu : Dapat membedakan suhu panas dan dingin
-          Rasa raba : Dapat membedakan rabaan kasar dan halus
Data lain : Nampak menekan abdomen
Ekstremitas bawah
a.       Motorik
-          Gaya berjalan : Baik
-          Kekuatan kanan/kiri : 5/5
-          Tonus otot kanan /kiri : Baik
b.      Refleks
-          KPR kanan/kiri : Ekstensi pada ketukan
-          APR kanan/kiri : Plantar fleksi pada ketukan
-          Babinsky kanan/kiri : Positif
c.       Sensori
-          Nyeri : Dapat merasakan nyeri saat diberi stimulus
-          Rangsang suhu : Dapat menbedakan suhu panas dan dingin
-          Rasa raba : Dapat membedakan rabaan kasar dan halus
19.  Status Neurologi
Saraf- saraf kranial
a.       Nervus I : Dapat membedakan bau
b.      Nervus II : Dapat membedakan objek yang diamati
c.       Nervus III,IV,VI
Dapat menggerakkan bola mata kesegala arah
Kontraksi pupil : Isokor saat menerima cahaya
Gerakan kelopak mata : Dapat menutup dan membuka.
d.      Nervus V : Dapat merasakan usapan padadahi, menggerakkan rahang atas dan bawah
e.       Nervus VII : Dapat merubah mimik
f.        Nervus VIII : Dapat mendengar
g.       Nervus IX & X : Reflek menelan baik ,reflek muntah baik
h.      Nervus XI : Dapat memalingkan ke kiri dan kanan, mampu mengangkat bahu
i.         Nervus XII : Dapat menggerakkan lidah ke segala arah

D.     PEMERIKSAAN DIANOSTIK
SGOT 200 U/L
SGPT 624 U/L
HBs Ag Negatif
Anti HBs Positif
Anti HCV Negatif
Bilirubin total 5,7 mg/dl
Bilirubin direk 3,4 mg/dl
WBC 5,7 x 103 U/L
RBC 5,06 X 103 U/L
HGB 13 g/dl
PLT 157 X 109 /L
Ureum darah 15 mg/dl
Kreatinin darah 0,4 mg/dl
PENGOBATAN
IVFD Asering
Ketorolac 1 ampul /8 jam
Ranitidine 1 ampul/ 8 jam
Ondasentron 1 ampul/ 8 jam
HP Pro 3 x1
Imox 2 x 1

E.      POLA KEGIATAN SEHARI- HARI
1.      Nutrisi
a.       Kebiasaan
-          Pola makan                     :    Nasi ,Lauk pauk, sayur
-          Frekuensi                        :    3 x / hari
-          Nafsu makan                   :    Baik
-          Makanan pantangan      :    Tidak ada
-          Makanan yang disukai   :    Yang pedis
-          Banyak minum sehari    :    2000 cc
b.      Perubahan selama sakit
-          Pola makan                     :    Nasi, Lauk pauk, Sayur
-          Frekuensi                        :    3x / hari, porsi makan tidak dihabiskan
-          Nafsu makan                   :    Kurang
-          Makanan pantangan      :    Tidak ada
-          Banyak minum               :    1500 cc
2.      Eliminasi
BAK
a.       Kebiasaan
-          Frekuensi                 : 4 – 5/ hari
-          Warna                      : Kuning jernih
b.      Perubahan selama sakit
-          Frekuensi                 : 4 kali
-          Warna                      : Kuning agak pekat
BAB
a.       Kebiasaan
-          Frekuensi                 : 1 kali/hari
-          Warna                      : Kuning
-          Konsistensi              : Lembek
b.      Perubahan selama sakit
-          Frekuensi                 : 1 kali/ hari
-          Warna                      : Kuning
-          Konsistensi                : lembek
3.      Istirahat dan tidur
a.       Kebiasaan
-          Tidur malam jam 22.00 bangun jam 05.00
-          Tidur siang jam 14.00 bangun jam 15.00
b.      Perubahan selama sakit
-          Tidur malam
-          Tidur siang
Data lain: klien masih terbaring di tempat tidur
4.      Olah raga dan aktifitas
-          Pasien jarang berolah raga
-          Olahraga yang disukai jalan santai
-          Aktifitas dan kebutuhan klien masih di bantu oleh keluarga
5.      Hygiene
a.       Kebiasaan
-          Mandi                       : 2 kali/ hari menggunakan sabun
-          Keramas                   : 2 kali/hari menggunakan sampo
b.      Perubahan selama sakit
-          Mandi                       : tidak perna
-          Keramas                   : tidak pernah
F.      POLA  INTERAKSI SOSIAL
-          Orang yang terdekat dengan pasien adalah ibu
-          Cara mengatasi masalah dalam keluarga dengan musyawarah
-          Hubungan dengan keluarga harmonis


















G.     DATA FOKUS

Data Subjketif
Data Objektif
-          Pasien mengatakan nyeri pada perut sebelah kanan atas
-          Klien mengtakan nyeri hilang timbul
-          Pasien mengatakan kurang nafsu makan
-          Pasien mengatakan mual
-          Pasien mengatakan lemas
-          Pasien mengatakan masih tidak dapat melakukan aktifitas sendiri.
-          Pasien masih mengatakan cepat lelah untuk beraktifitas
-          Keluarga pasien mengatakan tidak menghabiskan porsi makan yang disediakan
-          Nyeri tekan kuadran kanan atas
-          Nampak pasien memegang abdomen kanan atas
-          Nampak wajah pasien meringis
-          Kebutuhan ADL Pasien masih di bantu oleh keluarga. 
-          Nampak pasien masih terbaring di tempat tidur dan belum banyak melakukan aktifitas
-          Nampak pasien mual dan muntah
-          Pasien tidak menghabiskan makanan yang disediakan atau diet yg di anjurkan
-          Tanda-tanda Vital :
TD: 100/60 mmHg
N : 80 / menit
P: 20 x / Menit
S : 36,5 oC




















H.    ANALISA DATA

Data
Etiologi
Masalah
DS:
-          Pasien mengatakan sakit pada abdomen kuadran kanan atas
-          Klien mengatakan nyeri hilang timbul

DO:
-          Nyeri tekan kuadran kanan atas
-          Nampak pasien memegang abdomen kanan atas
-          Nampak wajah pasien meringis
Pengaruh alkohol, virus hepatitis, toksin

Inflamasi pada hepar

Perenggangan kapsula hati
Hepatomegali

Perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas

Pelepasan mediator kimia

Persepsi terhadap nyeri

Gangguan rasa nyaman nyeri

Gangguan rasa nyaman nyeri

DS:
-          Pasien mengatakan masih tidak dapat melakukan aktifitas sendiri.
-          Pasien masih mengatakan cepat lelah untuk beraktifitas
DO:
-          Kebutuhan ADL Pasien masih di bantu oleh keluarga. 
-          Nampak pasien masih terbaring di tempat tidur dan belum banyak melakukan aktifitas
Gangguan metabolisme karbohidrat lemak dan protein
 

Glukogenesis menurun

Glikogen dalam hepar berkurang

Glikogenesis menurun

Glukosa dalam darah berkurang

Cepat lelah

Tidak bisa beraktifitas secara mandiri

Tonus otot menurun

Intoleransi aktifitas


Intoleransi aktifitas

DS:
-          Pasien mengatakan kurang nafsu makan
-          Pasien mengatakan mual
-          Keluarga pasien mengatakan tidak menghabiskan porsi makan yang disediakan
DO:
-          Nampak pasien mual dan muntah
-          Pasien tidak menghabiskan makanan yang disediakan atau diet yg di anjurkan


Inflamasi pada hepar
 

Perenggangan kapsula hati
 

Hepatomegali
 

Perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas

Anoreksia

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhann
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhann

I.       DIAGNOSA KEPERAWATAN

No
Diagnosa Keperawatan
Tanggal ditemukan
Tanggal teratasi
1




2



3
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum; penurunan kekuatan/ketahanan; nyeri.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.
18 oktober 2013




18 oktober 2013




18 oktober 2013










19 oktober 2013


J.        RENCANA KEPERAWATAN

No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar dengan di tandai dengan:
DS:
-          Pasien mengatakan sakit pada abdomen kuadran kanan atas
-          Klien mengatakan nyeri hilang timbul

DO:
-          Nyeri tekan kuadran kanan atas
-          Nampak pasien memegang abdomen kanan atas
-          Nampak wajah pasien meringis


Skala neyeri dalam batas normal dengan kriteria hasil yang diharapkan :
- pasien tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan, menangis intensitas dan lokasinya)
1.      Kolaborasi dengan pasien  untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri




2.      Tunjukkan pada pasien penerimaan tentang respon pasien terhadap nyeri
- Akui adanya nyeri
- Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan pasien tentang nyerinya
3.      Berikan informasi akurat dan
- Jelaskan penyebab nyeri
- Tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui
4.      Bahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi
1.      Nyeri yang berhubungan dengan hepatitis sangat tidak nyaman, oleh karena terdapat peregangan secara kapsula hati, melalui pendekatan kepada individu yang mengalami perubahan kenyamanan nyeri diharapkan lebih efektif mengurangi nyeri.
2.      Untuk lebih memudahkan penentuan intensitas nyeri dan memantau perkembangan nyeri berdasarkan skala yang ditentukan, serta pasien mudah untuk mengungkapkan perasaan nyeri yang dialaminya.

3.      Pasien yang disiapkan untuk mengalami nyeri melalui penjelasan nyeri yang sesungguhnya akan dirasakan (cenderung lebih tenang dibanding pasien yang penjelasan kurang/tidak terdapat penjelasan)
4.      Kemungkinan nyeri sudah tak bisa dibatasi dengan teknik untuk mengurangi nyeri.
2.      
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum; penurunan kekuatan/ketahanan; nyeri.

Pasien mampu beraktivitas kembali. dengan kriteria hasil :
-          Menyatakan pemahaman situasi/faktor risiko & program pengobatan individu.
-          Menunjukkan tehnik/perilaku yang memampukan kembali melakukan aktivitas.
-          Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.

1.      Tingkatkan tirah baring/duduk, berikan lingkungan tenang.





2.      Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.

3.      Lakukan tugas dengan cepat & sesuai toleransi.

4.      Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi. Bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.
5.      Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati.
1.      Meningkatkan istirahat & ketenangan menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan. Aktivitas dan posisi duduk tegak diyakini menurunkan aliran darah ke kaki, yang mencegah sirkulasi optimal ke sel hati.
2.      Meningkatkan fungsi pernapasan & meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan risiko kerusakan jaringan.
3.      Memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa gangguan.
4.      Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
5.      Menunjukkan kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit, memerlukan istirahat lanjut, mengganti program terapi.
4.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.

Kebutuhan nutrisi terpenuhi. Dengan Kriteria Hasil          : - Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan/mempertahankan berat badan yang sesuai.
-    Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai Lab. normal & bebas tanda malnutrisi
Hasil yang diharapkan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas dari tanda-tanda mal nutrisi.
1.      Ajarkan dan bantu pasien untuk istirahat sebelum makan.
2.      Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering
3.      Pertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan
4.      Anjurkan makan pada posisi duduk tegak

5.      Berikan diit tinggi kalori, rendah lemak sehingga akan membebani hepar.

1.      Keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan
2.      Adanya pembesaran hepar dapat menekan saluran gastro intestinal dan menurunkan kapasitasnya.


3.      Akumulasi partikel makanan di mulut dapat menambah baru dan rasa tak sedap yang menurunkan nafsu makan.
4.      Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan
5.      Glukosa dalam karbohidrat cukup efektif untuk pemenuhan energi, sedangkan lemak sulit untuk diserap/dimetabolism


















K.            IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

No.
Hari/tanggal
No. Dx
Jam
Implementasi
Evaluasi
1.
18 oktober 2013
I
09. 36





10.27








10.32







10.38



9.       
1.      Mengkolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
Hasil :
Pasien memilih kompres untuk membantu meredakan nyeri yang dialaminya.
2.      Menunjukkan pada pasien penerimaan tentang respon pasien terhadap nyeri,  Akui adanya nyeri, dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan pasien tentang nyerinya
Hasil :
Pasien nampak senang karena perawat mendengarkan ungkapan perasaannya terkait nyeri yang dialami.
3.      Memberikan informasi akurat dan menjelaskan penyebab nyeri, menunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui
Hasil :
Nampak pasien mendengarkan dengan seksama dan mampu memahami penyebab dari nyeri yang dialaminya.
4.      Membahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi
Hasil :
Dokter meresepkan obat

S : pasien mengatakan nyeri pada abdomen sebelah kanan atas.

O : Nampak pasien memegang abdomen.

A : masalah belum teratasi

P : lanjutkan intervensi:
1.      Mengkolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
2.      Menunjukkan pada pasien penerimaan tentang respon pasien terhadap nyeri,  Akui adanya nyeri, dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan pasien tentang nyerinya
3.      Membahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi
2.
18 oktober 2013
























II
08.45



09.25





09.26




11.15





13.00
1.      Meningkatkan tirah baring/duduk, berikan lingkungan tenang.
Hasil :
Nampak pasien beristirahat dengan tenang.
2.      Mengubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
Hasil :
Posisi pasien berubah setiap 2 jam sesuai indikasi, untuk mencegah terjadinya dekubitus.
3.      Melakukan tugas dengan cepat & sesuai toleransi.
Hasil :
Pasien nampak melakukan aktifitas dengan cepat dan sesuai toleransi
4.      Meningkatkan aktivitas sesuai toleransi. Bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.
Hasil :
Pasien melakukan ROM sesuai dengan yang dianjutkan.
5.      Mengawasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati.
Hasil :
Setiap 2 jam dilakukan observasi tingkat nyeri yang dialami oleh pasien.
S :
-          Pasien mengatakan lemah
-          Pasien mengatakan masih tidak dapat melakukan aktifitas sendiri.
O :
-          Nampak pasien masih berbaring di tempat tidur
-          Kebutuhan ADL Pasien masih di bantu oleh keluarga. 
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi : 1, 2 & 4
1.      Meningkatkan tirah baring/duduk, berikan lingkungan tenang
2.      Mengubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
3.      Meningkatkan aktivitas sesuai toleransi. Bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.

3.
18 oktober 2013

09. 35




09. 42





11. 42



12.08




12.40







1.      Mengajarkan dan bantu pasien untuk istirahat sebelum makan.
Hasil :
Pasien nampak mengikuti anjuran perawat untuk istrahat sebelum makan.
2.      Mengawasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
Hasil :
Nampak pasien makan sesuai yang dianjurkan, sedikit tapi sering.
3.      Mempertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan
Hasil :
Nampak pasien merawat hygien mulunnya.
4.      Menganjurkan makan pada posisi duduk tegak
Hasil :
Pasien nampak makan dengan posisi duduk tegak (high fowler)
5.      Memberikan diit tinggi kalori, rendah lemak sehingga akan membebani hepar
Hasil :
Pasien nampak mengurangi mengkonsumsi asupan makanan rendah kalori
S :
-          pasien mengatakan kurang nafsu makan.
-          Keeluarga pasien mengatakan tidak menghabiskan porsi makan yang disediakan
O : 
-          Nampak pasien masih mual dan muntah
-          Pasien tidak menghabiskan makanan yang disediakan atau diet yg di anjurkan
A : Masalah belum teratasi

P :  Lanjutkan intervensi 2, 3 & 5
1.      mengawasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
2.      Mempertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan
3.      Memberikan diit tinggi kalori, rendah lemak sehingga akan membebani hepar.
1
19 oktober 2013

08. 30





08.49








09.15



10.   
1.      Mengkolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri.
Hasil :
Pasien memilih relaksasi untuk menghilangkan nyeri
2.      Menunjukkan pada pasien penerimaan tentang respon pasien terhadap nyeri,  Akui adanya nyeri, dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan pasien tentang nyerinya
Hasil :
Pasien nampak senang karena perawat mendengarkan ungkapan perasaannya terkait nyeri yang dialami.
3.      Membahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tidak mengandung efek hepatotoksi
Hasil :
Dokter meresepkan obat
S : pasien mengatakan nyeri pada abdomen sebelah kanan atas mulai berkurang.

O : klien tidak lagi memegang abdomenya

A : masalah mulai teratasi

P : lanjutkan intervensi: 1 dan 3
1.      Mengkolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
2.      Membahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tidak mengandung efek hepatotoksi
2
19 oktober 2013

09.15



09.20





09.40





1.      Meningkatkan tirah baring/duduk, berikan lingkungan tenang.
Hasil :
Nampak pasien duduk di tempat tidur.
2.      Mengubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
Hasil :
Posisi pasien berubah setiap 2 jam sesuai indikasi, untuk mencegah terjadinya dekubitus.
3.      Meningkatkan aktivitas sesuai toleransi. Bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.
Hasil :
Pasien melakukan ROM sesuai dengan yang dianjutkan.
S :
-          Pasien mengatakan mulai kuat untuk beraktifitas
-          Pasien mengatakan dapat melakukan aktifitas sendiri.
O :
-          Nampak pasien duduk di atas tempat tidur
-          Kebutuhan ADL Pasien tidak lagi di bantu oleh keluarga. 
A : Masalah teratasi
P : intervensi di pertahankan

3
19 oktober 2013

10. 35





11. 15




12. 50







1.      Mengawasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
Hasil :
Nampak pasien makan sesuai yang dianjurkan, sedikit tapi sering.
2.      Mempertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan
Hasil :
Nampak pasien merawat hygiene mulutnya dengan menggosok giginya
3.      memberikan diit tinggi kalori, rendah lemak sehingga akan membebani hepar
Hasil :
Pasien nampak mengurangi mengkonsumsi asupan makanan rendah kalori.
S :
-          pasien masih mengatakan kurang nafsu makan.
-          Keluarga pasien mengatakan tidak menghabiskan porsi makan yang disediakan
O : 
Pasien tidak menghabiskan makanan yang disediakan atau diet yg di anjurkan
A : Masalah belum teratasi

P :  Lanjutkan intervensi 1, 2 & 3
1.      mengawasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
2.      mempertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan
3.      Memberikan diit tinggi kalori, rendah lemak sehingga akan membebani hepar
1
20 oktober 2013

09. 30





09.35










11.   
1.      Mengkolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri.
Hasil :
Pasien memilih relaksasi untuk menghilangkan nyeri
2.      Membahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tidak mengandung efek hepatotoksi
Hasil :
Dokter meresepkan obat
S : pasien mengatakan nyeri pada abdomen sebelah kanan atas mulai berkurang.

O : klien tidak lagi memegang abdomenya

A : masalah mulai teratasi

P : lanjutkan intervensi: 1 dan 3
1.      Mengkolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
2.      Membahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tidak mengandung efek hepatotoksi
3
20 oktober 2013

11. 35





12.00




12. 45




1.      Mengawasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
Hasil :
Nampak pasien makan sesuai yang dianjurkan, sedikit tapi sering.
2.      Mempertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan
Hasil :
Nampak pasien merawat hygiene mulutnya dengan menggosok gigi sesudah makan
3.      memberikan diit tinggi kalori, rendah lemak sehingga akan membebani hepar
Hasil :
Pasien nampak mengurangi mengkonsumsi asupan makanan rendah kalori.
S :
-          pasien mengatakan nafsu makan mulai membaik
-          Keluarga pasien mengatakan tidak menghabiskan porsi makan yang disediakan
O : 
Pasien tidak menghabiskan makanan yang disediakan atau diet yg di anjurkan
A : Masalah mulai teratasi teratasi
P :  Lanjutkan intervensi 1 & 3
1.      mengawasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
2.      Memberikan diit tinggi kalori, rendah lemak sehingga akan membebani hepar





BAB III
KESIMPULAN dan SARAN

a.      KESIMPULAN
1.      Hepatitis adalah suatu penyakit peradangan pada jaringan hati yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyebabkan sel sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
2.      Hepatitis terdiri dari beberap jenis, yaitu :
§  Hepatitis A
§  Hepatitis B
§  Hepatitis C
§  Hepatitis D
§  Hepatitis E
§  Kemungkinan hepatitis F dan G
3.      Virus-virus yang menyebabkan hepatitis dapat menyebabkan cedera dan kematian hepatosit dengan secara langsung membunuh sel dan dengan merangsang reaksi peradangan dan imun yang mencederai atau menghancurkan hepatosit. Reaksi peradangan melibatkan degranulasi sel mast dan pelepasan histamin, pengaktivan komplemen, lisis sel-sel yang terinfeksi dan sel-sel di sekitarnya, serta edema dan pembengkakan interstisium. Respon imun yang timbul kemidian mendukung respon peradangan. Perangsangan komplemen dan lisis sel serta serangan antibodi langsung terhadap antigen-antigen virus menyebabkan destruksi sel-sel yang terinfeksi. Hati menjadi edematosa sehingga kapiler-kapiler kolaps dan aliran darah berkurang yang menyebabkan hipoksia jaringan, akhirnya terbentuk jaringan ikat dan fibrosis dihati.
4.      Semua hepatitis Virus mempunyai gejala yang hampir sama, sehingga secara klinis hampir tidak mungkin dibedakan satu sama lain.
5.      Terdapat tiga stadium pada semua jenis hepatitis yaitu :
1)     Stadium prodromal
2)     Stadium ikterus
3)     Stadium pemulihan
4)     Pencegahan terhadap hepatitis virus ini adalah sangat penting karena  sampai saat ini belum ada  obat yang dapat membunuh virus, sehingga satu-satunya jalan  untuk mencegah hepatitis virus adalah dengan vaksinasi.
b.     SARAN
Adapaun saran setelah memberikan asuhan keperawatan pada Nn “K” yaitu :
1.           Diharapakan kepada measyarakat lebih memperhatikan kesehatan untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan dalam keluarga.
2.           Selalu periksa kesehatan atau vaksinasi jika sudah terjangkit penyakit hepatitis
3.           Selalu meningkatkan mutu kesehatan dalam masyarakat melalalui pelaksanaan upaya meningkatkan kebersihan lingkungan untuk mencegah timbulnya peenyakit tertentu dalam keluarga dan masyarakat.



















PATWAYS
Pengaruh alkohol, virus hepatitits, toksin
 Hipertermi                                                                             Inflamasi pada hepar                                                   peregangan kapsula hati
Gangguan suplei darah normal 
pada sel-sel hepar

Kerusakan sel parenkim, sel hati dan
 duktulii empedu intrachepatik

kerusakan sel parenkim. Sel hati dan
duktuli empedu inrahepatik


obstruksi         kerusakan konjungasi

kerusakan sel eskresik

retensi bilirubin