Senin, 06 Januari 2014

Hubungan Pengetahuan dan sikap dengan peran serta kader posyandu di wilayah kerja puskesmas Tamamaung makassar




BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Pembangunan di bidang  kesehatan dapat dipengaruhi oleh peranserta masyarakat serta tokoh masyarakat termasuk kader posyandu yang merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan program kesehatan. Salah satu persyaratan umum yang dapat dipertimbangkan kader yaitu harus dapat baca, tulis, berbahasa Indonesia dan secara fisik dapat melaksanakan tugas-tugasnya di posyandu serta sanggup bekerja dengan sukarela dan mendapat kepercayaan dari masyarakat.
Peran kader pada hari buka posyandu sangat besar karena lancar tidaknya kegiatan posyandu ditentukan oleh sejauhmana kemampuan dan peranserta kader untuk melaksanakan fungsinya serta membangun kerjasama yang baik sesama kader, maupun terhadap pembina dan kelompok sasaran posyandu yakni bayi, balita, ibu hamil dan pasangan usia subur.
Mengingat begitu strategisnya keberadaan kader posyandu maka untuk lebih mengoptimalkan dalam pemberian pelayanan, pemerintah telah memprogramkan pelatihan kader posyandu untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader (Bapenas 2009).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2008 jumlah posyandu sebanyak 8.717 yang tersebar di 23 kabupaten/kota dengan jumlah kader sebanyak 40.092.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Makassar tahun 2008 jumlah posyandu sebanyak 906 dengan jumlah kader 4.079.
Data dari Puskesmas Tamamaung tahun 2011 jumlah posyandu 24 dari 3 kelurahan terdiri dari kelurahan tamamaung, pandang, dan massale. Dengan jumlah kader sebanyak 449 orang, yang terdiri dari 124 kader posy, 116 kader aktif dan 109 kader terlatih.
Kader posyandu merupakan kelompok yang paling sering berintereaksi dengan masyarakat sehingga mempunyai kedudukan yang sangat strategis dan sarana yang efektif dalam mengkomunikasikan pesan-pesan yang berhubungan dengan masalah kesehatan baik di posyandu maupun di lingkungan sekitarnya, untuk itu diperlukan pengetahuan dan sikap.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan peran serta kader posyandu di wilayah Puskesmas Tamamaung Kota Makassar”.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dan latar belakang tersebut diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
“Adakah hubungan antara pengetahuan dan  sikap dengan peran serta kader posyandu di wilayah Puskesmas Tamamaung Kota Makassar”.
C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan Sikap dengan peran serta kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Tamamaung tahun 2012.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan peran serta kader posyandu.
b.      Untuk mengetahui hubungan antara sikap dengan peran serta kader posyandu.
D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi instansi penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi Puskesmas sebagai dasar pelaksanaan pembinaan kader Posyandu agar dalam memberikan pelatihan pada kader lebih terarah dan berkualitas.
2.      Bagi institusi pendidikan
Memberikan informasi mengenai hasil penelitian yang dilakukan dan sebagai gambaran untuk pendidikan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panakkukang Makassar.
3.      Bagi peneliti
Untuk memperoleh informasi ilmiah dan menambah pengetahuan peneliti tentang peran serta kader posyandu dalam pemberian pelayanan di posyandu dan untuk memperoleh gelar sarjana keperawatan (S. Kep.).
Diharapkan bisa menjadi bahan acuan atau referensi untuk penelitian selanjutnya.
Merupakan pengalaman berharga bagi peneliti utamanya dalam memperluas wawasan dan menambah pengetahuan khususnya mengenai peran serta kader dalam memberikan pelayanan kesehatan di posyandu.
4.      Bagi Kader Posyandu
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan evalusi dalam operasional kegiatan posyadu terkait pelayanan yang diberikan oleh kader posyandu  khususnya terkait bagaimana sikap dalam memberikan pelayanan kesehatan.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.    Tinjauan Umum tentang Peranserta Kader
Secara umum istilah kader kesehatan atau kader posyandu adalah tenaga yang berasal dari masyarakat, dipilih oleh masyarakat itu sendiri dan bekerja secara sukarela untuk menjadi penyelenggara posyandu.
L.A Gunawan memberikan batasan tentang kader kesehatan: “kader kesehatan dinamakan juga sebagai promotor kesehatan Desa (promkes) adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dan dari masyarakat yang bertugas untuk mengembangkan masyarakat” (R.Falen dan R.Budi Dwi, 2010:43).
Kader kesehatan dinamakan juga promotor kesehatan Desa (prokes) adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dari masyarakat dan bertugas mengembangkan masyarakat.
Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Depkes RI memberikan batasan kader: “Kader adalah warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela”.
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat, serta bekerja di tempat yang dekat dengan pemberian pelayanan kesehatan. (Syafrudin, dan Hamidah, 2006)
Kader posyandu adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah  kesehatan perorangan maupun masyarakat serta untuk bekerja dalam  hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2007).
Kader kesehatan atau yang lebih umum disebut sebagai kader posyandu merupakan pembawa misi pembangunan kesehatan ditingkat paling bawah. Kader ini adalah kepanjangan tangan dari puskesmas atau Dinas Kesehatan kepada masyarakat di wilayah kerjanya. Tenaga sukarelawan ini berasal dari masyarakat yang peduli terhadap kesehatan warga sekitarnya. Sampai saat ini kader kesehatan terkadang menjadi sumber rujukan bagi penanganan berbagai masalah kesehatan dimasyarakat. (Depkes RI. 2000).
Peran serta kader dalam penyelenggaraan posyandu dengan pola lima (5) meja (wahid iqbal M, 2009:54) adalah sebagai berikut:
1.      Meja 1: Pendaftaran
Melakukan pendaftaran bayi, balita, ibu hamil dan ibu usia subur yang hadir di Posyandu.
2.      Meja 2: Penimbangan bayi dan balita
Melakukan penimbangan bayi dan balita kemudian mencatat hasil penimbangan pada secarik kertas.
3.      Meja 3: Pengisian Kartu menuju Sehat (KMS)
Memindahkan catatan hasil penimbangan bayi dari secarik kertas ke dalam KMS.
4.      Meja 4: Penyuluhan perorangan
a.       Mengenai balita berdasarkan penimbangan, berat badan yang naik atau tidak naik, diikuti dengan pemberian makan tambahan, oralit dan vitamin dosis tinggi.
b.      Ibu hamil yang resiko tingi, diikuti dengan pemberian zat gizi.
c.       Perempuan Usia Subur (PUS) diminta untuk menjadi peserta Keluarga Berencana (KB) lestari, diikuti dengan pemberian kondom, pil ulangan atau tablet busa
5.      Meja 5: Pelayanan tenaga profesional
Pelayanan sektor yang biasanya dilakukan oleh petugas kesehatan yang diantaranya dokter, bidan, perawat, juru imunisasi dan sebagainya. Pelayanan yang diberikan meliputi pemberian imunisasi, pil tambah darah, vitamin A dan obat-obatan lainnya, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan serta pelayanan kontrasepsi (Mubarak Ikbal Wahid, 2009:54).
Peran lain kader diluar posyandu, yakni:
1.      Merencanakan kegiatan antara lain:  menyiapkan dan melaksanakan survei mawas diri, membahas hasil survei, menentukan masalah dan kebutuhan masyarakat, menentukan kegiatan penanggulangan masalah kegiatan bersama masyarakat membahas pembagian tugas menurut jadwal kerja.
2.      Melakukan komunikasi, informasi dan motivasi, alat peraga dan percontohan.
3.      Menggerakkan dan mendorong masyarakat untuk gotong royong. Memberikan informasi mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan.
4.      Melakukan pencatatan yaitu KB atau jumlah Perempuan Usia Subur (PUS), Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Imunisasi dan gizi.
Tugas kader setelah hari buka posyandu.
1.      Memindahkan catatan dalam KMS ke dalam buku register atau buku bantu kader
  1. Mengevaluasi hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan dari posyandu yang akan datang.
  2. Melaksanakan penyuluhan kelompok (kelompok dasa wisma)
  3. Melakukan kunjungan rumah (penyuluhan perorangan) bagi sasaran posyandu yng bermasalah antara lain :
1.      Tidak berkunjung ke posyandu karena sakit
2.      Berat badan balita tetap Selama 2 bulan berturut turut
3.      Tidak melaksanakan KB padahal sangat perlu
4.      Anggota keluarga sering terkena penyakit menular (Dinkes jawa timur, 2005).
Hal-hal yang boleh dilakukan kader dalam deteksi dini tumbuh kembang anak / balita antara lain :
1.      Penimbangan berat badan
  1. Pengukuran tinggi badan
  2. Pengukuran lingkar kepala
  3. Pengukuran lingkar lengan
Adapun 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya dan tidak boleh dilakukan kader, antara lain :
  1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui atau menemukan status gizi kurang atau buruk dan mikrosefali
  2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya dengar
  3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (Depkes RI, 2007).
B.     Tinjauan Umum tentang Pengetahuan Kader
Pengetahuan merupakan hasil dari ‘’tahu‘’ dan hal ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indrea penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (S. Notoatmodjo, 2007:143)
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. (Notoatmodjo, 2010:27).
Pengetahuan adalah semua aktifitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memecahkan masalah   dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari, mempehatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya (Desmita, 2008).    
Pengetahuan adalah satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan, termasuk didalamnya ialah mengamati, melihat, memperhatikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, berpikir, mempertimbangkan, menduga dan menilai (Kartini K, 2008).
Pengetahuan di peroleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Seorang anak memperoleh pengetahuan bahwa api itu panas setelah memperoleh pengalaman, tangan atau kakinya terkena api. Seorang ibu akan mengimunisasi anaknya setelah melihat anak tetangganya kena penyakit polio sehingga cacat, karena anak tetangganya tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio (S. Notoatmojdo, 2010:79).
Pengetahuan kader tentang kesehatan khususnya pelayanan posyandu akan mempengaruhi perilaku kader untuk berperan serta dan lebih tanggap untuk setiap permasalahan kesehatan yang terjadi.
(http://www.promosikesehatan.com/news.html,2008)
Menurut Poedjawijatna, pengetahuan merupakan tahap awal bagi seseorang untuk berbuat sesuatu. Karena itu kalau dilihat manusia sebagai individu maka unsur yang diperlukan agar ia dapat berbuat sesuatu adalah :
1.      Pengetahuan tentang apa yang dilakukan
2.      Keyakinan atau kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari apa yang dilakukannya
3.      Saran yang diperlukan untuk melakukan
4.      Dorongan atau motifasi untuk berbuat yang dilandasi oleh kebutuhan yang dirasakan
Pengetahuan merupakan tahap awal untuk seseorang berbuat sesuatu dan pengetahuan tentang apa yang dilakukan untuk membuat seseorang mengetahui langkah selanjutnya yang harus diperbuat, seperti halnya seorang kader posyandu yang harus mengetahui tugas yang diembannya sehingga dapat memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat dalam mengelolah posyandu.
Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh sebagai hasil jangka menengah (intermidiat impact) dari pendidikan kesehatan. (Notoatmodjo, 2007)
Menurut Soekidjo Notoatmodjo,  pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
1.      Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau ransangan yang diterima. Oleh karena itu, tahu merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya
2.      Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. (Soekidjo Notoatmodjo, 2007:145).
3.      Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan apabila orang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. Misalnya seseorang yang telah paham tentang proses perencanaan, ia harus dapat membuat perencanaan, program kesehatan ditempat ia bekerja atau dimana saja, orang yang telah paham metodologi penelitian, ia akan mudah membuat proposal penelitian dimana saja, dan seterunya (S. Notoatmodjo, 2010:28).
4.      Analisis (analysis)
Analisa adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilahat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5.      Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruahan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. (Soekidjo Notoatmodjo, 2007:145).
6.      Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat. Misalanya seorang ibu dapat menilai atau menentukan seorang anak menderita malnutrisi atau tidak, seorang dapat menilai manfaat ikut keluarga berencana bagi keluarga, dan sebagainya. (Soekidjo Notoatmodjo, 2010:28).
Peran serta kader adalah mendidik masyarakat desa melalui penyuluhan, hal tersebut menunjukkan bahwa kader mempunyai pengetahuan diatas rata-rata masyarakat lainnya. Penyuluhan yang diberikan diharapkan sebagai sarana yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat yang diharapkan akan terjadinya peningkatan status kesehatan. Adapun tujuan yang diharapkan adalah:
1.      Mempunyai peran penting dalam meningkatkan jumlah kunjungan di Posyandu.
2.      Agar masyarakat dapat mengetahui cara hidup sehat. (www.unilever.com,2008)
C.    Tujuan Umum Tentang Sikap
Menurut American Heritage Dictionary (AHD), sikap adalah cara berpikir atau merasakan dalam kaitanya dengan sejumlah persoalan. Sedangkan menurut Myers (1996) dan sarwono S. W. (2002), domain dari  sikap adalah Affective (perasaan), Behavior (Perilaku), dan cognitive (kesadaran) yang disingkat menjadi ABC. Karena ketiga domain tersebut sangat erat kaitnya, maka jika seseorang diketahui kognisinya, akan ketahuan juga kecendrungan perilakunya (Sumijatun, 2011:39).
Secara hangistoris, istilah sikap (attitude) digunakan pertama kali oleh Herbert  Spencer ditahun 1862 yang pada saat itu di artikan olehnya sebagai status mental seseorang, di masa-masa awal itupulah penggunaan konsep sikap sering dikaitkan dengan mengenai postur fisik atau posisi tubuh seseorang (saifuddin Azwar, 2011:3).
Sikap (attitude) adalah istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak senang atau perasaan biasa-biasa saja (netral) dari seseorang terhadap sesuatu. “sesuatu” itu bisa benda, kejadian , situasi, orang-orang atau kelompok. Kalau yang timbul terhadap sesuatu itu adalah perasaan senang, maka disebut sikap positif, sedangkan kalau perasaan tak senang, sikap negative. Kalau tidak timbul perasaan apa-apa, berarti sikapnya netral (Sarlito W. Sarwono, 2012:201).
Menurut Harrell Keith (2007), sikap terbentuk karena nilai orang akan mencondong pada apa yang mereka pedulikan atau apa yang disukainya. Nilai membantu mengarahkan tingkah laku dan memberikan dasar pada tindakan. Pembentukan sikap yang paling efektif adalah melalui pengalaman sendiri, sebagai contoh, perawat di ruangan anak yang selalu berbicara lembut menggunakan bahasa sederhana serta penuh kasih sayang pada anak-anak, sehingga pada akhirnya perilaku ini akan terpupuk dan membentuk sikap perawat yang disenangi kliennya (Sumijatun, 2011:40).
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulant atau objek. Setiap tindakan selalu diawali oleh proses yang cukup kompleks. Sebagai titik awal penerimaan suatu stimulus, sementara dalam individu terjadi dinamika berbagai psikofisik seperti kebutuhan, perasaan, perhatian, dan pengambilan keputusan (Soekidjo Notoatmojdo, 2007:146).
Pengukuran sikap menurut beberapa ahli, sikap dapat di ukur dengan menggunakan  suatu alat yang dinamakan skala sikap diantara banyak skala sikap yang dikenal, ada dua skala sikap yang cukup banyak digunakan, yaitu skala sikap dari R. Likert (1932) dan L. L. Thurstone (1934). Bentuk kedua skala itu hampir serupa, hanya proses pembuatan yang berbeda. Jika pada pembuatan skala Likert, daftar rencana pernyataan-pernyataan yang akan di jadikan pengukur di ujikan dahulu kepada sejumlah responden (orang percobaan) yang cirri-cirinya mirip dengan sampel yang akan diselidiki (kalau responden dalam penelitian nantinya adalah remaja, uji coba juga terhadap remaja), pada pembuatan skala Thurstone rencana pernyaataan-pernyataan itu di ujikan kepada sejumlah pakar yang mengetahui betul permasalahan yang sedang diselidiki (uji coba kepada pakar remaja) (Salito W. Sarwon0, 2012:207). 
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat dilakukan dengan menanyakan pendapat atau pertanyaan seseorang/ responden terhadap suatu obyek, sedangkan  secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan hipotesis kemudian ditanyakan pendapat responden (http://tugas2kuliah.wordpress.com/2011/11/29).
Dari bermacam-macam pendapat tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa sikap itu merupakan pendapat,  keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif, yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon dalam cara yang tertentu yang dipilihnya.    
Komponen pokok sikap menurut Alport (1954)  sikap itu terdiri dari 3 komponen pokok:
1.      kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek, artinya bagaimana keyakinan, pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek, sikap orang terhadap penyakit  kusta misalnya, berati bagaimana pendapat atau keyakinan orang tersebut terhadap penyakit kusta.
2.      Kehidupan emosional atau evaluasi oarang terhadap objek. Artinya bagaimana penilaian (terkandung didalamnya faktor emosi) orang tersebut terhadap objek. Seperti contoh butir a berarti bagaimana orang menilai terhadap penyakit kusta, apakah penyakit yang biasa saja atau membahayakan.
3.      Kecendrungan untuk bertindak (tend to behave), artinya sikap adalah merupakan komponen yang mendahului tindakan atau prilaku terbuka. Sikap adalah merupakan ancang-ancang untuk bertindak atau perilaku terbuka (tindakan). Misalnya tentang contoh sikap terhadap penyakit kusta diatas, adalah apa yang dilakukan seseorang bila dia menderita penyakit kusta (S. Notoatmodjo, 2010:30)
Menurut ( Notoatmodjo. S, 2010:30 ) sikap terdiri dari berbagai   tingkatan yakni :
a.    Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan    memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
b.    Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan  menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang di berikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
c.       Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu  masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.             
d.    Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.
Menurut ( Azwar S, 2011: 23 ) dalam struktur sikap terdiri  atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu :
a.       Komponen kognitif yaitu komponen yang berisi kepercayaan   seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap.
b.      Komponen Afektif
Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap.
c.       Komponen Konatif
Komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana bersikap atau kecenderungan bersikap yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Pengertian kecenderungan bersikap menunjukkan bahwa komponen konatif meliputi bentuk sikap yang tidak hanya dapat dilihat secara langsung saja, akan tetapi meliputi pula bentuk-bentuk sikap yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan oleh seseorang.
Menurut ( Sarlito W. Sarwono, 2012: 203) ciri-ciri sikap itu terdiri  dari:
a.       Sikap bukan bakat atau dibawa sejak lahir melainkan dipelajari dan dibentuk melalui pengalaman-penglaman. Sifat ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenetis seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat.
b.      Sikap dipelajari, maka sikap dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan lingkungan individu yang bersangkutan pada saat-saat dan tempat yang berbeda-beda. Dalam sikap tersangkut juga factor motifasi dan perasaan.
c.       Sikap tidak hanya berdiri satu macam saja, melainkan bermacam-macam, sesuai dengan banyaknya objek yang dapat menjadi perhatian orang yang bersangkutan.     
Menurut Eagly dan Chaiken (1993) dalam sarwono S.W. (2002), sebagian besar pakar psikologi sosial berpendapat bahwa sikap terbentuk dari pengalaman melalui proses belajar. Pandangan tersebut mempunyai dampak terapan, yaitu menyusun berbagai upaya seperti adanya penyuluhan, pendidikan, pelatihan, komunikasi (Sumijatun, 2011:40). 
Menurut ( Azwar. S, 2011:30 ) faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama serta faktor emosi dalam diri individu. Berikut ini akan diuraikan peranan masing-masing faktor dalam membentuk sikap manusia.
a.       Apa yang telah dan sedang dialami seseorang ikut membentuk  dan mempengaruhi penghayatan seseorang terhadap stimulus. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis.
b.      Pengaruh orang lain yang dianggap penting.
Orang lain di sekitar  kita merupakan salah satu komponen yang ikut mempengaruhi sikap. Pada umumnya individu cenderung memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
c.       Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dimana seseorang hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap seseorang.
d.      Media Massa
Media massa sebagai sarana komunikasi yang berupa televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan kepercayaan dan opini seseorang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti dan tugas yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
e.       Lembaga pendidikan dan agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
f.       Pengaruh faktor emosional
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang, kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama.

Menurut (Sarlito W. Sarwono, 2012:203) sikap dapat berbentuk atau berubah melalui empat macam cara:
a.       Adopsi yaitu kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus menerus, lama kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri individu dan mempengaruhi terbentuknya suatu sikap.
b.       Diferensiasi yaitu dengan berkembangnya integensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan bertambahnya usia, maka ada hal-hal yang tadinya di anggap sejenis, sekarang dipandang tersendiri dipandang dari sejenisnya.
c.       Integrasi yaitu pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap melalui dengan berbagai pengalaman  yang berhubungan dengan suatu hal tertentu sehingga akhirnya terbentuk sikap mengenai hal tersebut.
d.      Trauma yaitu pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan, yang meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman yang traumatis dapat juga menyebabkan terbentuknya sikap.  
Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap menurut (Sarlito W. Sarwono, 2012:205) antara lain:
a.       Faktor internal (factor dalam) yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri orang yang bersangkutan, seperti factor pilihan. Kita tidak dapat menangkap seluruh rangsangan dari luar melalui persepsi kita, oleh karena itu kita harus memilih rangsangan-rangsangan mana yang kita dekati dan mana yang harus di jauhi.
b.      Faktor eksteren (Faktor luar) selain faktor-faktor yang terdapat dalam diri sendiri, maka pembentukan sikap ditentukan pula oleh faktor-faktor yang berada di luar, yaitu :
1.      Sifat objek, sikap itu sendiri, bagus, atau jelek dan sebagainya.
2.      Kewibawaan : orang yang mengemukakan suatu sikap: gambar presiden sedang mengimunisasi bayi di pasang besar-besar di berbagai tempat yang strategis agar masyarakat terdorong untuk mengimunisasi anak-anak Balita mereka.
3.      Sifat orang-orang atau kelompok yang mendukung sikap tersebut. Islam versi Muhammadiyah dan nahdatul Ulama, dengan banyak program sosial, pendidikan, terbukti telah menarik sejutaan umat sejak berdirinya pada awal abad ke-20, sampai hari ini.
4.      Media komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan sikap: di era teknologi sekarang, penggunaan multimedia sangat lebih efektif, ketimbang hanya menggunakan media-media tradisional, apalagi hanya dari mulut ke mulut.
5.      Situasi pada saat sikap itu dibentuk: ketika indonesia sedang dilanda krisis hampir semua pendukung Gus Dur untuk menjadi presiden, tetapi Gus Dur justru menimbulkan makin banyak krisis, maka orang pun lebih memilih orang lain untuk jadi presiden.  
Perubahan sikap dapat terbagi menjadi dua bagian antara lain :
a.       Perubahan sikap yang secara tidak langsung atau tidak sengaja diberikan, yaitu dengan memberikan situasi yang memungkinkan dapat mengubah atau membentuk sikap yang baru yang memungkinkan dapat menimbulkan perubahan atau pembentukan sikap yang dikehendaki.
b.      Perubahan Sikap yang langsung
Hubungan secara langsung ini dapat dengan sengaja diberikan, misal adanya komunikator yang dengan sengaja memberikan sesuatu dengan tujuan untuk membentuk atau mengubah sesuatu sikap tertentu, dalam arti adanya hubungan yang langsung antara komunikator, yang ingin mengubah atau membentuk sikap dengan komunikan, ingin menjadi sasaran yang ingin diubah atau dibentuk sikapnya (http://tugas2kuliah.wordpress.com/2011/11/29).
Menurut ( Azwar S, 2011: 87 ) salah satu aspek yang sangat penting guna memahami sikap manusia adalah masalah pengungkapan (assessment) atau pengukuran (measurement) sikap. Oleh karena itu, masalah pengukuran sikap akan mendapatkan perhatian khusus dalam pembahasan.
Sikap merupakan respon evaluatif  yang dapat berbentuk positif maupun negatif. Hal ini berarti bahwa dalam sikap terkandung adanya preverensi atau rasa suka tak suka terhadap sesuatu sebagai objek sikap. (Azwar. S, 2011:87).
Pengukuran dan sikap, idealnya, harus mencakup semua dimensi itu antara lain: 
Sikap mempunyai arah, artinya sikap terpilih pada dua arah kesetujuan yaitu apakah setuju atau tidak setuju, apakah mendukung atau tidak mendukung, apakah memihak atau tidak memihak pada sesuatu, atau seseorang sebagai objek.
Sikap memiliki intensitas artinya kedalaman atau kekuatan  sikap terhadap sesuatu belum tentu sama walaupun arahnya mungkin tidak berbeda.
Sikap juga memiliki keluasan, maksudnya adalah kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap suatu objek sikap dapat mengenai hanya aspek yang sedikit dan sangat spesifik serta dapat pula mencakup banyak aspek yang ada pada objek sikap.
Sikap juga memiliki konsistensi maksudnya adalah kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemukakan dengan responnya terhadap objek sikap (Azwar, S, 2011:88).
Pengungkapan sikap dalam bentuk self report merupakan metode yang dianggap paling baik. Hal ini dilakukan dengan menggunakan daftar pernyataan-pernyataan yang harus dijawab oleh individu dan disebut sebagai skala sikap.
Skala sikap (attitude scale) yaitu berupa kumpulan pernyataan-pernyataan mengenai suatu obyek sikap. Respon subyek pada setiap pernyataan itu kemudian dapat disimpulkan mengenai arah dan intensitas sikap seseorang. Salah satu sifat skala sikap adalah isi pernyataannya yang dapat berupa pernyataan langsung yang jelas tujuan ukurnya bagi responden. Walaupun responden dapat mengetahui bahwa skala tersebut bertujuan mengukur sikap namun pernyataan tidak langsung ini biasanya tersamar dan mempunyai sifat proyektif. Respon individu terhadap stimulus (pernyataan-pernyataan) sikap yang  berupa jawaban setuju atau tidak setuju itulah yang menjadi indikator sikap seseorang. Respon tampak yang dapat diamati langsung dari jawaban yang diberikan seseorang merupakan bukti satu-satunya yang kita peroleh dan itulah yang menjadi dasar untuk menyimpulkan sikap seseorang atau sikap sekelompok orang (Azwar, S, 2011:59).

D.    Kerangka Konsep dan HiHhjkxskjhHipotesis
          Independen                                                          Dependen              
Pengetahuan
                                                                                                                                  
Sikap
Peran Serta Kader Posyandu
 







Keterangan:
                        : Variabel Independen yang diteliti   

                        : Variabel Dependen

1.      Hipotesa Nol (Ho)
a.       Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan peran serta kader posyandu.
b.      Tidak ada hubungan antara  Sikap dengan peran serta kader posyandu.

2.      Hipotesa Alternatif (Ha)
a.       Ada hubungan antara pengetahuan dengan peran serta kader posyandu.
b.      Ada hubungan antara sikap dengan peran serta kader posyandu.












BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah desain penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan  Cross Sectional“. Dimana data yang menyangkut variable independen dan dependen diteliti dalam waktu yang bersamaan kemudian diolah dan dilakukan dengan analisis.
Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi melalui kuesioner pada kader posyandu yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Tamamaung Kota Makassar. Sampelnya ditentukan berdasarkan pengambilan sampel dengan rumus perkiraan besar sampel kemudian dilakukan analisis untuk mencari ada tidaknya hubungan pengetahuan dan sikap  dengan peranserta kader posyandu.

B.     Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek atau subjek yang mempunyai  kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya (Sugiyono, 2011:117).
Populasi merupakan Keseluruhan kelompok individu objek yang  diminati peneliti (Nursalam,2008).
Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti. Bukan hanya objek atau subjek yang dipelajari saja tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimilki subjek atau objek tersebut (A. aziz Alimul Hidayat, 2008).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tamamaung Kota Makassar.
2.      Sampel
Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagaian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki populasi. Dalam  penelitian keperawatan, criteria sampel merupakan criteria inklusi dan kriteria ekslusi, dimana criteria itu menentukan dapat atau tidaknya sampel tersebut digunakan. (A. aziz Alimul Hidayat, 2008).
Sample adalah bagian dari jumlah atau karakteristik yang di miliki oleh populasi tersebut. (Sugiyono, 2011:118).
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2007). Pada penelitian ini pengambilan sampel yang diambil dengan cara Random Sampling. Dengan menggunakan rumus sampel : (Nursalam, 2008).
Keterangan :
n    : Besar sampel      
N   : Besar populasi
d    : Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan
jadi jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah:

 Pada penelitian ini jumlah sampel yang diambil adalah 187 sampel, dimana sampel yang digunakan adalah semua Kader posyandu yang aktif di wilayah Puskesmas Tamamaung Kecamatan Panakukkang Makassar.
Sehingga berdasarkan  rumus tersebut maka jumlah sampel yang akan diambil dari populasi adalah 187 orang. Namun tidak menutup kemungkinan jumlah sampel tersebut akan berkurang sehubungan dengan kriteria sampel yang diajukan oleh penulis. Adapun kriteria sampel yang dimaksud adalah:
a.       Kriteria inklusi
Kriteria inklusi merupakan criteria dimana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel.
Pada penelitian ini kriteria inklusinya adalah sebagai berikut :
1)      Kader aktif yang mengikuti kegiatan lebih dari 8 kali dalam  satu tahun.
2)      Bersedia diteliti dan menandatangani inform concent.
b.      Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi merupakan kriterian dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sample karena tidak memenuhi syarat sebagai sample penelitian yang menyebabkan adalah hambatan etis, menolak menjadi responden atau berada pada suatu keadaan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian.
Kriteria Eksklusi adalah karakteristik sampel yang tidak dapat dimasukkan atau layak untuk diteliti yaitu :
1)      Kader Posyandu yang tidak aktif.
2)      Tidak bersedia diteliti

C.    Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional
1.      Identifikasi variabel
a.       Variabel Independen
Variabel Independen ini merupakan variable yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variable dependen (tekait) (A. aziz Alimul H, 2008).
Variabel independen dalam  penelitian  ini adalah  pengetahuan dan sikap.
b.      Variabel dependen
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas (Alimul, 2009).
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah  peran serta kader.
2.      Definisi Operasional Variabel
a.       Peranserta
Yang dimaksud peranserta dalam penelitian ini meliputi penimbangan, penyuluhan, pencatatan laporan dan kegiatan lain selain di posyandu.
Kriteria objektif:
Baik           : bila menjawab pertanyaan ≥ 5
Kurang      : bila menjawab pertanyaan < 5
b.      Pengetahuan
Yang dimaksud pengetahuan dalam penelitian ini adalah  pengetahuan kader tentang kegiatan, sasaran dan sistem penyelenggaraan posyandu.
Kriteria objektif:
Tinggi        : bila menjawab pertanyaan ≥ 5
Rendah      : bila menjawab pertanyaan < 5
c.       Sikap
Yang dimaksud sikap dalam penelitian ini adalah sikap dan tingkah laku kader dalam pelayanan di posyandu.
Kriteria objektif:
Tinggi        : bila menjawab pertanyaan ≥ 5
Rendah      : bila menjawab pertanyaan < 5
D.    Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian rencana dilaksanakan di Puskesmas Tamamaung Kecamatan Panakukkang Makassar.
E.     Instrumen Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data atau informasi yang diinginkan, instrumen  yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang dibagikan kepada kader posyandu yang menjadi sampel dan sesuai dengan kriteria yang  ditentukan peneliti.
F.     Pengolahan dan Analisa Data
1.      Pengolahan data
a.       Penyuntingan data (editing)
Setelah data terkumpul peneliti akan mengadakan seleksi dan editing yakni memeriksa sesuai dengan karakteristiknya dan keseragaman data dari hasil kuesioner.
b.      Pengkodean (coding)
Untuk memudahkan pengolahan data maka semua jawaban atau data diberi kode.
c.       Tabulasi (tabulation)
Mengelompokkan data dalam bentuk tabel untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan independen..
2.      Analisa Data
Analisa data dimaksudkan untuk menilai masing-masing variabel dengan menggunakan program komputer SPSS 15.0 for Windows untuk uji statistik. Analisis hubungan variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Analisa univariat
Analisa univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian, analisa ini menghasilkan distribusi dan presentasi dari tiap variabel yang diteliti.
b.      Analisa bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan tiap-tiap variabel independen dan dependen. dengan menggunakan uji statistik Chi-Square dengan tingkat kemaknaan (α) : 0,005, uji statistic yang digunakan adalah chi-square, dengan menggunakan jasa computer program SPSS, adapun rumusan chi-square yang digunakan adalah :
                             
Keterangan:
  = chi kuadrat
Fo  = frekuensi yang diobservasi dalam kategori ke- 1
Fh  = frekuensi yang diharapkan dibawah Ho dalam kategori ke- 1
   = jumlah

G.    Masalah Etika
Dalam  etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, karena akan berhubungan dengan manusia secara langsung, etika yang perlu dan harus diperhatikan ( hidayat, 2009) meliputi:
1.      Informed Consent
Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar perstujuan. Informed Consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberian lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan Informed Consent adalah agar subjek bersedia maka mereka akan menandatangani lembar persetujuan dan jika responden tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak responden.
2.      Anonimity ( tanpa nama )
Anonimity  merupakan masalah etika dalam penelitian keperawatan dengan cara tidak memberikan nama responden pada lembar atau alat ukur, hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data.
3.      Confidentiality ( kerahasiaan )
Confidentiality merupakan masalah etika dengan menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya, semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil penelitian.



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Tamamaung Kota Makassar  pada tanggal ….. ………………….
Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian “deskriptif analitik” Cross-Sectional study. Jumlah populasi ………… orang, pengambilan  sampel pada penelitian ini menggunakan tehnik purposive sampling sehingga didapatkan sampel ……….. responden. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner untuk mengetahui “Apakah ada hubungan pengetahuan dan sikap dengan peranserta kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Tammaung Kota Makassar. Data yang terkumpul selanjutnya di editing, koding, tabulasi dan dianalisis. Kemudian ditentukan frekuensi dan persentasenya dalam bentuk tabel dan grafik kemudian dianalisis sesuai variabel yang telah ditentukan. Hasil pengolahan data dari penelitian ini sebagai berikut:






1.      Analisis Univariat Variabel Penelitian
a.       Pengetahuan
Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar

Pengetahuan
Frekuensi
Persentase %
Tinggi
74
87,1
Rendah
11
12,9
Jumlah
85
100
Sumber: Data Primer
Diagram 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar
 











Pada tabel dan diagram 4.1 menunjukkan bahwa dari 85 responden yang terbanyak adalah responden yang mempunyai pengetahuan tinggi yaitu 74 orang (87,1%) sedangkan responden yang mempunyai pengetahuan rendah sebanyak 11 orang (12,9%).
b.       Pendidikan
Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar

Pendidikan
Jumlah
Persentase (%)
Tinggi
47
55,3
Rendah
38
44,7
Sumber: Data Primer
Jumlah
85
100

Diagram 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar

 








Pada tabel dan diagram 4.2 menunjukkan bahwa dari 85 responden terdapat 47 orang (55,3%) yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi dan 38 orang (44,7%) yang mempunyai tingkat pendidikan rendah.
2.      Analisis Bivariat Hubungan Variabel
a.       Analisis hubungan tingkat pengetahuan dengan peranserta kader posyandu
Tabel 4.3
Hubungan   antara  Tingkat  Pengetahuan  dengan  Peranserta  Kader
Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar

Pengetahuan
Peranserta
Jumlah
Baik
Kurang
n
%
n
%
N
%
Tinggi
70
82,4
4
4,7
74
87.1
Rendah
7
8,2
4
4,7
11
12,9
Jumlah
77
90,6
8
9,4
85
100
Sumber: Data Primer
Pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa dari 85 responden yang memiliki pengetahuan tinggi dan mempunyai peranserta baik sebanyak 70 orang (82,4%), sedangkan yang memiliki pengetahuan rendah mempunyai peranserta kurang sebanyak 4 orang (4,7%).
Hasil Analisis statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan bahwa nilai P=0,001 dan nilai α=0,05 yang berarti P < α dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan antara pengetahuan dengan peran serta kader posyandu.
b.      Analisis hubungan tingkat pendidikan dengan peranserta kader posyandu
Tabel 4.4
Hubungan   antara  Tingkat  Pendidikan   dengan  Peranserta  Kader
Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar

Pendidikan
Peranserta
 Jumlah
Baik
Kurang
n
%
N
%
n
%
Tinggi
41
48,2
6
7,1
47
55,3
Rendah
36
42,4
2
2,4
38
44,7
Jumlah
77
90,6
8
9,4
85
100
Sumber: Data Primer
Pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa dari 85 responden yang memiliki pendidikan tinggi dengan peranserta baik sebanyak 41 orang (48,2%) sedangkan yang memiliki pendidikan rendah dengan peranserta baik sebanyak 36 responden (42,4%).
Hasil Analisis statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan bahwa nilai P=0,239 dan nilai α=0,05 yang berarti P > α dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak berarti tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan peran serta kader posyandu.







B.     Pembahasan
1.      Pembahasan tentang Hubungan antara pengetahuan dengan peranserta kader posyandu
Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa dari 85 responden yang terbanyak adalah responden yang mempunyai pengetahuan tinggi yaitu 74 orang (87,1%) sedangkan responden yang mempunyai pengetahuan rendah sebanyak 11 orang (12,9%), sehingga proporsi pengetahuan yang dimiliki oleh kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar adalah tinggi.
Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa dari 85 responden yang mempunyai pengetahuan tinggi dengan peranserta baik sebanyak 70 orang (82,4%), responden yang mempunyai pengetahuan tinggi dengan peranserta kurang sebanyak 4 orang (4,7%), responden yang mempunyai tingkat pengetahuan rendah dengan peranserta baik sebanyak 7 orang (8,2%) dan responden yang mempunyai tingkat pengetahuan rendah dengan peranserta kurang sebanyak 4 orang (4,7%).
Dari hasil uji statistik Chi-Square dengan menggunakan tabel 2x2 diperoleh nilai p=0,001 dengan α=0,05, berarti Ho ditolak  dan Ha diterima, dengan demikian ada hubungan antara pengetahuan dengan peranserta kader posyandu .
Hal ini didukung dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Siswanto (2002) di posyandu wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara pengetahuan dengan peranserta kader posyandu.
Hal ini didukung pula dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dolfy Achmadi (2006) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros yang menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara pengetahuan dengan peranserta kader posyandu
Hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi pengetahuan kader posyandu semakin tinggi pula peransertanya. Menurut asumsi peneliti bahwa peranserta kader posyandu dipengaruhi oleh pengetahuan tentang kesehatan khususnya pelayanan posyandu, semakin baik pengetahuan maka semakin tinggi peransertanya di posyandu.
2.      Pembahasan tentang Hubungan antara pendidikan dengan peranserta kader posyandu.
Tingkat pendidikan dapat memberikan pengaruh terhadap pemahaman tentang sebuah pengalaman dan rangsang yang diberikan melalui belajar dan media lainnya dimana semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi pula tingkat keterampilan dalam hubungan interpersonal serta semakin tinggi tingkat pendidikan yang dicapai seseorang, maka besar keinginan untuk memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan.
Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa dari 85 responden terdapat 47 orang (55,3%) yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi dan 38 orang (44,7%) yang mempunyai tingkat pendidikan rendah, sehingga proporsi tingkat pendidikan yang dimiliki oleh kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Karuwisi Kota Makassar adalah tinggi.
Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa dari 85 responden  yang mempunyai pendidikan tinggi dengan peranserta baik sebanyak 41 orang (48,2%), kader posyandu yang mempunyai pendidikan tinggi dengan peranserta kurang sebanyak 6 orang (7,1%), kader posyandu yang mempunyai pendidikan rendah dengan peranserta baik sebanyak 36 orang (42,4%) dan kader posyandu yang mempunyai pendidikan rendah dengan peranserta kurang sebanyak 2 orang (2,4%).
Dari hasil uji statistik dengan menggunakan tabel 2x2 yaitu uji Chi-Square diperoleh nilai p=0,239 dengan α=0,05, dalam hal ini Ho diterima dan Ha ditolak dengan demikian tidak ada hubungan antara pendidikan dengan peranserta kader posyandu.
Hal ini didukung hasil penelitian Elva Gusriyanti di wilayah kerja Puskesmas Payakabung Kabupaten Ogan Ilir tahun 2009 yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan peranserta kader posyandu.
Hal ini didukung pula hasil penelitian Umi Khalimah di  wilayah kerja Puskesmas Sekaran Gunungpati Semarang yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan peranserta kader posyandu.


Pada penelitian diatas menunjukkan bahwa tingginya tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap peranserta kader posyandu walaupun tingkat pendidikan kader posyandu rendah tetap mempunyai peranserta tinggi.
Dalam hal ini peranserta dipengaruhi oleh kesadaran dan keinginan untuk ikut serta di dalam kegiatan sosial.

















BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Puskesmas Tammaung Kota Makassar mengenai hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan peran serta kader posyandu, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Bahwa ada hubungan pengetahuan dengan peranserta kader posyandu. Dan dari jumlah sample di Puskesmas Tamamaung ditemukan …. () yang tingkat pengetahuannya masih tergolong kurang.
2.      Bahwa Tidak ada hubungan antara sikap dengan peranserta kader posyandu.
B.     Saran
1.      Diharapkan kepada institusi kesehatan khususnya Puskesmas Tammaung kota Makassar untuk meningkatkan kegiatan pelatihan dan pembinaan kepada kader-kader posyandu terkait bagaimana proses pelayanan kesehatan yang diterapkan di posyandu.
2.      Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti lebih lanjut tentang hubungan pengetahuan dan sikap dengan peranserta kader posyandu. Dan perlu adanya penelitian lanjut mengenai factor lain yang berhubungan dengan peran serta kader dalam memberikan pelayanan kesehatan diposyandu.
3.      Diharapkan kepada kader posyandu agar memperbanyak mengikuti kegiatan pelatihan dan pembinaan supaya lebih mengoptimalkan system pelayanan kesehatan atau kegiatan di posyandu.




















DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Saifuddin (2011). Sikap Manisia, Teori dan Pengukuranya. Ed 2, Pustaka Remaja, Yogyakarta.

------------- (2006). Pedoman Kerja Puskesmas, Kanwil DepKes Propinsi Sulawesi Selatan, Makassar.

------------- (2007). Petunjuk teknis dan Modul Pelatihan Penyuluhan Kesehatan masyarakat dan Rumah Sakit, Jakarta.

------------- (2008). Partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan, Pusat penyuluhan kesehatan masyarakat, Jakarta.

Bangun, (2012). repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31612/pengertian-kader/Chapter%20II.pdf. Diakses 29 Mei 2012. Jam 22.15

DepKes  RI. (2008). Modul Pelatihan Peningkatan Peran serta masyarakat, Jakarta.

Dwi K, Budi R, Fallen R, (2010). “Catatan Kuliah”, Keperawatan Komunitas, Cetakan I, Nuha Medika, Yogyakarta

Desmita. (2008). Psikologi Perkembangan. Rosda, Jakarta.

Fitriyah, (2011). repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24608/hubungan-pengetahuan-dan- sikap./Chapter%20II.pdf. Diakses 29 mei 2012 jam 22. 35

Hidayat, Aziz alimul A. (2008). Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah, Edisi 2, Salemba Medika, Jakarta.

Hadi, (2009). http://skripsi_fkm.blogspot.com./revitalisasi-Posyandu_25 html. Diakses 25 Mei 2012. Jam 08.00

Ismawati S. Cahyo, Dkk. (2010). Posyandu dan Desa Siaga, Panduan untuk kader,dan Bidan, Cetakan I,  Salemba Medika, Yogyakarta.

Kartono, Kartini. (2008). Kamus Lengkap Psikologi. Rajawali Pers, Surabaya.

Mubarak, Ikbal Wahid. dkk (2010). Ilmu Keperawatan Komunitas, Konsep dan Aplikasi. Jilid 2, Salemba Medika. Jakarta.


Mubarak, Ikbal Wahid. dkk (2009). Ilmu Keperawatan Komunitas, Konsep dan Aplikasi. Jilid 2, Salemba Medika. Jakarta.

Mubarak, Ikbal Wahid. (2012). Ilmu Kesehatan Masyarakat, Konsep dan Aplikasi, Salemba Medika. Jakarta

Notoatmodjo, S. (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.

Notoatmodjo, S. (2007). Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu dan Seni, Rineka Cipta, Jakarta

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

Nugroho (2008). jurnal.unimus.ac.id/index.php/FIKkeS/article/keaktifan-kader/221/227. PDF/Adobe Acrobat.  Diakses 29 Mei 2012 jam 22.30

Puskesmas Tamamaung. (2012). Nama-nama Kader dan Jadwal Kegiatan Posyandu, Teratai, Makassar.

Rasdiyanah. (2011). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga dengan Kekambuhan pada Pasien Stroke di RS. Khusus Daerah Propinsi Sulawesi Selatan.

Sumijatun. (2011). Membudayakan Etika Dalam Praktik Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.

Sarwono, Sarlito W. (2012).  Pengantar Psikologi Umum, Rajawali Pers, Jakarta.

Sugiyono, (2011). Metode penelitian Pendidikan, kualitatif, dan kuantitas, Alvabeta, Jakarta.


http://www.google. co.id/search/2008. Posyandu di Abad Modern

http://www.google.Posyandu dan Revitalisasi.com/.2008.



http://www.slideshare.net/2011/11/26/pedoman-pelatihan-kader-posyandu. - Amerika Serikat.

http://www.promosikesehatan.com/news.html

http://unilever.2008/.com
















Lampiran 1
LEMBAR PERMINTAAN MENJADI RESPONDEN
Kepada,-
Yth : …………………………..
Dengan Hormat,
Kami yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan STIKES Panakkukang Makassar, dengan:

Nama               : Zulkarnain
NIM                : 08.01.050
Alamat                        : Jl. Tidung Mariolo Lr. 5 Stpk. I

Akan mengadakan penelitian dengan judul “Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap dengan Peranserta Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Tammaung Kota Makassar”.
Penelitian ini tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bagi ibu sebagai calon responden, kerahasiaan semua informasi yang Ibu berikan merupakan tanggung jawab kami untuk menjaganya. Jika Ibu bersedia ataupun menolak untuk menjadi responden  maka tidak ada ancaman bagi Ibu ataupun keluarga. Jika selama menjadi responden Ibu merasa dirugikan maka Ibu diperbolehkan untuk mengundurkan diri dan tidak berpartisipasi pada penelitian ini.
Demikian surat permintaan ini kami buat, jika Ibu telah menyetujui permintaan kami untuk menjadi responden, maka kami sebagai peneliti sangat mengharapkan kesediaannya untuk menandatangani lembar persetujuan untuk menjadi responden dan menjawab segala pertanyaan yang kami berikan melalui kuesioner.
Atas perhatian dan persetujuan dari Ibu kami mengucapkan terima kasih.
Peneliti
                                                                                                                       Zulkarnain
Lampiran 2
LEMBAR PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia untuk turut serta berpartisipasi dalam penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan STIKES Panakkukang Makassar, dengan:
Nama                           : Zulkarnain
Judul Penelitian           : Hubungan  antara  Pengetahuan  dan   Sikapa denga     Peranserta    Kader    Posyandu  di  Wilayah   Kerja Puskesmas Tammaung Kota Makassar.                               
Saya berharap penelitian ini tidak akan mempunyai dampak negatif serta merugikan bagi saya dan keluarga, sehingga pertanyaan-pertanyaan yang saya jawab benar-benar dapat dirahasiakan .
Demikian lembar persetujuan ini saya tanda tangani dan kiranya dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.



Makassar,…………………..2012
Responden


(                                       )













Lampiran 3
KUESIONER PENELITIAN

Petunjuk
1.      Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan memberikan tanda (X) pada tempat yang tersedia sesuai dengan pilihan saudara
2.      Teliti sekali lagi agar tidak ada pertanyaan yang terlewati atau jawaban yang salah

Hari/ Tanggal              : ……………….
No. Responden           : ………………. (diisi oleh petugas)

A.    Identitas Umum
1.      Nama (inisial)  : ……………………………………………….......
2.      Umur               : ……………………………………………………
3.      Alamat                        : ……………………………………………………
B.     Tingkat Pendidikan
a.       SD/MI
b.      SLTP/MTs
c.       SLTA
d.      Perguruan tinggi
C.    Pertanyaan Pengetahuan
1.      Kegiatan apa saja yang termasuk dalam lima program posyandu?
a.       KIA, KB, Kesehatan usia lanjut dan imunisasi
b.      Gizi, KIA,KB, Imunisasi dan penanggulangan diare
c.       Gizi, Imunisasi, KB, Usila dan kesehatan Jiwa
d.      Kesehatan usia lanjut dan kesehatan jiwa
2.      Kegiatan-kegiatan yang dilakukan kader posyandu antara lain:
a.       Penimbangan bayi, balita dan pencatatan hasil penimbangan
b.      Penyuluhan dan memberi rujukan
c.       Penyuluhan
d.      Semua benar
3.      Bagaimana cara/ sistem penyelenggaraan posyandu
a.       Dilakukan dengan sistem 4 meja
b.      Dilakukan dengan sistem 2 meja
c.       Dilakukan dengan sistem 5 meja
d.      Dilakukan dengan sistem 3 meja
4.      Kegiatan apa saja yang dilakukan di meja I
a.       Penimbangan balita
b.      Pendaftaran
c.       Pengisian KMS
d.      Penyuluhan
5.      Sasaran kegiatan/program posyandu adalah?
a.       Ibu, bayi, balita dan gangguan jiwa
b.      Ibu, bayi, balita dan anak remaja
c.       Ibu, bayi, balita dan PUS
d.      Ibu, balita dan anak remaja
6.      Peran yang lain anda di luar posyandu yakni:
a.       Melakukan pemberian imunisasi pada bayi
b.      Melakukan pencatatan yaitu KB atau Perempuan Usia Subur (PUS), Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), imunisasi dan gizi
c.       Melakukan pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat pada pasien yang sakit
d.      Melakukan penelitian tentang derajat kesehatan masyarakat
7.      Pemberian vitamin A dosis tinggi dilaksanakan 2 kali setahun yakni pada bulan….
a.       Januari dan Agustus                      c. Februari dan Agustus
b.      Januari dan Februari                      d. Januari dan Desember
D.    Pertanyaan Peranserta kader
1.      Apakah anda memberitahu hari dan jam buka posyandu pada ibu bayi/balita sebelum penyelenggaraan posyandu?
a.       Ya
b.      Tidak
2.      Apakah anda lama menjadi kader posyandu?
a.       Ya
b.      Tidak
3.      Apakah anda melaksanakan sistem 5 meja pada kegiatan posyandu?
a.       Ya
b.      Tidak
4.      Selama menjadi kader posyandu, apakah anda pernah tidak hadir dalam kegiatan posyandu (kecuali sakit)?
a.       Pernah
b.      Tidak pernah
5.      Bila anda mendapatkan anak bayi/balita gizi buruk, apakah anda segera melaporkan kepada petugas kesehatan setempat?
a.       Ya
b.      Tidak
6.      Apakah anda memberikan penyuluhan berdasarkan hasil penimbangan berat badan bayi/balita naik dan turun?
a.       Ya
b.      Tidak
7.      Apakah anda membuat laporan hasil kegiatan posyandu setelah kegiatan posyandu selesai kepada petugas kesehatan setempat?
a.       Ya
b.      Tidak





Lampiran 4

Master Tabel

Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Peranserta  Kader Posyandu Di Wilayah Puskesmas Tammaung Kota Makassar

No.
Initial Responden
Pendidikan
Pengetahuan
Peranserta
1
HS
2
1
1
2
SL
2
1
1
3
JN
1
1
2
4
HS
1
1
1
5
RL
1
1
1
6
MD
1
1
1
7
NH
1
1
1
8
KM
1
1
1
9
SA
1
1
1
10
RA
1
1
1
11
HJ
1
1
1
12
ST. A
1
1
1
13
DI
1
1
1
14
AS
1
1
1
15
NR
1
1
1
16
SK
1
1
1
17
RY
1
1
1
18
RB
1
1
1
19
EM
1
1
2
20
DJ
1
1
1
21
HM
1
1
1
22
RM
1
1
1
23
NR
1
1
1
24
HM
1
1
2
25
HJ
1
1
1
26
SL
1
1
1
27
HR
1
2
2
28
SY
1
1
1
29
KM
2
1
1
No.
Initial Responden
Pendidikan
Pengetahuan
Peranserta
30
RS
2
1
1
31
AT
1
1
1
32
MU
1
1
1
33
NL
1
1
1
34
EY
1
1
1
35
NI
1
1
2
36
NB
1
1
1
37
RS
1
1
1
38
HS
1
1
1
39
LI
1
1
1
40
NR
1
1
1
41
MM
1
1
1
42
SD
2
1
1
43
HS
2
1
1
44
HR
2
1
1
45
RI
2
2
2
46
MR
2
1
1
47
HN
2
1
1
48
RL
2
1
1
49
SL
2
1
1
50
MD
1
1
1
51
MN
1
2
2
52
DI
1
1
1
53
RH
1
1
1
54
HA
1
1
1
55
DH
1
1
1
56
HN
2
1
1
57
SR
2
1
1
58
MN
2
1
1
59
SA
2
1
1
60
AR
2
1
1














No.
Initial Responden
Pendidikan
Pengetahuan
Peran serta
61
HS
2
1
1
62
NS
2
1
1
63
SM
2
2
1
64
JN
2
1
1
65
MN
1
1
1
66
SY
1
1
1
67
NM
2
1
1
68
BN
2
1
1
69
BU
2
1
1
70
RT
2
1
1
71
NY
2
1
1
72
EJ
2
1
1
73
KR
2
1
1
74
NA
2
1
1
75
DW
2
2
1
76
RH
2
1
1
77
TN
2
2
2
78
ER
2
2
2
79
RH
2
2
2
80
TI
1
1
1
81
KS
1
2
2
82
DH
2
2
2
83
ML
2
2
1
84
DL
2
1
1
85
UN
2
1
1


Keterangan:
Pengetahuan:                   Pendidikan:                         Peranserta:
1=Tinggi                          1= SLTA dan PT                 1= Tinggi
2=Rendah                       2=SD dan SLTP                  2= Rendah


Lampiran 5

Hasil Analisis SPSS 15.0 for Windows

Frequency Table
                                                                 
                                           Statistics


Pengetahuan
Pendidikan
Peran Serta
N
Valid
85
85
85

Missing
0
0
0
Mean
1.13
1.45
1.09
Median
1.00
1.00
1.00
Mode
1
1
1
Sum
96
123
93







Crosstabs Pengetahuan



Crosstabs Pendidikan
















DAFTAR RIWAYAT HIDUP





1.      IDENTITAS
Nama                                : Zulkarnain
NIM                                 : 0801050
Tempat/Tanggal Lahir        : Bima, 03 Pebruari 2012
Agama                              : Islam
Suku/Bangsa                    : Bima/Indonesia
Alamat                             : Jl. Tidung Mariolo Lr. 5 Stpk I
2.      PENDIDIKAN
Tamat SD di SDN Inpres Lido Kecamatan Belo Kabupaten Bima tahun 2001
Tamat SMP N 2 Ngali Belo Bima  tahun 2005
Tamat SMA di MA Negeri 1 Kota Bima tahun 2008
Sementara menyelesaikan pendidikan pada program S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panakkukang Makassar tahun 2012-2013
 Profesi ners STIKES Nani Hasanuddin Makassar