BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Hepatitis
merupakan inflamasi dan cedera pada hepar, penyakit ini dapat disebabkan oleh
infeksi atau oleh toksin termasuk alkohol dan dijumpai pada kanker hati.
Hepatitis virus adalah istilah yang digunakan untuk infeksi hepar oleh virus,
identifikasi virus penyakit dilakukan terus menerus, tetapi agen virus A, B, C,
D, E, F dan G terhitung kira-kira 95% kasus dari hepatitis virus akut.
Penyakit
hepatitis merupakan urutan pertama dari berbagai penyakit hati diseluruh dunia.
Penyakit ini sangat berbahaya bagi kehidupan karena penykit hepatits ataupun
gejala sisanya bertanggung jawab atas 1-2 juta kematian setiap tahunnya. (Aru,
w sudoyo, 2006 : 429). Infeksi virus hepatitis bisa berkembang menjadi sirosis
atau pengerasan hati bahkan kanker hati. Masalahnya, sebagian besar infeksi
hepatitis tidak menimbulkan gejala dan baru terasa 10-30 tahun kemudian saat
infeksi sudah parah. Pada saat itu gejala timbul, antara lain badan terasa
panas, mual, muntah, mudah lelah, nyeri diperut kanan atas, setelah beberapa
hari air seninya berwarna seperti teh tua, kemudian mata tampak kuning dan
akhirnya seluruh kulit tubuh menjadi kuning. Pasien hepatitis biasanya baru
sembuh dalam waktu satu bulan.
Menurut guru
besar hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga ketua
kelompok kerja Hepatitis Departemen Kesehatan, Alli Sulaiman, virus hepatitis
menginfeksi sekitar 2 miliar orang didunia. Setiap tahun lebih dari 1.300.000
orang meninggal dunia akibat hepatitis beserta komplikasinya. Prevalensi di
Indonesia sekitar 10-15 persen jumlah penduduk atau sekitar 18 juta jiwa. Dari
jumlah yang terinfeksi, kurang dari 10 persen yang terdiagnosis dan diobati.
Sebanyak 90 persen lain tidak menimbulkan gejala sehingga tidak terdiagnosis. Karena
itu, pemeriksaan menjadi penting.
Insiden
hepatitis yang terus meningkat semakin menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Penyakit ini menjadi penting karena mudah ditularkan, memiliki morbiditas yang
tinggi dan menyebabkan penderitanya absen dari sekolah atau pekerjaan untuk
waktu yang lama. 60-90% dari kasus-kasus hepatitis virus diperkirakan
berlangsung tanpa dilaporkan. Keberadaan kasus-kasus subklinis,
ketidakberhasilan untuk mengenali kasus-kasus yang ringan dan kesalahan
diagnosis diperkirakan turut menjadi penyebab pelaporan yang kurang dari
keadaan sebenarnya. (Brunner & Sudarth, 2001 : 1169)
Pada umumnya pasien
yang menderita penyakit hepatitis ini mengalami Anoreksia atau penurunan nafsu
makan dimana gejala ini diperkirakan terjadi akibat pelepasan toksin oleh hati
yang rusak untuk melakukan detoksifikasi produk yang abnormal sehingga pasien
ini haruslah mendapatkan nutrisi yang cukup agar dapat memproduksi enegi
metabolik sehingga pasien tidak mudah lelah. Secara khusus terapi nutrisi yang
didesain dapat diberikan melalui rute parenteral atau enteral bila penggunaan
standar diet melalui rute oral tidak adekuat atau tidak mungkin untuk
mencegah/memperbaiki malnutrisi protein-kalori. Nutrisi enteral lebih ditujukan
pada pasien yang mempunyai fungsi GI tetapi tidak mampu mengkonsumsi masukan
nasogastrik. Nutrisi parenteral dapat dipilih karena status perubahan metabolik
atau bila abnormalitas mekanik atau fungsi dari saluran gastrointestinal
mencegah pemberian makan enteral. Asam amino,karbohidrat, elemen renik, vitamin
dan elektrolit dapat diinfuskan melalui vena sentral atau perifer. (Marilyn E.
Doengoes, 1999: 758)
Pentingnya
mengetahui penyebab hepatitis bagi pasien adalah apabila ada anggota keluarga
menderita penyakit yang sama, supaya anggota keluarga dan pasien siap
menghadapi resiko terburuk dari penyakit hepatitis beserta komplikasinya
sehingga penderita mampu menyiapkan diri dengan pencegahan dan pengobatan
yaitu: penyediaan makanan dan air bersih yang aman, sistem pembuangan sampah
yang efektif, perhatikan higiene secara umum, mencuci tangan, pemakaian
kateter, jarum suntik dan spuit sekali pakai serta selalu menjaga kondisi tubuh
dengan sebaik-baiknya. Apabila hal ini tidak dilakukan dengan benar dan teratur
berarti keluarga dan penderita harus siap menerima resiko komplikasi lainnya
dan bahkan dapat menyebabkan kematian.
Dalam
memberikan pelayanan kesehatan memerlukan asuhan keperawatan yang tepat,
disamping itu juga memerlukan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan, sehingga akibat dan komplikasi dapat dihindari
seperti memberi penjelasan tentang Hepatitis antara lain: penyebab, tanda dan
gejala, pengobatan, perawatan, penularan dan akibat yang didapat kalau
pengobatan tidak dilakukan.
B. Tujuan
1.
Tujuan
Umum
tujuan umum dari penulisan laporan seminar kasus
ini,untuk mengetahuai gambaran umum tentang asuhan keperawatan dengan hepatitis
dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan dan memperoleh pengalaman
dalam penyusunan laporan seminar kasus.
2.
Tujuan
Khusus
a. Melakukan
pengkajian pada pasien hepatitis
b. Menegakkan
diagnosa keperawatan pada pasien hepatitis
c. Menyusun
rencana keperawatan pada pasien hepatitis
d. Melakukan
tindakan keperawatan pada pasien hepatitis
e. Mengevaluasi
hasil tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien hepatitis
f.
Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pasien
hepatitis
C. Metode penulisan
metode
yang digunakan dalam penulisan studi kasus ini adalah metode deskriftif yaitu
suatu metode ilmiah yang menggambarkan tentang asuhan keperawatan dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan pada pasien dengan hepatitis. Adapaun
tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah:
1. Wawancara
Yaitu suatu cara pengumpulan data dengan teknik tanya
jawab dengan pasien dan keluarga dalam hal identitas, alasan dirawat, keluhan
utama, riwayat penyakit tertentu dan data-data lain yang diperlukan.
2. Observasi
Pengumpulan data dengan cara mengamati
perubahan-perubahan yang terjadi pada pasien baik secara fisik maupun
sikologis.
3. Pemeriksaan
fisik
Pengumpulan data dengan cara melakukan pemeriksaan
dengan teknik inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi pada pasien guna
mendapatkan data yang objektif tentang keadaan pasien secara umum maupun khusus.
4. Studi
dokumentasi
Pengumpulan data dengan cara menggunakan bukti-bukti
tertulis antara lain catatan medis catatan perawat dan data penunjang antara
lain hasil pemeriksaan labortaorium.
5. Studi
kepustakaan
Studi kepustakaan diperlukan untuk memudahkan dalam
teknik pengumpulan data yang dapat digunakan sebagai referensi atau acuan dalam
melakukan pengumpulan data.
D. Sistematika
penulisan
Untuk memudahkan dalam pemahaman laporan studi kasus
ini, maka laporan studi kasus ini disusun dalam 4 BAB dengan Sub-sub yaitu:
a. BAB
I memuat tentang pendahuluan yang meliputi latar belakang, tujuan penulisan,
metode dan sistematika penulisan.
b. BAB
II memuat tentang kajian teori.
c. BAB
III memuat tentang tinjauan kasus yang melipiti pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
d. BAB
IV merupakan bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
KONSEP MEDIS
1.
Pengertian
Hepatitis adalah suatu proses peradangan
difus pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi
toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia.
Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh
virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer,
2001).
Hepatitis adalah peradangan pada hati atau infeksi
pada hati (Elizabeth J. Corwin, 2001). Hepatitis ada yang akut dan ada juga
yang kronik. Hepatitis akut adalah penyakit infeksi akut dengan gejala utama
yang berhubungan erat dengan adanya nekrosis pada jaringan hati.
Hepatitis kronik adalah suatu sindrom klinis dan
patologis yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi yang ditandai oleh berbagai
tingkat peradangan dan nekrosis pada hati yang berlangsung terus-menerus tanpa
penyembuhan dalam waktu palaing sedikit 6 bulan.
2.
Anatomi fisiologi
a. Anatomi
Hati terletak dibelakang tulang – tulang iga (kosta) dalam rongga abdomen daerah kanan atas. Hati memiliki berat sekitar 1500 gr, dan dibagi menjadi empat lobus. Setiap lobus hati terbungkus oleh lapisan tipis jaringan ikat yang membentang ke dalam lobus itu sendiri dan membagi massa hati menjadi unit – unit yang lebih kecil, yang disebut lobulus (Smeltzer, Suzanne C, 2001).
Hati terletak dibelakang tulang – tulang iga (kosta) dalam rongga abdomen daerah kanan atas. Hati memiliki berat sekitar 1500 gr, dan dibagi menjadi empat lobus. Setiap lobus hati terbungkus oleh lapisan tipis jaringan ikat yang membentang ke dalam lobus itu sendiri dan membagi massa hati menjadi unit – unit yang lebih kecil, yang disebut lobulus (Smeltzer, Suzanne C, 2001).
Unit fungsional dasar hati adalah lobulus hati, yang
berbentuk silindris dengan panjang beberapa milimeter dan berdiameter 0,8
sampai 2 milimeter. Hati manusia berisi 50.000 sampai 100.000 lobulus
Sirkulasi darah ke dalam dan ke luar hati sangat
penting dalam penyelenggaraan fungsi hati. Darah yang mengalir ke dalam hati
berasal dari dua sumber. Kurang lebih 75 % suplai darah datang dari vena porta
yang mengalirkan darah yang kaya akan nutrien dari traktus gastrointestinal. Bagian
lain suplai darah tersebut masuk ke dalam hati lewat arteri hepatika dan banyak
mengandung oksigen. Cabang–cabang terminalis kedua pembuluh darah ini bersatu
untuk membentuk capillary beds bersama yang merupakan sinusoid hepatik. Dengan
demikian, sel–sel hati (hepatosit) akan terendam oleh campuran darah vena dan
arterial. Sinusoid mengosongkan isinya ke dalam venule yang berada pada bagian
tengah masing–masing lobulus hepatik dan dinamakan vena sentralis. Vena
sentralis bersatu membentuk vena hepatika yang merupakan drainase vena dari
hati dan akan mengalirkan isinya ke dalam vena kava inferior di dekat diafragma.
Disamping hepatosit, sel–sel fagositik yang termasuk dalam sistem retikuloendotelial juga terdapat dalam hati. Dalam hati, sel–sel ini dinamakan sel Kupffer. Fungsi utama sel Kupffer adalah memakan benda partikel (seperti bakteri) yang masuk ke dalam hati lewat darah portal.
Disamping hepatosit, sel–sel fagositik yang termasuk dalam sistem retikuloendotelial juga terdapat dalam hati. Dalam hati, sel–sel ini dinamakan sel Kupffer. Fungsi utama sel Kupffer adalah memakan benda partikel (seperti bakteri) yang masuk ke dalam hati lewat darah portal.
Saluran empedu terkecil yang disebut kanalikulus
terletak di antara lobulus hati. Kanalikulus menerima hasil sekresi dari
hepatosit dan membawanya ke saluran empedu yang lebih besar yang akhirnya akan
membentuk duktus hepatikus. Duktus hepatikus dari hati dan duktus sistikus dari
kandung empedu bergabung untuk membentuk duktus koledokus (common bile duct)
yang akan mengosongkan isinya ke dalam intestinum. Aliran empedu ke dalam
intestinum dikendalikan oleh sfingter Oddi yang terletak pada tempat sambungan
(junction) di mana duktus koledokus memasuki duodenum (Smeltzer, Susanne C,
2001)
b. Fungsi
Hati
Fungsi dasar hati dapat dibagi menjadi (1) fungsi
vaskular untuk menyimpan dan menyaring darah, (2) fungsi metabolisme yang
berhubungan dengan sebagian besar sistem metabolisme tubuh, dan (3) fungsi
sekresi dan ekskresi yang berperan membentuk empedu yang mengalir melalui
saluran empedu ke saluran pencernaan (Guyton, Arthur C, 1997).
a) Fungsi
sistem vaskular hepar
Kira-kira 1100 mililiter darah mengalir dari vena
porta ke sinusoid hati setiap menit, dan tambahan sekitar 350 mililiter lagi
mengalir ke sinusoid dari arteri hepatika, dengan total rata-rata 1450
ml/menit. Jumlah ini sekitar 29% dari sisa curah jantung., hampir satu pertiga
dari aliran total darah tubuh.
b) Volume
darah normal hati 450 ml. bila tekanan tinggi didalam atrium kanan menyebabkan
tekanan balik dalam hati, hati meluas dan oleh karena itu 0,5 sampai 1 liter
cadangan darah kadang–kadang disimpan di dalam vena hepatika dan sinus hepatika,
terutama pada gagal jantung. Sel Kupffer dapat membersihkan darah dengan sangat
efisien sewaktu darah melewati sinus. Mungkin tidak lebih dari 1 persen bakteri
yang masuk ke darah porta dari usus berhasil melewati hati ke dalam sirkulasi
sistemik.
c) Fungsi
metabolik hati
1) Metabolisme
glukosa
Sesudah makan, glukosa diambil dari darah vena portal
oleh hati dan diubah menjadi glikogen yang disimpan dalam hepatosit.
Selanjutnya glikogen diubah kembali menjadi glukosa dan jika diperlukan
dilepaskan ke dalam aliran darah untuk mempertahankan kadar glukosa yang
normal. Glukosa tambahan dapat disintesis oleh hati lewat proses yang dinamakan
glukoneogenesis. Untuk melaksanakan proses ini, hati menggunakan asam–asam
amino hasil pemecahan protein atau laktat yang diproduksi oleh otot yang
bekerja.
2) Konversi
amonia
Penggunaan asam-asam amino untuk glukoneogenesis akan
membentuk amonia sebagai hasil sampingan. Hati mengubah amonia yang dihasilkan
oleh proses metabolik ini menjadi ureum. Amonia yang diproduksi oleh bakteri
dalam intestinum juga akan dikeluarkan dari dalam darah portal untuk sintesis
ureum. Dengan cara ini, hati mengubah amonia yang merupakan toksin berbahaya
menjadi ureum, yaitu senyawa yang dapat diekskresikan ke dalam urin.
3) Metabolisme
protein
Organ ini mensintesis hampir seluruh plasma protein
(kecuali gammaglobulin), termasuk albumin, alfa dan beta globulin, fakto-faktor
pembekuan darah, protein transport yang spesifik dan sebagian besar lipoprotein
plasma. Vitamin K diperlukan oleh hati untuk mensintesis protrombin dan
sebagian faktor pembekuan lainnya. Asam-asam amino berfungsi sebagai unsur
pembangun bagi sintesis protein.
4) Metabolisme
lemak
Asam–asam lemak dapat dipecah untuk memproduksi energi
dan badan keton (asam asetoasetat, asam beta hidroksibutirat serta aseton).
Badan keton merupakan senyawa-senyawa kecil yang dapat masuk ke dalam aliran
darah dan menjadi sumber energi bagi otot serta jaringan tubuh lainnya.
5) Penyimpanan
vitamin dan zat besi
Vitamin A, B12, D dan beberapa vitamin B-kompleks
disimpan dengan jumlah yang besar dalam hati. Substansi tertentu, seperti besi
dan tembaga juga disimpan dalam hati.
6) Metabolisme
obat
Banyak obat, seperti barbiturat dan amfetamin,
dimetabolisasi oleh hati. Metabolisme umumnya menghilangkan aktivitas obat
tersebut meskipun pada sebagian kasus, aktivasi obat dapat terjadi. Salah satu
lintasan penting untuk metabolisme obat meliputi konjungasi (pengikatan) obat
tersbut dengan sejumlah senyawa.
d) Ekskresi
bilirubin dalam empedu
Bila sel darah merah sudah habis masa hidupnya,
rata-rata 120 hari, dan menjadi terlalu rapuh untuk bertahan lebih lama dalam
sistem sirkulasi, membran selnya pecah dan hemoglobin yang lepas difagositosis
oleh jaringan makrofak di seluruh tubuh. Disini, hemoglobin pertama kali
dipecah menjadi globin dan heme, dan cincin heme dibuka untuk memberikan (1)
besi bebas yang ditranspor ke dalam darah oleh tranferrin, dan (2) rantai lurus
dari empat inti pirol yaitu substrat dari mana nantinya pigmen empedu akan
dibentuk. Pigmen pertama yang dibentuk adalah biliverdin, tetapi ini dengan
cepat direduksi menjadi bilirubin bebas, yang secara bertahap dilepaskan ke
plasma. Bilirubin bebas dengan segera bergabung sangat kuat dengan albumin
plasma dan ditranspor dalam kombinasi ini melalui darah dan cairan
interstitial.
Dalam beberapa jam, bilirubin bebas diabsorbsi melalui
membran sel hati. Sewaktu memasuki sel hati, bilirubin dilepaskan dari albumin
plasma dan segera setelah itu kira-kira 80 persen dikonjugasi dengan asam
glukoronat untuk membentuk bilirubin glukoronida, kira-kira 10 persen dengan
sulfat membentuk bilirubin sulfat, dan akhirnya 10 persen berkonjugasi dengan
berbagai zat lainnya. Dalam bentuk ini, bilirubin dikeluarkan melalui proses
transpor aktif ke dalam kanalikuli empedu dan kemudian masuk ke usus (Smeltzer
Suzanne C, 2001).
3.
Etiologi
Virus hepatitis :
1. Virus
hepatitis A (HVA)
2. Virus
hepatitis B (HBV)
3. Virus
hepatitis C (HCV)
4. Virus
hepatitis D (HDV)
5. Virus
hepatitis E (HEV)
6. Bakteri
7. Cedera
toksik
Faktor-faktor penyabab hepatitis antara lain:
a.
Virus
Type A
|
Type B
|
Type C
|
Type D
|
Type E
|
|
Metode transmisi
|
Fekal-oral melalui orang lain
|
Parenteral seksual, perinatal
|
Parenteral jarang seksual, orang ke orang, perinatal
|
Parenteral perinatal, memerlukan koinfeksi dengan type B
|
Fekal-oral
|
Keparah-an
|
Tak ikterik dan asimto- matik
|
Parah
|
Menyebar luas, dapat berkem-bang sampai kronis
|
Peningkatan insiden kronis dan gagal hepar akut
|
Sama dengan D
|
Sumber virus
|
Darah, feces, saliva
|
Darah, saliva, semen, sekresi vagina
|
Terutama melalui darah
|
Melalui darah
|
Darah, feces, saliva
|
b.
Alkohol
Menyebabkan alkohol hepatitis dan
selanjutnya menjadi alkohol sirosis.
c.
Obat-obatan
Menyebabkan toksik untuk hati,
sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut.
4.
Klasifikasi
a.
Hepatitis A
1.
Ditularkan melalui praktir oral-anal, makanan
terkontaminasi, dan kerang.
2.
Periode inkubasi kira – kira 2 – 6 minggu, yang merupakan
periode paling menular.
3.
Profilaksis: globulin imun sebelum dan setelah
pemajanan memberikan imunitas pasif selama 2 – 3 bulan.
b.
Hepatitis B
1.
Ditularkan melalui darah dan produk darah melalui
transfusi terkontaminasi dan kulit dan membran mukosa yang rusak melalui jarum
terkontaminasi, koitus seksual, tato, kontak langsung dengan luka terbuka, atau
melalui memegang alat dan bahan terkontaminasi.
2.
Periode inkubasi kira – kira 6 minggu sampai 6 bulan.
3.
Individu dipertimbangkan menular selama permukaan
antigen tampak. Status karier atau hepatitis virus kronis (HBV) ada bila
permukaan antigen masih dapat terdeteksi setelah enam bulan.
4.
Profilaksis : vaksin HBV sebelum pemajanan memberikan
imunitas aktif. Untuk mempertahankan imunitas, vaksin harus diulang setelah
satu bulan, enam bulan, dan tujuh tahun. Pemberian imunoglobulin hepatitis B
(HBIG) memberi imunitas pasif pada individu tanpa vaksin yang terpajan virus.
c.
Hepatitis C
1)
Ditularkan melalui rute yang sama dengan HBV
2)
Periode inkubasi kira – kira 2 minggu sampai 6 bulan.
3)
Profilaksis : Globulin imun sebelum dan setelah
pemajanan memberikan imunitas pasif untuk 2 – 3 bulan.
4)
Diyakini penyebab dari hepatitis pascatransfusi.
d.
Hepatitis D
Varian lain dari bentuk hepatitis B virus, sering
terlihat pada pengguna obat IV (Hollinger dalam Engram, Barbara, 1998). Ini
menyebabkan laju mortalitas tinggi.l virus hepatitis delta untuk tetap ada,
hepatitis virus B juga pasti ada. bentuk varian dari hepatitis virus ini
ditularkan dalam cara yang sama seperti hepatitis B dan mempunyai karakteristik
serupa. Jadi profilaksis digunakan untuk hepatitis B juga efektif untuk baik
hepatitis C dan hepatitis delta.
e.
Hepatitis E
Virus hepatitis E, yang merupakan jenis virus
hepatitis terbaru yang teridentifikasi, dianggap ditularkan melalui jalur fekal-oral.
Masa inkubasi hepatitis E bervariasi dan diperkirakan berkisar dari 15 hingga
65 hari. Awitan dan gejalanya serupa dengan yang terdapat pada tipe hepatitis
virus yang lain. (Brunner et al, 2001).
5.
Patofisiologi.
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat
disebabkan oleh infeksi virus dan reaksi toksik terhadap obat-obatan dan
bahan-bahan kimia. Unit fungsional darah dari hepar disebut lobule karena
memiliki suplai darah sendiri. Seiring dengan berkembangnya inflamasi pada
hepar. Pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal
pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar.
Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang rusak dibuang dari tubuh oleh respon
imune digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya sebagian
besar oleh pasien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal
(Hudak dan Gallo, 1994, Keperawatan Kritis Volume II, EGC, Jakarta).
Inflamasi
yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan
oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional
dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai darah
sendiri. Sering dengan berkembangnya inflamasi pada hepar, pola normal pada
hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini
menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya,
sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem imun dan
digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian besar pasien
yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal.
Inflamasi
pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu badan dan
peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut
kuadran kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri
di ulu hati.
Timbulnya
ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah billirubin yang
belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi karena
adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka terjadi
kesukaran pengangkutan billirubin tersebut didalam hati. Selain itu juga
terjadi kesulitan dalam hal konjugasi. Akibatnya billirubin tidak sempurna
dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi retensi (akibat kerusakan
sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu belum mengalami konjugasi
(bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin
direk). Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran
dalam pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin.
Tinja
mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat (abolis).
Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat dieksresi ke
dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap.
Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam
empedu dalam darah yang akan menimbulkan gatal-gatal pada ikterus.
6.
Tanda Dan Gejala
1.
Masa tunas
Virus A : 15-45 hari (rata-rata 25 hari)
Virus B : 40-180 hari (rata-rata 75 hari)
Virus non A
dan non B : 15-150 hari (rata-rata 50 hari)
2.
Fase Pre Ikterik
Keluhan umumnya tidak khas.
Keluhan yang disebabkan infeksi virus berlangsung sekitar 2-7 hari. Nafsu makan
menurun (pertama kali timbul), nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu hati)
dirasakan sakit. Seluruh badan pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan
malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu badan meningkat sekitar 39oC
berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal
mencolok pada hepatitis virus B.
3.
Fase Ikterik
Urine berwarna seperti teh pekat,
tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan disertai dengan bradikardi. Ikterus
pada kulit dan sklera yang terus meningkat pada minggu I, kemudian menetap dan
baru berkurang setelah 10-14 hari. Kadang-kadang disertai gatal-gatal pasa
seluruh badan, rasa lesu dan lekas capai dirasakan selama 1-2 minggu.
4.
Fase penyembuhan
Dimulai saat menghilangnya
tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu hati, disusul bertambahnya
nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine
tampak normal, penderita mulai merasa segar kembali, namun lemas dan lekas
capai.
7.
Pencegahan
a.
Hepatitis A mempunyai jalur penularan fekal-oral;
sanitasi yang jelek. Kontak antar manusia. Dibawa oleh air dan makanan.
b.
Hepatitis B ditularkan melalui jalur parenteral; atau
lewat kontak dengan karier atau penderita infeksi akut; kontak seksual dan oral-oral,
penularan perinatal dari ibu kepada bayinya. Ancaman kesehatan kerja yang
penting bagi petugas kesehatan.
c.
Hepatitis C ditularkan melalui transfusi darah dari
produk darah; terkena darah yang terkontaminasi lewat peralatan atau
parafenalia obat.
d.
Hepatitis D. penularan sama seperti HBV, antigen
permukaan HBV diperlukan untuk replikasi; pola penularan serupa dengan pola
penularan hepatitis B.
e.
Hepatitis E ditularkan melalui jalur fekal-oral;
kontak antar manusia dimungkinkan meskipun resikonya rendah.
Karena
terbatasnya pengobatan hepatitis, maka penekanan lebih diarahkan pada
pencegahan diataranya sebagai berikut :
a.
Kini tersedia globulin imun HBV tertinggi (HBIG) dan
vaksin untuk pencegahan dan pengobatan HBV, utamanya bagi petugas yang terlibat
dalam kontak resiko tinggi misalnya pada hemodialisis, transfusi tukar dan
terapi parenteral perlu sangat hati-hati dalam menangani peralatan parenteral
tersebut.
b.
Hindari kontak langsung dengan barang yang
terkontaminasi virus hepatitis akut.
c.
Pelihara personal hygiene dan lingkungan.
d.
Gunakan alat-alat disposible untuk suntik.
Alat-alat yang terkontaminasi disterilkan.
8.
Penatalaksanaan
Tirah baring selama stadium akut dan diet yang akseptabel serta bergizi merupakan bagian dari pengobatan dan asuhan keperawatan. Selama periode anoreksia, pasien harus makan sedikit-sedikit tapi sering dan jika diperlukan, disertai dengan infus glukosa. Karena pasien sering menolak makan, kreativitas dan bujukan yang persisten namun dilakukan dengan halus mungkin diperlukan untuk merangsang selera makan pasien. Jumlah makanan dan cairan yang optimal diperlukan untuk menghadapi penurunan berat badan dan kesembuhan yang lambat. Namun demikian, banyak pasien telah pulih selera makannya bahkan sebelum fase ikterik sehingga tidak perlu diingatkan untuk mempertahankan diet yang baik.
Tirah baring selama stadium akut dan diet yang akseptabel serta bergizi merupakan bagian dari pengobatan dan asuhan keperawatan. Selama periode anoreksia, pasien harus makan sedikit-sedikit tapi sering dan jika diperlukan, disertai dengan infus glukosa. Karena pasien sering menolak makan, kreativitas dan bujukan yang persisten namun dilakukan dengan halus mungkin diperlukan untuk merangsang selera makan pasien. Jumlah makanan dan cairan yang optimal diperlukan untuk menghadapi penurunan berat badan dan kesembuhan yang lambat. Namun demikian, banyak pasien telah pulih selera makannya bahkan sebelum fase ikterik sehingga tidak perlu diingatkan untuk mempertahankan diet yang baik.
9.
Komplikasi
Komplikasi hepatitis virus yang paling sering dijumpai adalah perjalanan penyakit yang memanjang hingga 4 sampai 8 bulan. Keadaan ini dikenal sebagai hepatitis kronis persisten. Sekitar 5 % dari pasien hepatitis virus akan mengalami kekambuhan setelah serangan awal yang dapat dihubungkan dengan alkohol atau aktivitas fisik yang berlebihan. Setelah hepatitis virus akut sejumlah kecil pasien akan mengalami hepatitis agresif atau kronik aktif dimana terjadi kerusakan hati seperti digerogoti (piece meal) dan perkembangan sirosis. Akhirnya satu komplikasi lanjut dari hepatitis yang cukup bermakna adalah perkembangan karsinoma hepatoseluler.
Komplikasi hepatitis virus yang paling sering dijumpai adalah perjalanan penyakit yang memanjang hingga 4 sampai 8 bulan. Keadaan ini dikenal sebagai hepatitis kronis persisten. Sekitar 5 % dari pasien hepatitis virus akan mengalami kekambuhan setelah serangan awal yang dapat dihubungkan dengan alkohol atau aktivitas fisik yang berlebihan. Setelah hepatitis virus akut sejumlah kecil pasien akan mengalami hepatitis agresif atau kronik aktif dimana terjadi kerusakan hati seperti digerogoti (piece meal) dan perkembangan sirosis. Akhirnya satu komplikasi lanjut dari hepatitis yang cukup bermakna adalah perkembangan karsinoma hepatoseluler.
10.Pemeriksaan Diagnostik
1.
Laboratorium
a.
Pemeriksaan
pigmen
- Urobilirubin direk
- Bilirubun serum total
- Bilirubin urine
- Urobilinogen urine
- Urobilinogen feses
b.
Pemeriksaan
protein
- Protein totel serum
- Albumin serum
- Globulin serum
- Hbsag
c.
Waktu
protombin
Respon waktu protombin terhadap
vitamin K
d.
Pemeriksaan
serum transferase dan transaminase
- AST atau SGOT
- ALT atau SGPT
- LDH
- Amonia serum
2.
Radiologi
- foto rontgen abdomen
- pemindahan hati denagn preparat technetium,
emas, atau rose bengal yang berlabel radioaktif
- kolestogram dan kalangiogram
- arteriografi pembuluh darah
seliaka
3.
Pemeriksaan
tambahan
- laparoskopi
- biopsi hati
B.
KONSEP KEPERAWATAN
1.
Pengkajian
Tahap pengkajian dari proses keperawatan merupakan proses dinamis yang terorganisir yang meliputi tiga aktivitas dasar : mengumpulkan data, menyortir dan mengatur data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data dalam format yang dapat dibuka kembali. Dengan menggunakan beberapa teknik, anda berfokus pada pendapatan profil pasien yang akan memungkinkan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien dan diagnosa yang cocok, merencanakan masalah, mengimplementasikan intervensi dan mengevaluasi hasil. Profil ini disebut data-data pasien.
Tahap pengkajian dari proses keperawatan merupakan proses dinamis yang terorganisir yang meliputi tiga aktivitas dasar : mengumpulkan data, menyortir dan mengatur data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data dalam format yang dapat dibuka kembali. Dengan menggunakan beberapa teknik, anda berfokus pada pendapatan profil pasien yang akan memungkinkan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien dan diagnosa yang cocok, merencanakan masalah, mengimplementasikan intervensi dan mengevaluasi hasil. Profil ini disebut data-data pasien.
Data dasar pasien memberikan suatu pengertian tentang
status kesehatan pasien yang menyeluruh. Data tergantung pada penyebab dan beratnya
kerusakan/gangguan hati.
Data dasar pengkajian pasien hepatitis :
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise umum.
b. Sirkulasi
Tanda : Bradikardi (hiperbilirubinemia berat). Ikterik pada sklera, kulit dan membran mukosa.
Tanda : Bradikardi (hiperbilirubinemia berat). Ikterik pada sklera, kulit dan membran mukosa.
c. Eliminasi
Gejala : Urine gelap, diare/konstipasi : faeces warna tanah liat,adanya/ berulangnya hemodialisa.
Gejala : Urine gelap, diare/konstipasi : faeces warna tanah liat,adanya/ berulangnya hemodialisa.
d. Makanan
dan cairan
Gejala : Hilang nafsu makan (anoreksia, penurunan
berat badan atau meningkat (oedema), mual/muntah.
e. Neurosensori
Tanda : Peka rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriktis.
Tanda : Peka rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriktis.
f.
Nyeri/kenyamanan
Gejala : Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas, artralgia, mialgia, sakit kepala, gatal (pruritus).
Tanda : Otot tegang, gelisah.
Gejala : Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas, artralgia, mialgia, sakit kepala, gatal (pruritus).
Tanda : Otot tegang, gelisah.
g. Pernafasan
Tanda : Tidak minat/enggan merokok (perokok).
Tanda : Tidak minat/enggan merokok (perokok).
h. Keamanan
Gejala : Adanya transfusi darah/produk darah.
Gejala : Adanya transfusi darah/produk darah.
Tanda : Demam
Urtikaria, lesi makula papular, eritema tak beraturan
eksaserbasi jerawat.
Angioma jaring-jaring, eritema palmar, ginekomastia
(kadang-kadang ada pada hepatitis alkoholik).
i.
Seksualitas
Gejala : Pola hidup/perilaku meningkatkan resiko
terpanjang (contoh : homoseksual aktif/biseksual pada wanita).
2.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinik mengenai
respons individu, keluarga, dan komunitas terhadap masalah kesehatan/proses
kehidupan yang aktual dan potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar
untuk pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang merupakan
tanggung jawab perawat (Doenges, Marilynn E, 1998).
Diagnosa keperawatan yang lazim timbul pada penderita
hepatitis (Doenges, Marilynn E, 1999) adalah sebagai berikut :
a. Intolerans
aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum ; penurunan kekuatan/ketahanan :
nyeri.
b. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan untuk
memenuhi kebutuhan metabolik : anoreksia, mual/muntah, gangguan absorbsi dan
metabolisme pencernaan makanan : penurunan peristaltik (refleks viseral),
empedu tertahan.
c. Resiko
tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ketiga (acites), gangguan
proses pembekuan.
d. Harga
diri rendah situasional berhubungan dengan Gejala : Jengkel /marah , terkurung
/ isolasi, sakit lama /periode penyembuhan.
e. Resiko
tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat
(contoh leukopenia, penekanan respon inflamasi) dan depresi imun, malnutrisi,
kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pada patogen.
f.
Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit/jaringan
berhubungan dengan zat kimia, akumulasi garam empedu dalam jaringan.
g. Kurang
pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan salah interpretasi, tidak mengenal sumber informasi.
3.
Perencanaan
Perencanaan adalah proses yang terdiri dari dua bagian; pertama identifikasi tujuan dan hasil yang diinginkan dari pasien untuk memperbaiki masalah kesehatan atau kebutuhan yang telah dikaji, dan kedua, pemilihan intervensi keperawatan yang tepat untuk membantu pasien dalam mencapai hasil yang diinginkan.
Perencanaan berdasarkan diagnosa keperawatan yang lazim pada hepatitis sebagai berikut:
Perencanaan adalah proses yang terdiri dari dua bagian; pertama identifikasi tujuan dan hasil yang diinginkan dari pasien untuk memperbaiki masalah kesehatan atau kebutuhan yang telah dikaji, dan kedua, pemilihan intervensi keperawatan yang tepat untuk membantu pasien dalam mencapai hasil yang diinginkan.
Perencanaan berdasarkan diagnosa keperawatan yang lazim pada hepatitis sebagai berikut:
a.
Intolerans
aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum ; penurunan kekuatan/ketahanan :
nyeri.
Tujuan :
-
Menyatakan pemahaman situasi/faktor resiko dan program
pengobatan individu.
Kriteria :
-
Menunjukkan teknik/perilaku kemampuan kembali
melakukan aktivitas.
-
Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi
aktivitas.
Intervensi :
1. Tingkatkan
tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung.
Rasional
:
Meningkatkan istirahat dan ketenangan, menyediakan
energi yang digunakan untuk penyembuhan.
2. Ubah
posisi dengan sering, perawatan kulit yang baik.
Rasional :
Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan
pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.
3. Lakukan
tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.
Rasional :
Rasional :
Memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa
gangguan.
4. Tingkatkan
aktivitas sesuai intoleransi, bantu melakukan rentang gerak sedikit
pasif/aktif.
Rasional:
5. Tirah
baring yang lama dapat menurunkan kemampuan, ini dapat terjadi karena
keterbatasan aktivitas.
6. Berikan
aktivitas hiburan yang tepat contoh menonton TV, membaca, mendengarkan radio.
Rasional :
Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan koping.
Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan koping.
7. Awasi
terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati.
Rasional :
Rasional :
8. Menunjukkan
kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit, memerlukan istirahat lanjut, mengganti
program terapi.
9. Awasi
kadar enzim hati.
Rasional
:
Membantu menentukan kadar aktivitas yang tepat,
sebagai peningkatan prematur pada potensial resiko berulang.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik :
anoreksia, mual/muntah, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan :
penurunan peristaltik (refleks viseral), empedu tertahan.
Tujuan:
Menunjukkan
perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan/mempertahankan berat badan yang
sesuai.
Kriteria :
Kriteria :
Menunjukkan
peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan
bebas tanda malnutrisi.
Intervensi:
1. Awasi
pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makanan sedikit tapi sering dalam
frekuensi sering dan tawarkan makanan pagi paling besar.
Rasional :
Makanan banyak sulit mengatur bila pasien anoreksia.
Anoreksia juga paling buruk selama siang hari, membuat masukan makanan yang
sulit pada sore hari.
2. Berikan
perawatan mulut sebelum makan.
Rasional :
Rasional :
Menghilangkan rasa tidak enak, meningkatkan nafsu
makan.
2. Anjurkan
makan pada posisi duduk tegak.
Rasional
:
3. Menurunkan
rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan.
4.
Dorongan pemasukan sari jeruk, minuman karbohidrat dan
permen berat sepanjang hari.
Rasional :
Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih
mudah dicerna, toleran bila makanan lain tidak.
5.
Berikan obat sesuai indikasi : Vit. B Comp, tambahan
diet lain sesuai indikasi.
Rasional
:
Memperoleh kekurangan dan membantu proses penyembuhan.
6.
Konsul pada ahli diet. Dukungan tim nutrisi untuk
memberikan diet sesuai kebutuhan pasien dengan pemasukan lemak dan protein
sesuai toleransi.
Rasional
:
Berguna dalam membuat program diet memenuhi kebutuhan
individu. Metabolisme lemak bervariasi tergantung pada produksi pengeluaran
empedu dan perlunya pembatasan masukan lemak bila terjadi diare. Bila toleransi
pemasukan normal atau lebih protein akan membantu regenerasi hati. Pembatasan
protein diindikasikan pada penyakit berat karena akumulasi produk akhir protein
dapat mencetuskan hepati ensefalopati.
7.
Berikan tambahan makanan/nutrisi dukungan total bila
dibutuhkan.
Rasional
:
Mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan kalori bila
tanda kekurangan terjadi/gejala memanjang.
c. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan
berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan melalui muntah dan diare,
perpindahan area ketiga (acites), gangguan proses pembekuan.
Tujuan:
Mempertahankan hidrasi adekuat.
Kriteria
:
-
Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit normal, masukan
dan keluaran seimbang.
Tindakan
keperawatan
1. Awasi
masukan dan haluaran, bandingkan dengan berat badan harian, catat kehilangan
melalui usus, contoh muntah dan diare.
Rasional
:
Memberikan informasi tentang kebutuhan pengganti/efek
terapi.
2. Kaji
tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
Rasional
:
Indikator volume sirkulasi/perifer.
3. Periksa
acites atau pembentukan oedema, ukur lingkar abdomen sesuai indikasi.
Rasional
:
Menerangkan
kemungkingan perdarahan ke dalam jaringan.
4. Biarkan
pasien menggunakan lap katun/spon dan pembersih mulut untuk sikat gigi.
Rasional
:
Menghindari trauma dan perdarahan gusi.
5. Awasi
nilai laboratorium, contoh Hb/Ht, Na + albumin dan waktu pembekuan.
Rasional
:
Menunjukkan hidrasi dan mengidentifikasi retensi
natrium/kadar protein yang dapat menimbulkan pembentukan oedema.
6. Berikan
cairan IV, elektrolit.
Rasional
:
Memberikan cairan dan penggantian elektrolit.
8.
Protein hidrolisat : vitamin K
Rasional
:
Memperbaiki kekurangan albumin/protein dapat membantu
mengembalikan cairan dari jaringan ke sistem sirkulasi, mencegah masalah
koagulasi.
d. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan
gejala : Jengkel/ marah, terkurung/isolasi, sakit lama/periode penyembuhan.
Tujuan
:
Mengidentifikasi perasaan dan metode untuk koping
terhadap persepsi negatif.
Kriteria
:
-
Menyatakan penerimaan diri dan lamanya penyembuhan/
kebutuhan isolasi.
-
Mengakui diri sebagai orang tua yang berguna.
Tindakan
keperawatan
1. Kontrak
dengan pasien mengenai waktu untuk mendengar.
Rasional :
Rasional :
Penyediaan waktu meningkatkan hubungan saling percaya.
2. Dorong
diskusi perasaan/masalah
Rasional :
Kesempatan untuk mengekspresikan perasaan memungkinkan
pasien untuk merasa lebih mengontrol situasi. Pengungkapan menurunkan cemas dan
depresi memudahkan perilaku koping positif.
3. Hindari
membuat penilaian moral tentang pola hidup.
Rasional
:
Pasien merasa marah/kesal dan menyalahkan diri :
penilaian dari orang lain akan merusak harga diri lebih lanjut.
4. Diskusikan
harapan penyembuhan.
Rasional
:
Periode penyembuhan mungkin lama/potensial stres
keluarga/situasi dan memerlukan perencanaan, dukungan dan evaluasi.
5. Kaji
efek penyakit pada faktor ekonomi pasien/orang terdekat.
Rasional :
Rasional :
Masalah finansial dapat terjadi karena kehilangan
peran fungsi pasien pada keluarga/penyembuhan lama.
6. Tawarkan
aktivitas senggang berdasarkan tingkat energi.
Rasional :
Rasional :
Memampukan pasien untuk menggungkan waktu dan energi
pada cara konstruktif yang meningkatkan harga diri dan meminimalkan cemas dan
depresi.
7. Anjurkan
pasien menggunakan warna merah terang atau biru/hitam daripada kuning atau
hijau.
Rasional
:
Meningkatkan penampilan, karena kulit kuning
diperjelas oleh warna kuning/hijau. Ikterik biasanya memuncak dalam 1 – 2
minggu kemudian secara bertahap membaik lebih dari 2 – 4 minggu.
8. Buat
rujukan yang tepat untuk membantu, sesuai kebutuhan, contoh perencanaan pulang,
pelayanan masyarakat dan atau lembaga komunitas lain.
Rasional
:
Dapat memudahkan pemecahan masalah dan membantu melibatkan
individu untuk mengatasi masalah.
e.
Resiko
tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat
(contoh leukopenia, penekanan respon inflamasi) dan depresi imun, malnutrisi,
kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pada patogen.
Tujuan
:
Menyatakan pemahaman penyebab individu/faktor resiko.
Kriteria
:
Menunjukkan tekhnik; melakukan perubahan pola hidup
untuk menghindari infeksi ulang/transmisi ke orang lain.
Intervensi
:
1. Lakukan
teknik isolasi untuk infeksi enterik dan pernafasan sesuai kebijakan rumah
sakit; termasuk cuci tangan efektif.
Rasional
:
Mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain.
Melalui cuci tangan yang efektif dalam mencegah transmisi virus hepatitis.
2. Awasi/batasi
pengunjung sesuai indikasi.
Rasional
:
Pasien terpajan terhadap proses infeksi (khususnya
respiratorium) potensial resiko komplikasi sekunder).
3. Jelaskan
prosedur isolasi kepada pasien dan keluarga.
Rasional
:
Pamahaman alasan untuk perlindungan diri mereka
sendiri dan orang lain dapat mengurangi perasaan isolasi dan stigma.
4. Berikan
informasi tentang adalah pemberian vaksin hepatitis.
Rasional
:
Efektif dalam mencegah hepatitis virus pada orang lain
yang terpajan, tergantung tipe hepatitis dan periode inkubasi.
5. Berikan
obat sesuai indikasi : Obat antivirus : vidaralun, Interferon, Antibiotik.
Rasional
:
Obat antivirus berguna pada pengobatan hepatitis aktif
kronis, interferon efektif pada pengobatan penyakit hati sehubungan dengan HCV
dan antibiotik pengobatan hepatitis bakterial, atau untuk mencegah/membatasi
infeksi sekunder.
f.
Resiko
tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan zat
kimia, akumulasi garam empedu dalam jaringan.
Tujuan:
Menunjukkan jaringan kulit utuh, bebas ekskoriasi.
Kriteria :
Kriteria :
Melaporkan tidak ada/penurunan pruritus/lecet.
Tindakan keperawatan
1. Gunakan
air mandi dingin dan soda kue atau mandi kanji. Hindari sabun mandi alkali.
Rasional
:
Mencegah kulit kering berlebihan. Memberikan
penghilangan gatal.
2. Anjurkan
untuk menggunakan buku-buku jari untuk menggaruk rasa gatal, pertahankan kuku
pendek.
Rasional :
Rasional :
Menurunkan resiko cedera kulit.
3. Beri
massage pada waktu tidur.
Rasional
:
Bermanfaat dalam meningkatkan tidur dengan menurunkan
iritasi kulit.
4. Hindari
komentar tentang penampilan pasien.
Rasional :
Rasional :
Menimbulkan stres psikologik sehubungan dengan
perubahan kulit.
5. Berikan
obat sesuai indikasi; antihistamin contoh : metdilazin, difenhidramin.
Rasional :
Rasional :
Menghilangkan gatal, catatan : gunakan terus-menerus pada
penyakit hepatik hebat.
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan
kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak
mengenal sumber informasi ditandai dengan :
Data
subyektif : Pernyataan yang salah konsepsi.
Data
obyektif : Meminta informasi dan tidak akurat mengikuti instruksi.
Tujuan
Tujuan
Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan.
Kriteria
:
-
Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala penyakit dan
hubungan dan gejala dengan faktor penyebab.
-
Melakukan perubahan perilaku dan berpatisipasi pada
pengobatan.
Tindakan keperawatan
1. Kaji
tingkat pemahaman proses penyakit, harapan/prognosis, kemungkinan pilihan
pengobatan.
Rasional :
Mengidentifikasi area kekurangan/salah informasi dan
memberikan kesempatan untuk memberikan informasi tambahan yang sesuai
keperluan.
2. Berikan
informasi khusus tentang pencegahan/penularan penyakit.
Rasional :
Rasional :
Kebutuhan/rekomendasi akan bervariasi karena hepatitis
dan situasi individu.
3. Bantu
pasien mengidentifikasi aktivitas pengalih.
Rasional :
Rasional :
Aktivitas yang dapat dinikmati akan dapat membantu
menghindari pemusatan pada penyembuhan panjang.
4. Diskusikan
pembatasan donatur darah.
Rasional :
Rasional :
Mencegah penyebaran penyakit. Kebanyakan undang-undang
negara bagian menerima donor darah yang mempunyai riwayat berbagai tipe
hepatitis.
5. Tekankan
pentingnya mengevaluasi pemeriksaan fisik dan evaluasi laboratorium.
Rasional
:
Proses penyakit dapat memakai waktu berbulan-bulan
untuk membaik. Bila gejala ada lebih lama dari enam bulan. Biopsi hati
diperlukan untuk memastikan adanya hepatitis kronis.
6. Kaji
ulang perlunya menghindari alkohol selama 6 – 12 bulan minuman atau lebih lama
sesuai toleransi individu.
Rasional :
Rasional :
Meningkatkan iritasi hepatik dan mempengaruhi
pemulihan.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, ; alih bahasa, I Made Kariasa ; editor,
Monica Ester, Edisi 3, EGC ; Jakarta.
Doenges, Marilynn E, 1998, Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan, alih bahasa,
I Made Kariasa ; editor, setiawan. Edisi 2, EGC; Jakarta.
Ester, Monica.
2002 . Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Guyton, Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, ; editor, Irawati Setiawan, Edisi
9, EGC; Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, ;
alih bahasa,
Tjokronegoro, Arjatmo, 1998 Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Ketiga, Balai
Penerbit FKUI; Jakarta.
Inayah, Iin. 2004. Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Dengan Gangguan Sistem Pencernaan. Jakarta: Salemba Medika.
Oswari, 2006. Penyakit Dan Cara Penanggulangannya.
Jakarta: Gaya Baru
Mansjoer,
Arief, Dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Medikal Bedah
Brunner &Suddarth, Edisi 8, Vol 2. Jakarta : EGC
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Nn “K”
DIRUANGAN PERAWATAN DEWASA
RSUD SALEWANGAN MAROS
Tanggal
Masuk RS : 18 Oktober 2013
Tanggal
pengkajian : 18 Oktober 2013
Nomor
Register : 15 49 79
Diangnosa
Medis : Hepatitis
A. BIODATA
a. Identitas
Pasien
Nama : Nn “K”
Jenis
kelamin : Perempuan
Umur : 23 tahun
Agama
: Islam
Suku/bangsa : Bugis Makassar/Indonesia
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan : Mahasiswa
Nomor
askes : -
Penghasilan : -
Alamat : Tompo-Bulu-Maros
b. Identitas
Penanggung
Nama : Tn “J”
Jenis
kelamin : Laki-laki
Umur : 47 tahun
Agama
: Islam
Suku/bangsa : Bugis Makassar/Indonesia
Pendidikan
: Perguan tinggi
Pekerjaan : Swasta
Nomor
askes : -
Penghasilan : -
Hubungan
dgn Pasien : Ayah Pasien
Alamat : Tompo-Bulu-Maros
B. RIWAYAT KESEHATAN
a. Riwayat
kesehatan sekarang
1.
Keluhan Utama : Nyeri pada abdomen sebelah kanan
kuadran atas
2.
Riwayat keluhan utama:
a)
Faktor pencetus/penyebab: Virus hepatitis
b)
Sifat Keluhan : Nyeri hilang timbul
c)
Lokasi Keluhan : Abdomen kanan atas
d)
Mulai dan lamanya keluhan : Keluhan dirasakan 5 hari
sebelum Masuk RS disertai dengan mual
dan muntah.
3. Apakah
Keluhan bertambah / berkurang pada saat tertentu / memperberat atau meringankan
keluhan: Keluhan semakin bertambah pada saat dikaji, mulai berkurang setelah di
anjurkan untuk melakukan relaksasi napas dalam dan nyeri hilang timbul pada
saat bernapas panjang.
4. Hal-hal
yang memperberat atau meringankan keluhan : Nyeri dirasakan pada saat banyak
beraktifitas dan nyeri hilang pada saat beristrahat.
5. Keluhan
lain yang menyertai : Mual muntah, sakit kepala dan pusing.
6. Pertolongan/obat-obat
yang yang pernah diperoleh: belum pernah
mendapatkan pertolongan sebelum masuk RS.
b. Riwayat
kesehatan masa lalu
1. Apakah
Pernah menderitaa penyakit yang sama/lain ?: Tidak pernah, dan pasien
sebelumnya pernah menderita gastritis sejak 1 tahun yang lalu.
2.
Apakah pernah di rawat di Rumah Sakit ?: tidak pernah
3.
Apakah pernah menderita alergi ? : tidak pernah
4.
Kebiasaan :
-
Merokok : tidak pernah
-
Minum Alkohol : tidak pernah
-
Minum kopi : Pernah
-
Obat-obatan : Obat sakit kepala dan perut
c. Riwayat
kesehatan Keluarga
(Genogram 3 generasi)
|
?
|
|
?
|
|
?
|
|
?
|
|
?
|
|
?
|
|
?
|
|
?
|
|
?
|
|
?
|
|
?
|
Keterangan
:
Kesimpulan
:
G1
: Nenek dan kakek pasien sidah meninggal akarena faktor usia
G2
: Ayah dan ibu Pasien Masih hidup dan mereka tidak pernah memeiliki riwayat
penyakit seperti yang di alami oleh anaknya
G3
: Pasien Anak ke 6 dari 7 bersaudara, saudara-saudaranya yang lain tidak pernah
menderita penyakit seperti yang dialami pasien.
C.
PEMERIKSAAN
FISIK
1.
Keadaan umum : Lemah
2.
Kesadaran : Compos mentis
3.
Tanda-tanda vital : TD = 100/60 mmHg, (tensi meter) N=
80 x/menit (radialis) S= 36,5 cC, (aksila) dan P = 20 x/Menit (inspirasi pada hidung)
4.
Berat badan : 40 Kg
5.
Tinggi Badan : 150 cm
6.
Kepala
Inspeksi :
Keadaan rambut & Hygiene kepala: Bersih
a.
Warna rambut : Hitam
b.
Penyebaran : merata
c.
Mudah rontok : tidak
d.
Kebersihan rambut : bersih
Palpasi
:
Benjolan
: tidak ada
7.
Muka
Inspeksi :
a.
Simetris/ tidak : Simetris
b.
Bentuk wajah : Oval
c.
Gerakan abnormal : tidak ada gerakan abnormal pada
muka
d.
Ekspresi wajah : meringis dan sedih
Palpasi:
Nyeri
tekan : tidak terdapat nyeri tekan
8.
Mata
Inspeksi
a.
Palpebra : tidak ada odema dan radang
b.
Sclera : icterus
c.
Konjungtifa : tidak ada radang dan anemis
d.
Pupil : miosis. Ada reaksi pupil terhadap cahaya pupil
mengecil.
e.
Posisi mata : simetris
f.
Gerakan bola mata: dapat bergerak kesegala arah
g.
Penutupan kelopak mata: dapat menutup dengan rapat
h.
Keadaan bulu mata : melengkung keatas
i.
Keadaan Visus : 6/6
j.
Penglihatan : dapat melihat dengan normal
Palpasi
Tekanan
bola mata : terdapat tekanan pada saat di raba dengan kedua ibu jari.
9.
Hidung dan sinus
Inspeksi
a.
Posisi hidung : Simetris kanan/kiri
b.
Bentuk hidung : mancung
c.
Keadaan septum : lurus
d.
Secret/cairan :
tidak terdapat cairan atau secret
10.
Telinga
Inspeksi
a.
Posisi telinga : simetris kanan/kiri
b.
Ukuran/bentuk : sama besar
c.
Aurikel : tidak
ada jaringan parut dan padat.
d.
Lubang telinga : tidak ada polip
e.
Pemakaian alat bantu : tidak memakai alat bantu pendengaran
Pemeriksaan
uji pendengaran
a.
Uji pendegaran : uji bisikan dan detik jam dapat
mendengar
b.
Uji Rinner : tidak dilakukan
c.
Wibber : Tidak dilakukan
d.
Swabach: klien dapat mendengar sama seperti penguji
Pemeriksaan
vestibuler : tidak dilakukan
11.
Mulut
Inspeksi
a.
Keadaan Gigi : masih lengkap (32)
-
Karang gigi : tidak ada
-
Pemakaian gigi palsu : tidak ada
b.
Gusi : tidak meradang dan gusi merah
c.
Lidah : bersih
d.
Bibir :
-
Sianosis /pucat/tidak: tidak
-
Basah/kering/pecah: kering
-
Mulut : tidak berbau
-
Kemampuan bicara : dapat berbicara dengan jelas
12.
Tenggorokan
a.
Warna mukosa : merah
b.
Nyeri tekan : tidak ada
c.
Nyeri menelan : tidak ada
13.
Leher
Inspeksi
Kelenjar
tiroid : tidak membesar
Palpasi
a.
Kelenjar tiroid : tidak teraba
b.
Kaku kuduk : tidak ada
c.
Kelenjar limfe : tidak membesar
14.
Toraks dan pernapasan
a.
Bentuk dada : normochest
b.
Irama pernapasan : teratut
c.
Pengembangan diwaktu pernapasan : dada mengembang
sesuai irama pernapasan
d.
Tipe pernapasan : pernapasan dada
Palpasi
a.
Vokal fremitus : kanan lebih tinggi dari pada kiri
b.
Massa/ nyeri : tidak ada nyeri tekan
Auskultasi
a.
Suara napas : Vesikuler
b.
Suara tambahan : tidak ada
Perkusi
Redup/pekak/hipersonor/tympani:
resonan
15.
Jantung
Palpasi
Ictus cordis : teraba pada ICS 5 midclavikula kiri
Perkusi
Pekak pada area jantung
Tidak ada pembesaran jantung
Auskultasi
a.
BJ 1 : Murni pada ICS 4 – 5 sisi dada kiri
b.
BJ 2 : Murni pada ICS 2
c.
Tidak ada bunyi jantung tambahan
16.
Abdomen
Inspeksi
a.
Bentuk rerut : permukaan perut nampak datar
b.
Tidak ada luka maupun bekas luka operasi
Palpasi
a.
Hepar : tidak terdapat pembesaran pada hepar
b.
Lien : tidak ada pemebesaran
c.
Nyeri tekan : nyeri pada kuadran kanan atas
Auskultasi
Peristaltik
usus 8 x / menit
Perkusi
a. Tympani
: pada daerah lambung
b. Redup
: pada deerah hepar
17.
Genetalia dan anus : Tidak di kaji
18.
Ekstremitas
Ekstremitas atas
a.
Motorik
-
Pergerakan kanan/kiri :
Sesuai rentang gerak sendi
-
Pergerakan abnormal :
Tidal ada
-
Tonus otot kanan/kiri :
Baik
-
Koordinasi gerak :
Mengikuti perintah
b.
Refleks
-
Biseps kanan/kiri :
Fleksi pada ketukan
-
Triceps kanan/kiri :
Ekstensi pada ketukan
c.
Sensori
-
Nyeri : Dapat merasak nyeri saat diberi stimulus
-
Rangsang suhu : Dapat membedakan suhu panas dan dingin
-
Rasa raba : Dapat membedakan rabaan kasar dan halus
Data lain :
Nampak menekan abdomen
Ekstremitas
bawah
a.
Motorik
-
Gaya berjalan : Baik
-
Kekuatan kanan/kiri : 5/5
-
Tonus otot kanan /kiri : Baik
b.
Refleks
-
KPR kanan/kiri : Ekstensi pada ketukan
-
APR kanan/kiri : Plantar fleksi pada ketukan
-
Babinsky kanan/kiri : Positif
c.
Sensori
-
Nyeri : Dapat merasakan nyeri saat diberi stimulus
-
Rangsang suhu : Dapat menbedakan suhu panas dan dingin
-
Rasa raba : Dapat membedakan rabaan kasar dan halus
19.
Status Neurologi
Saraf- saraf
kranial
a.
Nervus I : Dapat membedakan bau
b.
Nervus II : Dapat membedakan objek yang diamati
c.
Nervus III,IV,VI
Dapat
menggerakkan bola mata kesegala arah
Kontraksi pupil
: Isokor saat menerima cahaya
Gerakan kelopak
mata : Dapat menutup dan membuka.
d.
Nervus V : Dapat merasakan usapan padadahi,
menggerakkan rahang atas dan bawah
e.
Nervus VII : Dapat merubah mimik
f.
Nervus VIII : Dapat mendengar
g.
Nervus IX & X : Reflek menelan baik ,reflek muntah
baik
h.
Nervus XI : Dapat memalingkan ke kiri dan kanan, mampu
mengangkat bahu
i.
Nervus XII : Dapat menggerakkan lidah ke segala arah
D.
PEMERIKSAAN
DIANOSTIK
SGOT
200 U/L
SGPT
624 U/L
HBs
Ag Negatif
Anti
HBs Positif
Anti
HCV Negatif
Bilirubin
total 5,7 mg/dl
Bilirubin
direk 3,4 mg/dl
WBC
5,7 x 103 U/L
RBC
5,06 X 103 U/L
HGB
13 g/dl
PLT
157 X 109 /L
Ureum
darah 15 mg/dl
Kreatinin
darah 0,4 mg/dl
PENGOBATAN
IVFD
Asering
Ketorolac
1 ampul /8 jam
Ranitidine
1 ampul/ 8 jam
Ondasentron
1 ampul/ 8 jam
HP
Pro 3 x1
Imox
2 x 1
E. POLA KEGIATAN SEHARI- HARI
1.
Nutrisi
a.
Kebiasaan
-
Pola makan :
Nasi ,Lauk pauk, sayur
-
Frekuensi :
3 x / hari
-
Nafsu makan :
Baik
-
Makanan pantangan :
Tidak ada
-
Makanan yang disukai :
Yang pedis
-
Banyak minum sehari :
2000 cc
b.
Perubahan selama sakit
-
Pola makan :
Nasi, Lauk pauk, Sayur
-
Frekuensi :
3x / hari, porsi makan tidak dihabiskan
-
Nafsu makan :
Kurang
-
Makanan pantangan :
Tidak ada
-
Banyak minum :
1500 cc
2. Eliminasi
BAK
a. Kebiasaan
-
Frekuensi :
4 – 5/ hari
-
Warna :
Kuning jernih
b. Perubahan
selama sakit
-
Frekuensi :
4 kali
-
Warna :
Kuning agak pekat
BAB
a. Kebiasaan
-
Frekuensi :
1 kali/hari
-
Warna :
Kuning
-
Konsistensi :
Lembek
b. Perubahan
selama sakit
-
Frekuensi :
1 kali/ hari
-
Warna :
Kuning
-
Konsistensi : lembek
3. Istirahat
dan tidur
a. Kebiasaan
-
Tidur malam jam 22.00 bangun jam 05.00
-
Tidur siang jam 14.00 bangun jam 15.00
b. Perubahan
selama sakit
-
Tidur malam
-
Tidur siang
Data
lain: klien masih terbaring di tempat tidur
4. Olah
raga dan aktifitas
-
Pasien jarang berolah raga
-
Olahraga yang disukai jalan santai
-
Aktifitas dan kebutuhan klien masih di bantu oleh
keluarga
5. Hygiene
a. Kebiasaan
-
Mandi :
2 kali/ hari menggunakan sabun
-
Keramas :
2 kali/hari menggunakan sampo
b. Perubahan
selama sakit
-
Mandi :
tidak perna
-
Keramas :
tidak pernah
F. POLA INTERAKSI SOSIAL
-
Orang yang
terdekat dengan pasien adalah ibu
-
Cara
mengatasi masalah dalam keluarga dengan musyawarah
-
Hubungan
dengan keluarga harmonis
G.
DATA
FOKUS
Data Subjketif
|
Data Objektif
|
-
Pasien mengatakan nyeri pada perut sebelah kanan
atas
-
Klien mengtakan nyeri hilang timbul
-
Pasien mengatakan kurang nafsu makan
-
Pasien mengatakan mual
-
Pasien mengatakan lemas
-
Pasien mengatakan masih tidak dapat melakukan
aktifitas sendiri.
-
Pasien masih mengatakan cepat lelah untuk
beraktifitas
-
Keluarga pasien mengatakan tidak menghabiskan porsi
makan yang disediakan
|
-
Nyeri tekan kuadran kanan atas
-
Nampak pasien memegang abdomen kanan atas
-
Nampak wajah pasien meringis
-
Kebutuhan ADL Pasien masih di bantu oleh
keluarga.
-
Nampak pasien masih terbaring di tempat tidur dan
belum banyak melakukan aktifitas
-
Nampak pasien mual dan muntah
-
Pasien tidak menghabiskan makanan yang disediakan
atau diet yg di anjurkan
-
Tanda-tanda Vital :
TD:
100/60 mmHg
N
: 80 / menit
P:
20 x / Menit
S
: 36,5 oC
|
H. ANALISA DATA
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
DS:
-
Pasien mengatakan sakit pada abdomen kuadran kanan
atas
-
Klien mengatakan nyeri hilang timbul
DO:
-
Nyeri tekan kuadran kanan atas
-
Nampak pasien memegang abdomen kanan atas
-
Nampak wajah pasien meringis
|
Inflamasi pada hepar
Perenggangan kapsula hati
Hepatomegali
Perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas
Pelepasan mediator kimia
Persepsi terhadap nyeri
Gangguan
rasa nyaman nyeri
|
Gangguan
rasa nyaman nyeri
|
DS:
-
Pasien mengatakan masih tidak dapat melakukan
aktifitas sendiri.
-
Pasien masih mengatakan cepat lelah untuk
beraktifitas
DO:
-
Kebutuhan ADL Pasien masih di bantu oleh
keluarga.
-
Nampak pasien masih terbaring di tempat tidur dan
belum banyak melakukan aktifitas
|
Glukogenesis menurun
Glikogen dalam hepar berkurang
Glikogenesis menurun
Glukosa dalam darah berkurang
Cepat lelah
Tidak bisa beraktifitas secara mandiri
Tonus otot menurun
Intoleransi
aktifitas
|
Intoleransi
aktifitas
|
DS:
-
Pasien mengatakan kurang nafsu makan
-
Pasien mengatakan mual
-
Keluarga pasien mengatakan tidak menghabiskan porsi
makan yang disediakan
DO:
-
Nampak pasien mual dan muntah
-
Pasien tidak menghabiskan makanan yang disediakan
atau diet yg di anjurkan
|
Perenggangan kapsula hati
Hepatomegali
Perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas
Anoreksia
Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhann
|
Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhann
|
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
No
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tanggal
ditemukan
|
Tanggal
teratasi
|
1
2
3
|
Gangguan rasa nyaman (nyeri)
berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan
bendungan vena porta.
Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum; penurunan kekuatan/ketahanan;
nyeri.
Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan
atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan
untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.
|
18
oktober 2013
18
oktober 2013
18
oktober 2013
|
19 oktober 2013
|
J.
RENCANA
KEPERAWATAN
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
Gangguan rasa nyaman (nyeri)
berhubungan dengan pembengkakan hepar dengan di tandai dengan:
DS:
-
Pasien mengatakan sakit pada abdomen kuadran kanan
atas
-
Klien mengatakan nyeri hilang timbul
DO:
-
Nyeri tekan kuadran kanan atas
-
Nampak pasien memegang abdomen kanan atas
-
Nampak wajah pasien meringis
|
Skala
neyeri dalam batas normal dengan kriteria hasil yang diharapkan :
- pasien tidak menunjukkan
tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan,
menangis intensitas dan lokasinya)
|
1. Kolaborasi dengan pasien untuk menentukan metode yang dapat digunakan
untuk intensitas nyeri
2. Tunjukkan pada pasien
penerimaan tentang respon pasien terhadap nyeri
- Akui adanya nyeri - Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan pasien tentang nyerinya
3. Berikan informasi akurat dan
- Jelaskan penyebab nyeri - Tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui
4. Bahas dengan dokter penggunaan
analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi
|
1.
Nyeri
yang berhubungan dengan hepatitis sangat tidak nyaman, oleh karena terdapat
peregangan secara kapsula hati, melalui pendekatan kepada individu yang
mengalami perubahan kenyamanan nyeri diharapkan lebih efektif mengurangi
nyeri.
2.
Untuk
lebih memudahkan penentuan intensitas nyeri dan memantau perkembangan nyeri
berdasarkan skala yang ditentukan, serta pasien mudah untuk mengungkapkan
perasaan nyeri yang dialaminya.
3.
Pasien
yang disiapkan untuk mengalami nyeri melalui penjelasan nyeri yang
sesungguhnya akan dirasakan (cenderung lebih tenang dibanding pasien yang
penjelasan kurang/tidak terdapat penjelasan)
4.
Kemungkinan
nyeri sudah tak bisa dibatasi dengan teknik untuk mengurangi nyeri.
|
2.
|
Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum; penurunan kekuatan/ketahanan;
nyeri.
|
Pasien
mampu beraktivitas kembali. dengan kriteria hasil :
-
Menyatakan pemahaman situasi/faktor risiko &
program pengobatan individu.
-
Menunjukkan tehnik/perilaku yang memampukan kembali
melakukan aktivitas.
-
Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi
aktivitas.
|
1. Tingkatkan
tirah baring/duduk, berikan lingkungan tenang.
2. Ubah
posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
3. Lakukan
tugas dengan cepat & sesuai toleransi.
4. Tingkatkan
aktivitas sesuai toleransi. Bantu melakukan latihan rentang gerak sendi
pasif/aktif.
5. Awasi
terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati.
|
1. Meningkatkan
istirahat & ketenangan menyediakan energi yang digunakan untuk
penyembuhan. Aktivitas dan posisi duduk tegak diyakini menurunkan aliran
darah ke kaki, yang mencegah sirkulasi optimal ke sel hati.
2. Meningkatkan
fungsi pernapasan & meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk
menurunkan risiko kerusakan jaringan.
3. Memungkinkan
periode tambahan istirahat tanpa gangguan.
4. Tirah
baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan
aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
5. Menunjukkan
kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit, memerlukan istirahat lanjut,
mengganti program terapi.
|
4.
|
Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan
atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan
untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.
|
Kebutuhan
nutrisi terpenuhi. Dengan Kriteria
Hasil : - Menunjukkan
perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan/mempertahankan berat badan
yang sesuai.
-
Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai Lab. normal
& bebas tanda malnutrisi
Hasil yang diharapkan :
Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium
normal dan bebas dari tanda-tanda mal nutrisi.
|
1. Ajarkan dan bantu pasien untuk
istirahat sebelum makan.
2. Awasi pemasukan diet/jumlah
kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering
3. Pertahankan hygiene mulut yang
baik sebelum makan dan sesudah makan
4. Anjurkan makan pada posisi
duduk tegak
5. Berikan diit tinggi kalori,
rendah lemak sehingga akan membebani hepar.
|
1. Keletihan berlanjut menurunkan
keinginan untuk makan
2. Adanya pembesaran hepar dapat
menekan saluran gastro intestinal dan menurunkan kapasitasnya.
3. Akumulasi partikel makanan di
mulut dapat menambah baru dan rasa tak sedap yang menurunkan nafsu makan.
4. Menurunkan rasa penuh pada
abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan
5. Glukosa dalam karbohidrat cukup
efektif untuk pemenuhan energi, sedangkan lemak sulit untuk
diserap/dimetabolism
|
K.
IMPLEMENTASI
DAN EVALUASI
No.
|
Hari/tanggal
|
No. Dx
|
Jam
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
1.
|
18
oktober 2013
|
I
|
09.
36
10.27
10.32
10.38
9.
|
1. Mengkolaborasi dengan individu
untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
Hasil :
Pasien memilih kompres untuk
membantu meredakan nyeri yang dialaminya.
2. Menunjukkan pada pasien
penerimaan tentang respon pasien terhadap nyeri, Akui adanya nyeri,
dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan pasien tentang nyerinya
Hasil :
Pasien nampak senang karena
perawat mendengarkan ungkapan perasaannya terkait nyeri yang dialami.
3. Memberikan informasi akurat dan
menjelaskan penyebab nyeri, menunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila
diketahui
Hasil :
Nampak pasien mendengarkan
dengan seksama dan mampu memahami penyebab dari nyeri yang dialaminya.
4. Membahas dengan dokter
penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi
Hasil :
Dokter meresepkan obat
|
S
: pasien mengatakan nyeri pada abdomen sebelah kanan atas.
O
: Nampak pasien memegang abdomen.
A
: masalah belum teratasi
P
: lanjutkan intervensi:
1. Mengkolaborasi dengan individu
untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
2. Menunjukkan pada pasien
penerimaan tentang respon pasien terhadap nyeri, Akui adanya nyeri,
dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan pasien tentang nyerinya
3. Membahas dengan dokter
penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi
|
2.
|
18
oktober 2013
|
II
|
08.45
09.25
09.26
11.15
13.00
|
1. Meningkatkan
tirah baring/duduk, berikan lingkungan tenang.
Hasil
:
Nampak
pasien beristirahat dengan tenang.
2. Mengubah
posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
Hasil
:
Posisi
pasien berubah setiap 2 jam sesuai indikasi, untuk mencegah terjadinya
dekubitus.
3. Melakukan
tugas dengan cepat & sesuai toleransi.
Hasil
:
Pasien
nampak melakukan aktifitas dengan cepat dan sesuai toleransi
4. Meningkatkan
aktivitas sesuai toleransi. Bantu melakukan latihan rentang gerak sendi
pasif/aktif.
Hasil
:
Pasien
melakukan ROM sesuai dengan yang dianjutkan.
5. Mengawasi
terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati.
Hasil
:
Setiap
2 jam dilakukan observasi tingkat nyeri yang dialami oleh pasien.
|
S
:
-
Pasien mengatakan lemah
-
Pasien mengatakan masih tidak dapat melakukan
aktifitas sendiri.
O
:
-
Nampak pasien masih berbaring di tempat tidur
-
Kebutuhan ADL Pasien masih di bantu oleh
keluarga.
A
: Masalah belum teratasi
P
: Lanjutkan intervensi : 1, 2 & 4
1. Meningkatkan
tirah baring/duduk, berikan lingkungan tenang
2. Mengubah
posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
3. Meningkatkan
aktivitas sesuai toleransi. Bantu melakukan latihan rentang gerak sendi
pasif/aktif.
|
3.
|
18
oktober 2013
|
09.
35
09.
42
11.
42
12.08
12.40
|
1. Mengajarkan dan bantu pasien
untuk istirahat sebelum makan.
Hasil :
Pasien nampak mengikuti anjuran
perawat untuk istrahat sebelum makan.
2. Mengawasi pemasukan diet/jumlah
kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
Hasil :
Nampak pasien makan sesuai yang
dianjurkan, sedikit tapi sering.
3. Mempertahankan hygiene mulut
yang baik sebelum makan dan sesudah makan
Hasil :
Nampak pasien merawat hygien
mulunnya.
4. Menganjurkan makan pada posisi
duduk tegak
Hasil :
Pasien nampak makan dengan
posisi duduk tegak (high fowler)
5. Memberikan diit tinggi kalori,
rendah lemak sehingga akan membebani hepar
Hasil :
Pasien nampak mengurangi
mengkonsumsi asupan makanan rendah kalori
|
S
:
-
pasien mengatakan kurang nafsu makan.
-
Keeluarga pasien mengatakan tidak menghabiskan porsi
makan yang disediakan
O
:
-
Nampak pasien masih mual dan muntah
-
Pasien tidak menghabiskan makanan yang disediakan
atau diet yg di anjurkan
A
: Masalah belum teratasi
P
: Lanjutkan intervensi 2, 3 & 5
1. mengawasi pemasukan diet/jumlah
kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
2. Mempertahankan hygiene mulut
yang baik sebelum makan dan sesudah makan
3. Memberikan diit tinggi kalori,
rendah lemak sehingga akan membebani hepar.
|
|
1
|
19
oktober 2013
|
08.
30
08.49
09.15
10.
|
1. Mengkolaborasi dengan individu
untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri.
Hasil :
Pasien memilih relaksasi untuk
menghilangkan nyeri
2.
Menunjukkan
pada pasien penerimaan tentang respon pasien terhadap nyeri, Akui
adanya nyeri, dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan pasien tentang
nyerinya
Hasil :
Pasien nampak senang karena
perawat mendengarkan ungkapan perasaannya terkait nyeri yang dialami.
3. Membahas dengan dokter
penggunaan analgetik yang tidak mengandung efek hepatotoksi
Hasil :
Dokter meresepkan obat
|
S
: pasien mengatakan nyeri pada abdomen sebelah kanan atas mulai berkurang.
O
: klien tidak lagi memegang abdomenya
A
: masalah mulai teratasi
P
: lanjutkan intervensi: 1 dan 3
1. Mengkolaborasi dengan individu
untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
2. Membahas dengan dokter
penggunaan analgetik yang tidak mengandung efek hepatotoksi
|
|
2
|
19
oktober 2013
|
09.15
09.20
09.40
|
1. Meningkatkan
tirah baring/duduk, berikan lingkungan tenang.
Hasil
:
Nampak
pasien duduk di tempat tidur.
2. Mengubah
posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
Hasil
:
Posisi
pasien berubah setiap 2 jam sesuai indikasi, untuk mencegah terjadinya
dekubitus.
3. Meningkatkan
aktivitas sesuai toleransi. Bantu melakukan latihan rentang gerak sendi
pasif/aktif.
Hasil
:
Pasien
melakukan ROM sesuai dengan yang dianjutkan.
|
S
:
-
Pasien mengatakan mulai kuat untuk beraktifitas
-
Pasien mengatakan dapat melakukan aktifitas sendiri.
O
:
-
Nampak pasien duduk di atas tempat tidur
-
Kebutuhan ADL Pasien tidak lagi di bantu oleh
keluarga.
A
: Masalah teratasi
P
: intervensi di pertahankan
|
|
3
|
19
oktober 2013
|
10.
35
11.
15
12.
50
|
1. Mengawasi pemasukan diet/jumlah
kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
Hasil :
Nampak pasien makan sesuai yang
dianjurkan, sedikit tapi sering.
2. Mempertahankan hygiene mulut
yang baik sebelum makan dan sesudah makan
Hasil :
Nampak pasien merawat hygiene mulutnya
dengan menggosok giginya
3. memberikan diit tinggi kalori,
rendah lemak sehingga akan membebani hepar
Hasil :
Pasien nampak mengurangi
mengkonsumsi asupan makanan rendah kalori.
|
S
:
-
pasien masih mengatakan kurang nafsu makan.
-
Keluarga pasien mengatakan tidak menghabiskan porsi
makan yang disediakan
O
:
Pasien
tidak menghabiskan makanan yang disediakan atau diet yg di anjurkan
A
: Masalah belum teratasi
P
: Lanjutkan intervensi 1, 2 & 3
1. mengawasi pemasukan diet/jumlah
kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
2. mempertahankan hygiene mulut
yang baik sebelum makan dan sesudah makan
3. Memberikan diit tinggi kalori,
rendah lemak sehingga akan membebani hepar
|
|
1
|
20
oktober 2013
|
09.
30
09.35
11.
|
1. Mengkolaborasi dengan individu
untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri.
Hasil :
Pasien memilih relaksasi untuk menghilangkan
nyeri
2. Membahas dengan dokter
penggunaan analgetik yang tidak mengandung efek hepatotoksi
Hasil :
Dokter meresepkan obat
|
S
: pasien mengatakan nyeri pada abdomen sebelah kanan atas mulai berkurang.
O
: klien tidak lagi memegang abdomenya
A
: masalah mulai teratasi
P
: lanjutkan intervensi: 1 dan 3
1. Mengkolaborasi dengan individu
untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
2. Membahas dengan dokter
penggunaan analgetik yang tidak mengandung efek hepatotoksi
|
|
3
|
20
oktober 2013
|
11.
35
12.00
12.
45
|
1. Mengawasi pemasukan diet/jumlah
kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
Hasil :
Nampak pasien makan sesuai yang
dianjurkan, sedikit tapi sering.
2. Mempertahankan hygiene mulut
yang baik sebelum makan dan sesudah makan
Hasil :
Nampak pasien merawat hygiene
mulutnya dengan menggosok gigi sesudah makan
3. memberikan diit tinggi kalori,
rendah lemak sehingga akan membebani hepar
Hasil :
Pasien nampak mengurangi
mengkonsumsi asupan makanan rendah kalori.
|
S
:
-
pasien mengatakan nafsu makan mulai membaik
-
Keluarga pasien mengatakan tidak menghabiskan porsi
makan yang disediakan
O
:
Pasien
tidak menghabiskan makanan yang disediakan atau diet yg di anjurkan
A
: Masalah mulai teratasi teratasi
P
: Lanjutkan intervensi 1 & 3
1. mengawasi pemasukan diet/jumlah
kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
2. Memberikan diit tinggi kalori,
rendah lemak sehingga akan membebani hepar
|
BAB III
KESIMPULAN dan SARAN
a.
KESIMPULAN
1. Hepatitis adalah suatu penyakit peradangan pada
jaringan hati yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyebabkan sel sel hati
mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
2. Hepatitis terdiri dari beberap jenis, yaitu :
§ Hepatitis A
§ Hepatitis B
§ Hepatitis C
§ Hepatitis D
§ Hepatitis E
§ Kemungkinan hepatitis F dan G
3. Virus-virus yang menyebabkan hepatitis dapat
menyebabkan cedera dan kematian hepatosit dengan secara langsung membunuh sel
dan dengan merangsang reaksi peradangan dan imun yang mencederai atau
menghancurkan hepatosit. Reaksi peradangan melibatkan degranulasi sel mast dan
pelepasan histamin, pengaktivan komplemen, lisis sel-sel yang terinfeksi dan
sel-sel di sekitarnya, serta edema dan pembengkakan interstisium. Respon imun
yang timbul kemidian mendukung respon peradangan. Perangsangan komplemen dan
lisis sel serta serangan antibodi langsung terhadap antigen-antigen virus
menyebabkan destruksi sel-sel yang terinfeksi. Hati menjadi edematosa sehingga
kapiler-kapiler kolaps dan aliran darah berkurang yang menyebabkan hipoksia
jaringan, akhirnya terbentuk jaringan ikat dan fibrosis dihati.
4. Semua hepatitis Virus mempunyai gejala yang hampir
sama, sehingga secara klinis hampir tidak mungkin dibedakan satu sama lain.
5. Terdapat tiga stadium pada semua jenis hepatitis yaitu
:
1)
Stadium prodromal
2)
Stadium ikterus
3)
Stadium pemulihan
4)
Pencegahan terhadap hepatitis virus ini adalah sangat
penting karena sampai saat ini belum
ada obat yang dapat membunuh virus, sehingga
satu-satunya jalan untuk mencegah
hepatitis virus adalah dengan vaksinasi.
b.
SARAN
Adapaun saran setelah
memberikan asuhan keperawatan pada Nn “K” yaitu :
1.
Diharapakan kepada measyarakat lebih memperhatikan
kesehatan untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan dalam keluarga.
2.
Selalu periksa kesehatan atau vaksinasi jika sudah
terjangkit penyakit hepatitis
3.
Selalu meningkatkan mutu kesehatan dalam masyarakat
melalalui pelaksanaan upaya meningkatkan kebersihan lingkungan untuk mencegah
timbulnya peenyakit tertentu dalam keluarga dan masyarakat.
PATWAYS
Hipertermi Inflamasi pada hepar peregangan kapsula hati
Gangguan suplei darah normal
pada sel-sel hepar
Kerusakan sel parenkim, sel hati dan
duktulii empedu
intrachepatik
kerusakan sel parenkim. Sel hati dan
duktuli empedu inrahepatik
obstruksi
kerusakan konjungasi
kerusakan sel eskresik
retensi bilirubin
terimakasih buat artikelnya.. informasi yang sangat bermanfaat..
BalasHapushttp://tokoonlineobat.com/obat-penyakit-kanker-hati-alami/